Mahasiswa Ilmu Komunikasi telah dibekali dengan berbagai teori tentang keterbukaan, penyelesaian konflik, dan komunikasi dua arah untuk membangun hubungan yang sehat. Namun, dalam praktiknya, fenomena silent treatment justru masih sering ditemukan sebagai respon ketika menghadapi konflik. Kebiasaan diam ini dianggap sebagai bentuk komunikasi pasif yang tidak menyelesaikan masalah, bahkan berpotensi memperpanjang ketegangan dan menciptakan kebingungan emosional. Pola komunikasi digital, tekanan emosional, serta tantangan dalam menerapkan teori ke dalam praktik, menjadi faktor yang mendorong mahasiswa lebih memilih diam.
Ilmu komunikasi mengajarkan pentingnya keterbukaan, penyelesaian konflik, dan empati. Namun ironisnya, di lingkungan mahasiswa ilmu komunikasi sendiri, silent treatment justru menjadi pilihan dalam menghadapi konflik. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar, mengapa mereka yang belajar tentang komunikasi justru memilih diam?
Di balik semangat mahasiswa ilmu komunikasi untuk menjadi komunikator yang efektif, tersimpan sebuah ironi. Meskipun mereka telah mempelajari berbagai teori tentang komunikasi antarpribadi, penyelesaian konflik, serta pentingnya interaksi dua arah, tetapi dalam praktiknya, silent treatment justru kerap dipilih saat konflik muncul. Silent treatment sendiri merupakan perilaku diam dan sengaja mengabaikan orang lain sebagai bentuk respon terhadap konflik, kekecewaan, atau kemarahan.
Tidak bisa dipungkiri masih banyak mahasiswa komunikasi yang melakukan silent treatment, beberapa diantara mereka mengaku memilih diam bukan karena tidak tahu cara berkomunikasi, tetapi karena takut menyakiti orang lain atau merasa tidak siap menghadapi konflik secara langsung. Dalam kondisi emosional yang tinggi, diam dianggap sebagai cara paling aman. Sayangnya, strategi ini justru memperpanjang ketegangan dan menciptakan kebingungan bagi lawan bicara.
Seperti yang dialami Kimberly Rotua, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang pernah berada di posisi ganda dalam konflik, baik sebagai pelaku dan juga korban silent treatment. Ia mengaku, diam terkadang dianggap lebih aman dibanding menyampaikan emosi secara terbuka.
“Terkadang saya diam karena butuh waktu untuk menenangkan diri. Namun, saya juga pernah jadi korban, yang merasa bingung karena lawan bicara tidak ingin bicara apa-apa. Rasanya seperti digantung dan tidak enak sekali,” ungkapnya saat diwawancarai oleh LPM Orange lewat WhatsApp (08/07/2025).
Menurutnya, banyak mahasiswa Ilmu Komunikasi yang memilih diam karena bingung bagaimana menyampaikan perasaan dengan benar atau karena takut konflik semakin membesar. Silent treatment menjadi jalan tengah yang terlihat aman, padahal sering kali justru memperumit keadaan. Walau telah dibekali teori komunikasi antarpribadi, Kimberly merasa praktiknya tidak sesederhana yang diajarkan di ruang kelas.
“Tantangannya itu emosi. Kita tahu ilmunya, teorinya juga paham, tetapi ketika sudah terjebak konflik, yang keluar duluan justru emosinya. Belum lagi kalau lawan bicaranya tidak mengerti cara komunikasi yang sehat. Jadi, kadang kita seperti bicara sendiri,” jelasnya.
Meski demikian, kimberly menganggap silent treatment sebagai bentuk komunikasi pasif yang dapat berbahaya apabila tidak disertai dengan penjelasan. Diam tetap dipandang sebagai ungkapan pesan, meskipun tanpa kata-kata yang terucap. Cara ini sering digunakan untuk mengungkapkan rasa kecewa, marah, atau keinginan untuk didengar. Namun, penggunaan silent treatment berisiko memunculkan kesalahpahaman.
Meskipun sudah mempelajari berbagai teori komunikasi, pengetahuan mereka tentang komunikasi tidak serta-merta membuat mereka selalu siap berbicara saat konflik datang.
Fenomena silent treatment ini juga mendapat perhatian dari Nia Kania Kurniawati, dosen mata kuliah Komunikasi Antarpribadi Untirta. Ia menilai bahwa kebiasaan diam ini mencerminkan pola komunikasi generasi muda yang sudah terbiasa hidup dalam interaksi termediasi.
“Anak-anak sekarang terbiasa menjadi penonton. Mereka lebih sering melihat, tetapi jarang merespons secara langsung. Ketika harus berhadapan langsung dengan orang lain, mereka jadi malas, bahkan takut berbicara,” ujar Nia ketika diwawancarai oleh LPM Orange melalui Google Meet (10/07/2025).
Menurut Nia, gaya hidup yang dipenuhi interaksi lewat media sosial, chat, atau video call membuat mahasiswa kehilangan kebiasaan membangun komunikasi tatap muka yang sehat. Akibatnya, ketika konflik muncul, banyak yang lebih memilih diam sebagai bentuk ekspresi.
Padahal dalam konteks komunikasi antarpribadi, silent treatment bukanlah solusi. Diam yang dilakukan secara sengaja untuk mengabaikan orang lain tidak hanya memperpanjang konflik, tetapi juga bisa menjadi bentuk manipulasi yang membingungkan lawan bicara. “Diam itu simbol, tetapi bisa diartikan macam-macam. Kita nggak tahu dia marah, kecewa, atau ingin memberi ruang. Akhirnya lawan bicaranya bingung sendiri,” jelas Nia.
Meskipun telah mempelajari berbagai teori komunikasi, pengetahuan tersebut tidak serta-merta membuat mahasiswa selalu siap untuk berbicara saat menghadapi konflik. Akibatnya, banyak dari mereka yang justru memilih diam sebagai cara untuk menghindari pertikaian dan menjaga hubungan agar tidak semakin rusak. Sayangnya, kondisi ini sering kali diabaikan. Padahal, menurut Nia, konflik yang tidak diselesaikan melalui komunikasi terbuka justru akan terpendam dan berpotensi menjadi bom waktu.
Sebagai pengajar, Nia berharap mahasiswa dapat lebih berani mempraktikkan ilmu komunikasi yang telah mereka pelajari. Ia mengingatkan bahwa silent treatment termasuk dalam ciri red flag dalam hubungan interpersonal. Ia juga mengatakan Silent is Gold, But Silent Treatment is Not Golden, yang artinya diam itu emas, tapi silent treatment bukanlah hal yang bagus untuk dilakukan. Kebiasaan Silent Treatment tidak hanya menandakan masalah dalam komunikasi, tetapi juga bisa berpengaruh pada kesehatan emosional jangka panjang.
Silent treatment mungkin terasa aman, tetapi tidak dapat menjadi solusi. Melalui komunikasi yang jujur dan terbuka, luka bisa disembuhkan, dan konflik bisa dijembatani. Sejatinya, keberanian untuk bicara adalah bentuk tertinggi dari kepedulian.
Penulis: Nadira Zahra Alifa
Editor: Muthia Zahra