Source: Pinterest
Indonesia adalah negara yang dibaluti dengan berbagai kekayaan alam dan budaya, negara yang mampu menunjukkan pesonanya lewat keragaman budaya. Memiliki banyak daerah yang terpisah dengan daratan dan pulau membuat Indonesia ramai akan tarian tradisional. Namun, tarian tersebut bukan hanya sakadar tarian biasa. Setiap tarian menggambarkan seni dan makna dari daerah itu sendiri, sehingga generasi penerus bangsa maupun pengunjung bisa menikmati dan mengetahui keunikan tempat yang sedang mereka kunjungi.
Nusa Tenggara Timur (NTT) ikut melengkapi budaya Indonesia dengan tarian tradisionalnya yang menggambarkan pertobatan dalam kehidupan manusia, yaitu Tari Caci. Tari perang yang dipersembahkan dalam bentuk tarian ini tentunya sarat akan makna yang mendalam. Nama caci berasal dari dua suku kata, yaitu “Ca” yang berarti satu dan “Ci” yang berarti uji. Dua kata tersebut tergabung menjadi Caci yang artinya ujian satu melawan satu, menjadikan setiap gerakannya sebagai simbol pengujian ketangguhan, keberanian, dan keperkasaan.
Lalu, kapan tarian ini dipertunjukkan? Tari Caci biasanya dipentaskan pada perayaan tahun baru, upacara syukuran panen (hang woja), pembukaan lahan baru, penyambutan tamu penting, Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI, dan berbagai ritual adat besar lainnya. Tari Caci bisa diikuti oleh sepasang penari laki-laki dengan usia 25-50 tahun, tetapi usia lebih dari 50 tahun juga masih bisa bergabung!
Biasanya Tari Caci dimainkan oleh dua kelompok, yaitu kelompok tuan rumah yang disebut ata one yang akan melawan kelompok tamu yang datang dari desa lain, dikenal sebagai ata pe’ang atau meka landang, yang berarti tamu pendatang. Mereka menggunakan cambuk untuk melawan dan perisai untuk bertahan. Tari ini menjadi unik karena kedua penarik bukan hanya sakadar melawan, tetapi mereka juga berpantun dan bernyanyi, hal tersebut bertujuan untuk menantang lawan.
Dalam tari caci, para pemain hanya diperbolehkan menyerang tubuh lawan dari pinggang ke atas. Bagian tubuh di bawah pinggang ditandai dengan kain yang menjuntai, menandakan area tersebut tidak boleh dipukul. Jika begitu, area mana saja yang diperbolehkan untuk dipukul? Area yang boleh dipukul meliputi punggung, dada, dan lengan, termasuk mata yang menjadi target cambukan lawan. Meskipun, risiko dalam tarian ini adalah luka-luka di tubuh penari, tetapi mereka tidak menganggap hal tersebut menjadi masalah, mereka menari karena sedang melestarikan kekayaan tarian Indonesia. Kemudian, seorang pemain dianggap kalah ketika ujung cambuk yang dilengkapi dengan kulit tipis kerbau mengenai matanya.
Setiap tarian yang menggambarkan budaya harus tetap dilestarikan oleh penerus bangsa. Mari kita terus mencari keindahan dan kekayaan yang tersimpan dalam tarian tradisional Indonesia, dan teruslah mempelajarinya untuk mewariskannya kepada generasi mendatang!
Referensi Berita: KOMPAS.com
Penulis: Nadya Bella Arthamevira
Editor: Nawal Najiya