Bagaimana Mahasiswa Untirta Melihat Fenomena War Takjil, Sebagai Unjuk Toleransi?

Doc : Orange

Serang – Pada bulan Ramadhan kegiatan membeli makanan buka puasa atau yang dikenal dengan istilah takjil menjadi budaya yang dilakukan kaum muslimin, tetapi saat ini muncul  fenomena “War Takjil” yang turut serta di meriahkan oleh umat beragama lainnya, tak terkecuali dengan mahasiswa Untirta yang turut serta mengikuti tren tersebut.

Menanggapi fenomena war takjil yang diminati bukan hanya kaum muslimin saja melainkan kaum non muslim juga ikut membelinya, Dosen program studi Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Wahid Abdul Kudus, mengatakan bahwa dari fenomena tersebut bisa menjadi moderasi dalam beragama.

“Fenomena ini bukan semata toleransi melainkan moderasi beragama sebagai realitas di masyarakat tanpa menimbulkan konflik,” ucapnya (25/03/2024).

Fenomena war takjil menjadi trending karena persaingan lelucon diantara para umat beragama lain yang sama sama ingin menikmati takjil, pasalnya ada beberapa takjil yang hanya dapat ditemukan pada bulan Ramadhan saja, dan ketika siang hari warung makan tutup sehingga Mahasiswa pemeluk agama lain ikut ikut berburu takjil di sore hari, seperti yang dikatakan oleh Lee Vincent, Mahasiswa Untirta Jurusan Ilmu Komunikasi 2022 salah satu mahasiswa yang tak ikut puasa namun sering kali ikut berburu takjil.

“Kadang emang karena pengen ngerasain sensasi atau hypenya apalagi kalo bareng temen-temen. Kadang juga karena emang pengen beli produk yang hanya ada di bulan ramadhan aja, biasanya kaya kolak, es manohara gitu-gitu. Nah, bisa juga ya sebenernya karena yang tadi , sebelumnya gada tukang makanan yg buka, jadi ketika udah buka ya langsung beli. Laper” ungkap Lee Vincent (24/03/2024).

Felicia Natasha Dagali salah satu mahasiswi Untirta jurusan Ilmu Hukum 2021 mengatakan bahwa  ia pun turut serta bersemangat untuk bisa menikmati takjil selama bulan Ramadhan karena banyak sekali variasi jajanan yang dapat ditemukan ketika bulan Ramadhan tiba.

“Saya pernah turut serta membeli takjil ketika sore hari, karena tentunya war takjil ini sangat membuat saya bersemangat dikarenakan banyaknya pilihan makanan maupun jajanan yang tersedia, mencari dan membeli takjil pun bisa dimana saja karena selama bulan ramadhan banyak sekali penjual yang berdagang baik dipinggir jalan maupun tempat berjualan lainnya” ungkap Felis (24/03/2024).

Perbincangan mengenai war takjil ditanggapi dengan saling melempar guyonan antar umat beragama yang berpuasa ataupun tidak berpuasa ,hal tersebut menjadi contoh nyata bahwa hadirnya fenomena war takjil  mencerminkan adanya toleransi dan solidaritas, Adzka Ratu Anissa yang merupakan mahasiswa jurusan Perikanan 2022, mengaku takjub dengan adanya fenomena tersebut karena hal tersebut dapat menumbuhkan rasa toleransi antar umat beragama.

“Pandanganku takjub sekali, karena fenomena war takjil ini bisa dapat memperkuat toleransi antar umat beragama serta dapat berpengaruh hasilnya juga terhadap pedagang” ujarnya (24/03/2024).

Pedagang yang berjualan takjil pun terkena dampak positifnya dari fenomena yang sedang terjadi di bulan Ramadhan ini, pasalnya dari adanya fenomena war takjil Ibu Imah selaku penjual takjil di pinggir jalan raya Pakupatan mengatakan bahwa penjualan makanan untuk berbuka puasa yang ia jual hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam untuk habis.

“biasanya buka jam setengah 5 paling juga abis maghrib udah tutup” ujar Ima (25/03/2024).

Penulis: Malica Syifa

Editor: Ira