Menilik tragedi Salim Kancil bukan hanya soal pembunuhan seorang petani, melainkan juga cerminan dari pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi dalam konflik agraria di Indonesia. Perjuangannya menyoroti betapa rentannya posisi rakyat kecil ketika berhadapan dengan kekuatan besar yang sering kali mengabaikan hak-hak dasar manusia demi keuntungan ekonomi. Hak atas tanah, hak untuk hidup bebas dari ancaman, dan hak untuk bersuara dalam mempertahankan lingkungan yang sehat, semuanya dipertaruhkan dalam konflik ini.
Kisah ini dimulai dari sebuah desa kecil di Lumajang, Jawa Timur. Nama Salim Kancil dikenang sebagai sosok yang berani berdiri melawan ketidakadilan. Salim, seorang petani sederhana, tidak pernah membayangkan bahwa keinginannya untuk melindungi lingkungan dan tanah kelahirannya akan membawanya pada akhir hidup yang tragis. Namun, perjuangannya yang gigih telah menjadikannya simbol perlawanan rakyat kecil dalam menghadapi eksploitasi sumber daya alam yang mengancam hak-hak mereka.
Pada September 2015, Salim Kancil dibunuh dengan keji oleh sekelompok orang yang diduga terkait dengan bisnis tambang pasir ilegal di desanya. Salim bersama rekan-rekannya menolak aktivitas tambang pasir yang tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup masyarakat desa yang bergantung pada lahan pertanian.
Perlawanan Salim Kancil dan warga lainnya terhadap tambang pasir dilandasi oleh rasa cinta pada tanah kelahiran dan keinginan untuk mempertahankan hak atas lingkungan. Namun, langkah mereka untuk menuntut keadilan justru dibalas dengan ancaman dan kekerasan. Hari itu, 26 September 2015, menjadi saksi bisu dari hilangnya nyawa seorang pejuang yang tak gentar melawan ketidakadilan. Tubuh Salim ditemukan dengan luka-luka bekas penganiayaan, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat yang telah lama berjuang bersamanya.
Pasca pembunuhan Salim Kancil, kasus ini mendapatkan perhatian luas. Banyak pihak mengecam tindakan keji tersebut dan menuntut keadilan bagi Salim dan masyarakat yang terus memperjuangkan hak-haknya. Pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman bagi para pelaku, termasuk kepala desa setempat, tetapi rasa keadilan yang diharapkan masyarakat tidak sepenuhnya terpenuhi. Kasus ini masih menyisakan luka dan menjadi pengingat betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk mempertahankan HAM di tingkat akar rumput.
Kini, nama Salim Kancil telah menjadi inspirasi bagi banyak pejuang HAM lainnya. Meski raganya telah tiada, semangat perjuangannya tetap hidup dalam setiap langkah warga yang melawan ketidakadilan dan mempertahankan hak-hak mereka. Salim Kancil telah membuktikan bahwa meski seorang rakyat kecil, suaranya dapat menggema dan menjadi simbol perlawanan yang tak akan pernah padam.
Penulis: Selviana Nur Febria Sari
Editor: Ira Nazliyah
Referensi:
https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/06/160623_indonesia_salimkancil_vonis.amp
https://news.republika.co.id/berita/nvdeah361/ini-kronologi-pembunuhan-sadis-salim-kancil