Di masa remaja yang keras kepala, dan idealis feminis, kerap ada yang menentang ide R.A. Kartini sebagai ikon feminis. Ada yang berkata, “Apa yang dia lakukan selain menulis surat? Dia bahkan tidak pernah berjuang untuk kemerdekaan kita seperti Cut Nyak Dien.” Dia membenci gagasan tentang pernikahan dengan seseorang yang tidak dia cintai, tetapi pada akhirnya dia melakukannya. Bahkan ketika dia memiliki kesempatan untuk mengejar mimpinya, dia memilih menikah? Feminis seperti apa itu?
Meskipun beberapa pendapat tentang Kartini sebagai ikon emansipasi atau feminis tidak berubah, pendapat tentang Kartini sendiri telah berubah. Dia mungkin bukan feminis, tetapi dia adalah seorang perempuan yang lebih maju di zaman nya dengan ambisi dan impian yang mungkin diabaikan oleh perempuan lain. Walaupun pada akhirnya menyerah pada pernikahan dibanding mengejar mimpinya, kemungkinan itu hanya karena pragmatisme belaka. Karena meskipun ia bisa melanjutkan pendidikannya, tetapi tidak ada jaminan bahwa dia akan dapat bekerja dikemudian hari. Ditambah, kala itu merupakan sebuah masa yang sulit bagi pria Indonesia terdidik untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, apalagi dengan perempuan?
Perempuan di masa itu mungkin tidak siap untuk mengambil risiko tentang keamanan keuangan yang datang dari pernikahan hanya untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi. Dimana bahkan jika dia berhasil meraih pendidikan tinggi, tidak ada jaminan bahwa masa depannya akan aman. Yang terjadi justru sang calon suami tidak akan bersedia menunggunya. Ini merupakan kenyataan yang terjadi pada tahun 1900-an. Dan itu menimbulkan rasa empati yang lebih terhadap Kartini masa kini. Bukan hanya karena tidak lagi idealis, tetapi juga karena kami lebih memahami bagaimana menjadi seorang perempuan dalam masyarakat dan budaya tertentu. Bahkan di tahun 2023 kini, tidak semua perempuan yang terdidik memiliki pilihan. Seperti keistimewaan untuk memilih, menentukan pasangan, ataupun memilih karier nya.
Pada kenyataannya, masih banyak perempuan lain yang tidak seberuntung itu. Kerap terjadi pemaksaan dalam menentukan hak atau kontrol diri mereka sendiri, ataupun dipaksa menjalani suatu hal yang tidak disukai karena keadaan. Belenggu pernikahan yang ada, membuat perempuan itu tidak memiliki otoritas atau kewenangan yang atas tubuh mereka sendiri.
Seharusnya, setiap perempuan memiliki pilihan dalam menjalani kehidupan nya. Pilihan untuk memutuskan kapan atau dengan siapa menikah, pilihan untuk memiliki anak, dan pilihan untuk menempuh karier dengan bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Kini, impian tersebut belum dapat menjadi kenyataan. Lalu, bagaimana kita bisa menghakimi perempuan yang menikah karena keadaan dibanding karena cinta? Bagaimana bisa kita menghakimi seorang ibu yang memiliki anak karena tekanan dibanding keinginan membantu manusia lain?
Beberapa perempuan mungkin beruntung, dalam arti bahwa meskipun mereka tidak dilahirkan dalam keluarga kaya, mereka cukup terdidik dengan baik, berpikiran terbuka dan mendorong mereka untuk mengejar apa yang mereka inginkan dan tidak berkompromi dengan apa yang kurang dari yang terbaik yang mereka layakkan. Namun pada kenyataannya, menjadi mereka hanyalah impian belaka bagi beberapa perempuan. Bahkan mereka yang tidak hidup dalam kemiskinan, yang kita anggap memiliki banyak pilihan seperti kita, terkadang sebenarnya tidak memiliki hak istimewa itu.
Ketika dihadapkan dengan kenyataan kehilangan dukungan dari orang terdekat, dapatkan kita bisa menghakimi mereka ketika membuat pilihan yang bahkan tidak mereka sukai? Dan bagaimana dengan perempuan yang memiliki pandangan hidup terbatas hingga tidak dapat membedakan mana yang baik atau buruk? Lalu bagaimana dengan mereka yang hidup hanya pergi ke sekolah, universitas, bekerja, menikah, memiliki anak, membesarkan anak-anak, menyaksikan anak-anak menikah, pensiun, memiliki cucu, lalu mati? Dapatkah kita benar-benar menghakimi mereka karena tidak menginginkan lebih dari itu?
Kita tahu, meskipun telah membaca tentang kehidupan Kartini. Bukan berarti kita tahu kondisi yang dihadapi Kartini pada saat itu, dan mengapa dia memilih jalan yang ia pilih. Kita justru hanya mengetahui bahwa ia tidak berjuang untuk kesetaraan, tapi hanya karena keinginannya. Namun, ia masih menjadi pahlawan hanya karena dia adalah seorang perempuan yang nyata dengan impian dan ambisi serta ketakutan, ketidakamanan, kelemahan, dan keterbatasan dibelakangnya.
Karena, kerap kali ada orang yang berpikir dengan gagasan bahwa seorang perempuan harus sempurna untuk menjadi pahlawan dan inspirasi. Tetapi seorang perempuan harus membuat semua pilihan yang benar dan tidak memiliki kelemahan. Bahwa dia harus mampu melakukan semuanya tanpa rasa takut atau ketidakpastian. Tetapi tanpa kita sadari, kita semua juga membuat kesalahan. Kita semua membuat pilihan buruk terkadang, dan kita semua membiarkan ketakutan dan ketidakpastian kita menguasai kita.
Dan, Kartini adalah seorang pahlawan karena dia tidak takut untuk berbagi impian dan pandangan nya, meskipun ia sendiri tidak yakin bahwa impian itu kelak akan menjadi kenyataan. Kartini lah yang mungkin menjadi pahlawan yang dibutuhkan oleh seorang perempuan Indonesia. Seorang pahlawan yang tidak sempurna dan penuh keraguan namun tetap berani bermimpi demi satu hal, yaitu masa depan yang lebih baik.
Penulis: Faulin
Editor: Iksan
Tinggalkan Balasan