Konflik antara Iran dan Israel kembali memuncak pada pertengahan Juni 2025. Aksi ini merupakan balasan terhadap serangan rudal dan drone yang sebelumnya diluncurkan oleh Iran ke wilayah Israel. Konfrontasi langsung ini menandai eskalasi paling serius dalam dua dekade terakhir, memicu kekhawatiran global akan potensi pecahnya perang besar di kawasan Timur Tengah.
Dampak Global
Dampak nyata dirasakan di pasar energi global. Harga minyak mentah jenis Brent sempat melonjak ke angka tertinggi dalam 5 bulan terakhir, mencapai USD 74 per barel pada 13 Juni 2025, menyusul serangan Israel ke Iran. Namun, kemudian harga Brent mengalami penurunan, menyentuh angka USD 68,64 per barel pada 28 Juli 2025.
Berdasarkan analisis dari Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, memperingatkan bahwa jika jalur vital seperti Selat Hormuz terganggu, harga minyak dapat melonjak drastis, mengingat lebih dari 20% ekspor minyak dunia melintas di kawasan tersebut.
Konflik antara Iran dan Israel tidak hanya memengaruhi negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi negara-negara di kawasan lain, termasuk Indonesia. Ketegangan geopolitik yang memanas ini berpotensi mengganggu stabilitas harga minyak dunia, mengingat wilayah konflik merupakan jalur vital distribusi energi global.
Dampak Nasional
Sebagai negara pengimpor minyak, lonjakan harga minyak dunia memberi tekanan tambahan terhadap sektor fiskal di Indonesia. Kementerian Keuangan menyatakan sedang mengkaji ulang besaran subsidi energi agar tetap mampu menjaga daya beli masyarakat.
“Kenaikan harga minyak dunia akan berpengaruh langsung terhadap belanja subsidi dan APBN kita,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani seperti dikutip dari Kompas.com.
Dampak Ekonomi
Di saat bersamaan, nilai tukar rupiah tertekan akibat arus keluar modal asing. Kurs rupiah sempat menyentuh angka Rp16.250 per dolar AS. Hal ini berdampak pada naiknya beban impor, termasuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan bahan pangan strategis, sehingga memperluas tekanan inflasi domestik.
Dilansir dari CNN Indonesia, penyesuaian harga BBM non-subsidi pun tak terhindarkan. Produk seperti Pertamax dan Pertamax Turbo mengalami kenaikan di sejumlah SPBU. Kenaikan ini tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga berdampak pada sektor logistik dan distribusi yang memengaruhi harga kebutuhan pokok.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung ekonomi nasional menjadi kelompok yang paling terdampak akibat kenaikan biaya operasional.
Dampak Sosial
Tak hanya ekonomi, konflik ini juga menyisakan dampak kemanusiaan yang mengkhawatirkan. Ratusan ribu warga sipil dari wilayah konflik dilaporkan mengungsi ke daerah yang dianggap lebih aman.
United Nations High Commissioner For Refugees (UNHCR) mengungkapkan bahwa serangan Israel telah memaksa lebih dari 430.000 warga Lebanon bermigrasi ke Suriah. Kondisi ini semakin parah dengan adanya pemangkasan anggaran bantuan kemanusiaan yang menyebabkan pengurangan program bantuan bagi pengungsi.
Dampak Geopolitik
Di sisi geopolitik, konflik ini memperuncing ketegangan antara negara-negara besar. Amerika Serikat memberikan dukungan terbuka kepada Israel, sementara Rusia dan Tiongkok mendesak deeskalasi sembari menjaga pengaruhnya masing-masing. Ketidakseimbangan ini memperbesar risiko keterlibatan negara-negara lain di kawasan.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, telah menyampaikan keprihatinan atas eskalasi konflik dan menegaskan fokusnya pada keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI) di Timur Tengah. Kedutaan Besar Republik Indonesia (RI) telah mengeluarkan himbauan kepada seluruh diaspora Indonesia di wilayah Iran, Israel, dan negara-negara sekitar untuk meningkatkan kewaspadaan.
Situasi ini menegaskan bahwa ketegangan geopolitik di belahan dunia manapun dapat memberikan dampak langsung bagi stabilitas nasional, baik dari aspek ekonomi maupun sosial. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyiapkan strategi antisipatif jangka panjang seperti memperkuat ketahanan energi nasional, menstabilkan nilai tukar, serta memastikan distribusi barang dan bahan pokok berjalan lancar agar ketahanan ekonomi domestik tetap terjaga.
Penulis : Efo Tiara Ramadani
Editor : Laras Damasaty