Perjalanan Jurnalisme dalam Menelusuri Tantangan di Era Digital

Doc : Google

Di tengah perayaan Hari Pers Sedunia pada tanggal 3 Mei, dunia menghormati para jurnalis yang berani, memperingati tantangan yang dihadapi, dan menekankan pentingnya kebebasan pers dalam mendorong demokrasi.

Hari kebebasan pers menjadi kesempatan kita untuk menghargai dedikasi para jurnalis dalam menjalankan tugasnya, serta untuk merefleksikan tantangan yang dihadapi oleh kebebasan pers di seluruh dunia.

Di era digital, kebebasan pers menghadapi ragamnya tantangan yang tidak hanya dibatasi pada tekanan politik dan sensor, tetapi juga melibatkan ancaman keamanan bagi jurnalis serta dinamika dalam konteks digital.

Dinar Ariani, Mahasiswi Ilmu Komunikasi yang merupakan anggota dari UKM Jurnalistik Untirta mengatakan bahwa tantangan dalam membuat berita yaitu harus memastikan informasi yang akurat, kredibel, dan relevan bagi pembaca. Terkadang juga ada tekanan dari suatu pihak yang menyuruh ia untuk mengikuti agenda mereka.

“Tantangan utama dalam membuat berita sih harus memastikan informasi yang akurat, kredibel, dan relevan bagi pembaca. Penting juga mencari banyak narasumber agar berita yang dibuat tidak memihak satu sudut pandang saja. Pernah ikut liputan berita yang melibatkan sudut pandang agak sensitif. Suka ada tekanan dari suatu pihak yang suruh kita untuk membuat berita mengikuti agenda mereka,” Ucapnya (05/05/24).

Dengan ragamnya tantangan dalam membuat berita yang terkadang membuat sulit, Dinar memiliki cara untuk mengatasinya, ia akan melakukan riset yang mendalam, mencari sudut pandang dari banyak narasumber, dan mengusahakan informasi yang disajikan adil, berintegritas, dan jujur. Dinar berharap agar kebebasan pers tetap dihormati dan dilindungi di seluruh dunia terutama di Indonesia.

Ragil Nurhuda, Mahasiswa Ilmu Komunikasi yang merupakan anggota dari UKM Jurnalistik Untirta mengatakan bahwa tantangan dalam membuat berita yaitu terkait dengan susunan berita dan mencari narasumber.

“Kalau pengalaman pribadi saya yaitu membuat berita yang terkait dengan framing agar yang disampaikan memiliki satu pandangan dan tidak bermakna ganda, selain itu sulitnya menemui narasumber,” Ucapnya (08/05/24).

Harapan Ragil untuk kebebasan pers kedepannya yaitu harus lebih diberikan kebebasan menyampaikan berita dan tidak ada ancaman.

Mia Dwianna, Dosen Mata Kuliah Penulisan Akademik mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi jurnalis saat ini yaitu adanya media sosial yang membuat citizen journalism meningkat, terciptanya AI, tersebarnya hoax, dan indeks kebebasan pers yang belum baik. Adapun tantangan lain seperti beban kerja jurnalis yang besar, dan tuntutan jurnalis untuk multitasking.

Dari tantangan-tantangan tersebut, Mia memberi strategi untuk mengatasinya seperti beradaptasi, merancang model, dan kreatif.

“Untuk strategi yang pertama beradaptasi, misal penggunaan AI adalah suatu hal yang tidak bisa dihindarkan, maka manfaatkan AI itu dengan bijak. Lalu merancang model pemberitaan yang bukan mengandalkan kecepatan, tetapi komprehensif dan konstruktif. Dan jurnalis harus kreatif, karena orang kreatif dan pekerjaan kreatif tidak akan tergantikan oleh robot atau AI,” Ucapnya (06/05/24).

Harapan Mia untuk kebebasan pers kedepannya yaitu perlu ditekankan kepada semua pihak bahwa kebebasan pers bukan berarti bebas-sebebasnya, kebebasan pers dibatasi oleh kebebasan orang lain. Yang jelas kebebasan pers yang harus terus diperjuangkan adalah pers yang bebas berperan sebagai watchdog, tidak dikriminalisasi ketika mengkritik pemeritah, tetap bebas memberikan masukan yang konstruktif, dan bebas dari kepentingan politik.

Penulis: Dira

Editor: Ira