Aceh Terendam, Kalimantan Terbakar, NTT Diguncang Gempa 

Indonesia menghadapi sejumlah bencana alam sejak akhir 2025 hingga Agustus 2026. Banjir dan longsor di Aceh, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, serta gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan mengganggu aktivitas masyarakat. 

Bencana pertama terjadi di Aceh. Pada 26 November 2025, banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh setelah hujan ekstrem terjadi di wilayah tersebut. BMKG sebelumnya telah memperingatkan potensi cuaca ekstrem di Aceh dan Sumatera Utara akibat Siklon Tropis Senyar. Akibatnya 16 kabupaten terdampak, dengan Kabupaten Aceh Utara mencatat kerusakan dan korban terbanyak. Kerusakan hutan juga menjadi salah satu faktor yang disoroti dalam bencana tersebut. Dalam satu dekade terakhir, luas hutan Aceh dilaporkan menurun lebih dari 90.108 hektare. 

Banjir dan longsor merusak rumah, jembatan, akses transportasi, lahan pertanian, dan fasilitas umum. Sejumlah desa juga mengalami kerusakan dan keterisolasian akibat terputusnya akses transportasi dan komunikasi. Tidak hanya itu, akses listrik, komunikasi juga terputus sehingga banyak desa yang terisolasi dan belum terjangkau bantuan. Per 27 Januari 2026, jumlah korban meninggal akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara tercatat mencapai 1.201 jiwa, sementara 113.600 orang masih mengungsi. 

Hingga kini, sebagian penyintas banjir Aceh Tamiang masih bertahan di tenda pengungsian. Mereka masih membutuhkan bantuan dari pemerintah, terutama untuk perbaikan rumah yang hancur serta perbaikan akses transportasi seperti jembatan dan jalan yang turut rusak akibat banjir. 

Memasuki 2026, kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Musim kemarau yang panjang membuat lahan gambut kering menjadi mudah terbakar, hal ini juga semakin diperparah oleh El Nino. Data SiPongi (Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Hutan) Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla di lima provinsi Kalimantan mencapai 57.081,33 hektare sepanjang Januari hingga Juni 2026. Angka tersebut telah melampaui total luas karhutla di Kalimantan sepanjang 2025 yang mencapai 55.717,27 hektare. Selain itu, Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 8.638 titik panas di Pulau Kalimantan pada 21 Agustus 2026. Titik panas terbanyak tercatat di Kalimantan Barat sebanyak 3.705 titik, disusul Kalimantan Tengah sebanyak 3.081 titik. 

Dampak yang paling dirasakan dari karhutla adalah asap tebal yang membuat langit di sejumlah kota kelabu sehingga terjadi penurunan jarak pandang dan kualitas udara. Kondisi tersebut turut mengganggu kegiatan pendidikan yang membuat sejumlah sekolah di wilayah terdampak melakukan penyesuaian kegiatan belajar, termasuk menerapkan pembelajaran jarak jauh. 

Di tengah upaya pemadaman karhutla, bencana lain terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas tektonik di wilayah Laut Flores dan menyebabkan kerusakan bangunan serta gangguan akses di sejumlah wilayah terdampak. Wilayah Manggarai Timur menjadi wilayah dengan 5.962 unit bangunan rusak berat terbanyak. Pusat gempa dipastikan berada di laut, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. 

Per 24 Agustus 2026, BNPB mencatat 100 orang meninggal dunia, 1.603 orang mengalami luka-luka, dan 180.327 orang mengungsi akibat gempa tersebut. Aktivitas gempa susulan juga masih tercatat di wilayah terdampak. BNPB mencatat 6.407 gempa susulan dengan magnitudo yang bervariasi hingga 6,2. 

Menghadapi tiga bencana tersebut, pemerintah pusat merespons dengan mengerahkan tim gabungan dari BNPB, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan kementerian terkait. Hingga berita ini diturunkan tim gabungan masih melakukan proses evakuasi, distribusi bantuan, dan pemulihan infrastruktur di Aceh, Kalimantan dan NTT. 

Penulis: Yolanda Zenia

Editor: Angeli Ramadhani