Dua Perspektif, Budaya Bukber Jadi Jalinan Silaturahmi atau Gaya Konsumtif?

Sumber: LPM Orange

Di bulan suci Ramadhan, tradisi buka bersama tak hanya menjadi momen melepas lapar dan dahaga, tetapi juga ajang silaturahmi untuk mempererat hubungan. Namun, seiring berjalannya waktu, makna bukber mulai dipertanyakan. Apakah masih menjadi ajang kebersamaan, atau justru bergeser menjadi sekadar aktivitas konsumtif yang lebih mementingkan gengsi dan tren?

Linda, salah seorang mahasiswa yang sering mengikuti acara bukber, mengatakan bahwa makna dari buka bersama tergantung pada perspektif individu masing-masing. Linda mengungkapkan bahwa alasannya mengikuti acara ini adalah untuk menjalin silaturahmi dengan teman-teman lama yang jarang bertemu. 

“Bukber ini jadi momen satu tahun sekali untuk berkumpul dengan teman-teman lama. Selain itu, bukber bisa menjadi kesempatan untuk saling berbagi dan mempererat hubungan. Namun, ada juga yang menjadikan acara ini sebagai ajang pamer atau adu outfit untuk menghargai orang-orang yang hadir dan menyesuaikan acara bukber itu sendiri,” ujar Linda saat diwawancarai melalui WhatsApp oleh LPM Orange (12/03/25). 

Di sisi lain, ST, mahasiswa yang memilih menghindari bukber, mengungkapkan alasan yang lebih pribadi, “saya lebih memilih untuk berbuka bersama keluarga di rumah. Bukber di tempat ramai sering kali lebih fokus pada pilih makanan, bukan pada kualitas silaturahmi. Kadang, orang-orang lebih sibuk dengan HP mereka ketimbang ngobrol langsung,” ungkap ST saat diwawancarai melalui WhatsApp oleh LPM Orange (15/03/2025).

ST juga mengaku pernah merasa ditekan oleh teman-teman yang menganggap tidak mengikuti bukber berarti tidak menghargai kebersamaan. Meski demikian, ST tidak menutup diri dari silaturahmi. Ia tetap menjaga hubungan dengan teman-temannya melalui cara lain, seperti menghubungi mereka secara langsung atau bertemu di momen yang lebih santai. Menurutnya, bukber kini lebih sering dimanfaatkan untuk alasan konsumtif, seperti memilih restoran yang sedang viral atau mengabadikan momen demi unggahan di media sosial.

Pandangan lain mengenai makna buka bersama juga disampaikan oleh dosen komunikasi antar budaya Untirta, Dr. Nina Yuliana, S.Sos., M.Si. Menurutnya, bukber lebih merupakan tuntutan sosial dibandingkan agama, yaitu sebagai momen untuk berkumpul bersama, “bukber sebenarnya menandakan kejayaan dan kemenangan Islam secara global, tetapi jika hanya untuk pamer atau sekadar ikut tren, maknanya bisa berkurang,” jelasnya saat diwawancarai secara langsung oleh LPM Orange (19/03/2025).

Ia juga menekankan bahwa di berbagai tempat, bukber bukan sekadar tradisi makan bersama, tetapi juga memiliki makna yang lebih dalam sebagai bentuk kasih sayang dan kepedulian sosial. Menurutnya, dalam konteks budaya, agama dan tradisi sering kali berjalan beriringan, dan bukber bisa menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan serta berbagi dengan sesama. 

“Bukber bukan hanya tentang menikmati hidangan bersama, tetapi juga menjadi momen berbagi dan menunjukkan kepedulian. Di beberapa tempat, tradisi ini bahkan dimanfaatkan untuk berlomba dalam kebaikan, seperti berbagi makanan di masjid atau mengundang mereka yang kurang mampu untuk turut serta,” jelasnya. 

Lebih dari itu, ia juga melihat bukber sebagai bentuk dakwah yang lebih relevan dengan kehidupan modern, terutama bagi mereka yang belum begitu memahami Islam, sehingga secara tidak langsung dapat menumbuhkan ketertarikan mereka terhadap ajaran agama.

Dari berbagai pandangan ini, terlihat bahwa persepsi tentang bukber sangat bergantung pada sudut pandang masing-masing individu. Bagi sebagian orang, bukber adalah ajang silaturahmi yang bermakna, sementara bagi yang lain, bukber kini lebih didorong oleh tren konsumtif. Yang terpenting adalah bagaimana setiap individu dapat menjalani tradisi ini dengan tetap mempertahankan nilai-nilai yang mereka yakini, tanpa merasa tertekan oleh ekspektasi sosial.

Penulis: Dwi Fitriani 

Editor: Muthia Zahra