Kebakaran TPA Jatiwaringin Sisakan Ancaman Lingkungan bagi Warga

Kebakaran skala besar menimpa Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, pada Selasa, 30 Juni 2026. Kebakaran menghanguskan lahan seluas sekitar 15 hektar. Cuaca panas ekstrem serta akumulasi gas metana dari tumpukan sampah diduga mempercepat penyebaran api.

Salah seorang warga, Rachim, mengaku sudah melihat asap di bagian utara TPA sejak Minggu, 28 Juni 2026, namun tidak mencurigainya sebagai tanda bahaya karena asap sudah sering muncul dan dianggap biasa. Meski asap telah terlihat sejak 28 Juni, kebakaran baru disadari sebagai kondisi darurat oleh petugas UPT TPA Jatiwaringin pada Selasa (30/6/2026) setelah terdengar suara ledakan dari area belakang TPA. Saat itu, api telah menjalar ke tumpukan sampah lainnya.  

Upaya pemadaman pun dilakukan, namun cuaca panas dan angin kencang memperparah rambatan api sehingga membutuhkan waktu selama 11 hari sampai api benar-benar habis dengan mengerahkan 55 unit armada pemadam kebakaran dan 3 helikopter pengangkut air.

Kebakaran TPA Jatiwaringin berdampak serius bagi lingkungan sekitar. Asap kebakaran yang bercampur dengan gas beracun membumbung tinggi hingga memenuhi pemukiman, sehingga warga yang tinggal di belakang TPA harus mengungsi ke balai desa atau rumah kerabat lainnya yang lebih aman. Masyarakat setempat, Janil, menuturkan ketinggian asap bahkan melebihi pohon di sekitar lokasi dan warnanya menyerupai awan gelap, meski baunya tidak tercium karena jarak rumahnya yang cukup jauh dari TPA.

 “Asapnya tinggi se atas pohon itu, warnanya hitam pekat mirip kayak awan gelap. Kalau bau sih karena disini lumayan jauh jadi engga terlalu kecium, asapnya juga tergantung sama arah anginnya jadi kadang ke arah sini kadang engga,” ucap Janil saat diwawancarai secara langsung oleh LPM Orange (20/07/2026).

Selama proses pemadaman, akses menuju TPA ditutup. Hanya kendaraan pemadam kebakaran, TNI, Polri, petugas medis, dan instansi terkait yang diperbolehkan melintas. Tak hanya asap tebal, saluran irigasi di sekitar TPA Jatiwaringin juga mengalami perubahan warna menjadi kuning kehitaman akibat rembesan air lindi (leachate) dari tumpukan sampah yang terbakar maupun yang telah lama menumpuk. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena sebagian warga masih memanfaatkan air dari saluran tersebut untuk mencuci pakaian maupun peralatan makan. 

Berdasarkan temuan lapangan LPM Orange, sepanjang jalan sebelum memasuki area pembuangan resmi, kondisi di kiri dan kanan jalan dipenuhi oleh tumpukan sampah berserakan. Selain itu, masih ditemukan pula aktivitas pembakaran sampah secara terbuka di sejumlah titik dekat TPA, meski sudah 9 hari sejak kebakaran besar terjadi.

Warga terdampak dipindahkan ke lokasi pengungsian dan memperoleh berbagai bantuan, mulai dari layanan kesehatan, bantuan logistik, hingga akses air bersih. Pemeriksaan kesehatan, konsultasi medis, serta pengobatan juga diberikan kepada warga yang mengalami gangguan pernapasan atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan asap.