Dini hari, 1 Oktober 1965. Seorang remaja laki-laki di sebuah rumah di Jalan Sumenep, Menteng, terbangun oleh suara teriakan dan derap sepatu pasukan Cakrabirawa yang memasuki rumahnya. Ia tak diizinkan keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.
Tak lama, suasana kembali sunyi. Ketika ia akhirnya berani keluar kamar, ayahnya sudah tidak ada di tempat tidurnya. Ia telah dibawa pergi oleh sekelompok tentara yang mengaku ditugaskan menjemputnya untuk menghadap Presiden Soekarno, meski kenyataannya tak ada perintah semacam itu.
Remaja itu bernama Agus Widjojo, putra Brigjen Sutoyo Siswomiharjo. Enam puluh satu tahun berlalu, tetapi pengalaman malam itu meninggalkan ingatan panjang bagi keluarga para perwira yang menjadi korban peristiwa tersebut. Di balik nama yang kemudian dikenang sebagai Pahlawan Revolusi, terdapat keluarga yang harus menghadapi kehilangan, perubahan peran, dan kehidupan setelah peristiwa tersebut.
Para istri yang selama ini terbiasa ditinggal tugas, kini mendadak harus mengambil alih peran ganda. Mereka menjadi ibu sekaligus kepala keluarga, sembari anak-anak mereka berjuang memahami kehilangan yang tak sepenuhnya bisa mereka mengerti.
Pengalaman tiga keluarga berikut memperlihatkan bagaimana mereka menjalani kehidupan setelah kehilangan anggota keluarga dalam peristiwa 1965.
1. Keluarga Ahmad Yani: Dari Rumah Dinas ke Lapak Beras di Kemang
Yayu Rulia Sutowiryo merupakan istri Ahmad Yani dan ibu dari delapan anak mereka. Ia sempat mengurung diri begitu suaminya diculik. Menurut penuturan Amelia, titik balik terjadi pada 3 Oktober 1965: Yayu mengaku bermimpi didatangi sang suami yang berpesan untuk menjaga anak-anaknya, tepat sebelum kabar resmi datang bahwa jenazah Ahmad Yani ditemukan di Lubang Buaya.
Tak ada wasiat maupun tabungan yang tersisa. Perempuan yang terbiasa mandiri karena sering ditinggal tugas ini menolak bergantung pada belas kasihan orang lain, dan memilih berjualan beras serta minyak di kawasan Kemang. Amelia, putrinya, sempat menangis melihat ibunya harus berdagang. Namun, sang ibu meyakinkannya bahwa pekerjaan tersebut dilakukan agar anak anaknya tetap dapat bersekolah. Ia kemudian mengatakan, “kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala,” sebagai gambaran tentang usaha yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
2. Keluarga A.H. Nasution: Firasat Seorang Istri dan Kehilangan Seorang Anak
Jenderal A.H. Nasution berhasil selamat dari upaya penculikan malam itu. Menurut kisah yang disampaikan dalam berbagai catatan mengenai peristiwa tersebut, istrinya, Johanna Sunarti, telah merasakan situasi yang tidak biasa dan memilih tetap berjaga di rumah.
Namun, keluarga Nasution tetap kehilangan seorang anggota keluarga dalam peristiwa tersebut. Putri A.H. Nasution, Hendrianti Saharah Nasution atau Yanti, menyaksikan kedatangan pasukan ke rumah mereka hingga penembakan yang mengenai ajudan ayahnya dan Ade Irma Suryani, adiknya. Bertahun tahun kemudian, Yanti masih mengingat ucapan Ade Irma ketika berada di rumah sakit. “Kakak jangan menangis,” kata Ade Irma kepadanya. Setelah itu, Ade Irma bertanya kepada ibunya, “Kenapa ayah ditembak?” Menurut Yanti, pertanyaan tersebut menjadi salah satu bagian paling berat dari ingatannya tentang peristiwa itu.
3. Keluarga Sutoyo Siswomiharjo: Anak yang Tumbuh Tanpa Peta
Pengalaman keluarga Sutoyo memperlihatkan sisi lain. Agus Widjojo telah kehilangan ibu kandungnya sejak berusia lima tahun sebelum akhirnya kehilangan ayahnya dalam peristiwa 1965. Ia kehilangan ibu kandungnya pada usia lima tahun, sempat memiliki ibu sambung dalam waktu singkat, sebelum akhirnya kehilangan ayahnya pula dalam peristiwa G30S. “Saya ingin keluar kamar, tetapi tidak boleh. Suasananya sangat mencekam,” kenangnya.
Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi cara Agus memandang peristiwa 1965. Ia mendorong upaya saling memahami antargenerasi yang terdampak peristiwa tersebut.
Tiga keluarga, tiga pengalaman setelah satu peristiwa yang sama. Yayu memilih bekerja untuk memenuhi kebutuhan delapan anaknya. Keluarga A.H. Nasution menghadapi keselamatan sang ayah sekaligus kehilangan Ade Irma. Sementara Agus Widjojo menjalani masa dewasa setelah kehilangan ayahnya dan kemudian memilih terlibat dalam upaya membangun pemahaman antargenerasi mengenai peristiwa 1965.
Setiap 30 September, tujuh nama Pahlawan Revolusi kembali dikenang dalam pembahasan mengenai peristiwa 1965. Di balik nama tersebut, terdapat keluarga yang harus menjalani kehidupan setelah kehilangan anggota keluarga. Kisah Yayu, keluarga Nasution, dan Agus Widjojo memperlihatkan bahwa dampak sebuah peristiwa sejarah dapat berlanjut dalam kehidupan keluarga yang ditinggalkan hingga bertahun tahun kemudian.
Penulis: Sandi Heryana
Editor: Angeli Ramadhani