Mengapa Bahasa Isyarat Tak Seragam? Yuk, Pahami Keberagaman Bahasa Teman Tuli!

Mengapa Bahasa Isyarat Tak Seragam? Yuk, Pahami Keberagaman Bahasa Teman Tuli!
Sumber: Alodokter

Bahasa isyarat merupakan bahasa yang digunakan oleh teman tuli untuk berkomunikasi. Bahasa isyarat terdiri dari tiga komponen, yaitu tangan, tubuh, dan ekspresi wajah karena fungsinya yang merupakan alat komunikasi dari masyarakat tuli. Dari banyaknya jenis bahasa isyarat, pernahkah kita berpikir mengapa terdapat berbagai bahasa isyarat? bukankah bahasa isyarat digunakan untuk mempermudah masyarakat tuli untuk berkomunikasi satu sama lain, kenapa tidak menggunakan satu bahasa untuk semua agar masyarakat tuli dari seluruh dunia bisa memahami satu sama lain?

Mengapa Bahasa Isyarat Tak Seragam? Yuk, Pahami Keberagaman Bahasa Teman Tuli!
Sumber: Kompasiana.com

Perlu diketahui bahwa di dunia terdapat berbagai jenis bahasa isyarat yang digunakan dalam suatu negara maupun daerah, misalnya seperti, BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia), SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia), BSL (British Sign Language), ASL (American Sign Language), dan lain-lain. Alasan banyaknya bahasa isyarat di dunia karena sesungguhnya bahasa isyarat merupakan bahasa lain dari bahasa lisan, perbedaannya hanya bahasa isyarat menggunakan gerakan tangan, ekspresi, dan gestur, sementara bahasa lisan menggunakan oral. 

Seperti bahasa lisan, bahasa isyarat juga merupakan identitas dari suatu negara atau daerah teman tuli itu berada, seperti BSL yang digunakan di Inggris berbeda dengan ASL yang digunakan di Amerika. Walaupun bahasa lisan di kedua negara tersebut berbahasa Inggris, tetapi pengaruh budaya dan kebiasaan masyarakat di daerah tersebut berpengaruh akan adanya perbedaan antara BSL dan ASL.

Sumber: Espos.id

Dalam penelitian yang berjudul Perkembangan bahasa isyarat daerah Denpasar, Stamp et al. (2015) menyampaikan bahwa BSL memiliki variasi isyarat warna yang sangat tinggi, dibuktikan dengan adanya 22 isyarat warna ungu dan 14 isyarat warna abu-abu. Tingginya tingkat variasi ini disebabkan oleh faktor usia, wilayah, jenis kelamin, dan latar belakang pendidikan. Hal serupa terjadi pada bahasa isyarat di daerah, seperti di Jakarta dan Yogyakarta, dalam penelitian yang dilakukan oleh Isma (2012), menyatakan bahwa bahasa isyarat yang digunakan memiliki perbedaan struktur kalimat, misalnya pada bahasa isyarat Jakarta memiliki struktur subject-verb-object, sementara di Yogyakarta menggunakan susunan subject-object-verb.

Sumber: Kompasiana.com

Bahasa isyarat juga bisa dibedakan menurut fungsinya, contohnya BISINDO dan SIBI yang memiliki perbedaan struktur. SIBI biasanya digunakan sebagai standar komunikasi bagi teman Tuli oleh pemerintah Indonesia untuk mendukung pendidikan inklusif, terutama di sekolah luar biasa (SLB), sehingga siswa dapat lebih mudah memahami kurikulum nasional. Sementara itu, BISINDO merupakan bahasa alami di kalangan komunitas Tuli Indonesia dan lebih mencerminkan kebutuhan serta budaya mereka karena kosakatanya lebih mudah dipahami dan banyak menggunakan gestur serta ekspresi wajah. Hal ini menjadikannya lebih fleksibel dan dinamis dalam komunikasi sehari-hari.

Keberagaman bahasa isyarat muncul karena setiap komunitas tuli di berbagai negara dan daerah mengembangkan bahasanya sendiri sesuai sejarah, budaya, dan kebutuhan komunikasi mereka. Seperti halnya bahasa lisan, bahasa isyarat memiliki struktur dan kosakata yang berbeda, sehingga wajar jika tidak seragam karena dipengaruhi oleh fungsi penggunaannya. Dengan demikian, tidak adanya satu bahasa isyarat universal merupakan bagian dari keragaman bahasa dan identitas komunitas tuli di dunia.

Penulis: Nadira Zahra Alifa

Editor: Muthia Zahra