Sumber: Mind family
Dalam konstruksi sosial masyarakat, gender bukan sekedar identitas biologis, melainkan seperangkat norma dan ekspektasi yang membentuk perilaku individu. Namun nyatanya, konsep gender ini masih menyimpan berbagai permasalahan kompleks, salah satunya fenomena toxic masculinity yang kian mengkhawatirkan.
Toxic masculinity merupakan manifestasi dari tekanan sosial yang memaksa laki-laki untuk memenuhi standar maskulinitas yang tidak realistis. Stigma dan label seperti “laki-laki harus kuat” “tidak boleh menangis” dan “harus menjadi tulang punggung” telah mengakar dalam masyarakat, sehingga stereotip semacam ini tak hanya mengekang ekspresi emosi laki-laki, tetapi juga berkontribusi pada sikap agresif, bahkan kekerasan.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat, 87% pelaku kekerasan berbasis gender pada 2023 adalah laki-laki. Namun, pada saat yang sama, data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan bahwa hampir 20% korban kekerasan seksual adalah laki-laki. Tekanan untuk selalu “kuat” dan tidak memperlihatkan kerentanan membuat banyak laki-laki terjebak dalam diam, membuktikan bahwa toxic masculinity tak hanya mencederai, tetapi juga membungkam.
Koordinator Aliansi Laki-Laki Baru wilayah Jakarta, Wawan Suwandi atau yang kerap disapa Jundi, menjelaskan bahwa praktik toxic masculinity pada dasarnya tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk melalui konstruksi sosial dan budaya yang telah lama mengakar. Ia menegaskan bahwa masyarakat masih memelihara norma gender tradisional yang menuntut laki-laki untuk tampil kuat, keras, dan dominan dalam hampir semua aspek kehidupan.
Menurut Jundi, sejak kecil laki-laki sudah diarahkan untuk menjauh dari sifat-sifat yang dianggap feminim. Mereka dituntut untuk tidak menangis, harus berani mengambil resiko, serta selalu menjadi pemimpin.
“Kalau laki-laki terlihat rapuh, ia akan langsung dicap lemah atau tidak jantan. Padahal, ekspresi emosi adalah bagian manusiawi yang dimiliki siapa saja tanpa terkecuali,” ucapnya saat diwawancarai via Google Meet oleh LPM Orange pada Senin (18/08/2025).
Lebih lanjut, Jundi menguraikan bahwa pembakuan ini membuat laki-laki kerap diukur dari hal-hal material maupun peran ekonomi. Status sosial mereka sering kali ditentukan oleh pekerjaan, pendapatan, atau keberhasilan finansial.
“Masyarakat masih melihat laki-laki sebagai pencari nafkah utama. Kalau gagal secara ekonomi, mereka dianggap gagal sebagai laki-laki. Itu tekanan besar yang membuat banyak laki-laki terjebak dalam standar yang tidak realistis,” lanjutnya.
Tekanan tersebut juga menjalar dalam relasi sehari-hari, banyak laki-laki merasa perlu menunjukkan dominasinya, contohnya pada ranah pengambilan keputusan.
“Semua kendali ada pada laki-laki. Itu jelas praktik toxic masculinity yang bukan hanya membatasi perempuan, tapi juga membebani laki-laki sendiri,” jelas Jundi.
Menurutnya, dampak paling merugikan dari toxic masculinity adalah lahirnya kekerasan berbasis gender. Validasi bentuk maskulinitas sering dilakukan melaui cara-cara agresif seperti kekerasan fisik, verbal, hingga seksual.
“Banyak laki-laki yang akhirnya mencari pembuktian dengan melakukan kekerasan, entah itu tawuran, bullying, atau bahkan mengontrol pasangannya dengan paksa. Itu semua lahir dari konstruksi maskulinitas yang salah kaprah,” paparnya.
Ia menekankan bahwa praktik ini justru merugikan kedua belah pihak. Perempuan yang menjadi korban dan laki-laki yang terjebak dalam lingkaran pembuktian.
Toxic Masculinity kerap menimbulkan tekanan bagi laki-laki untuk menekan emosinya sendiri dan merasa sulit terbuka atau bahkan bercerita mengenai masalah yang dihadapi. menurut Jundi, laki-laki yang terus menahan emosinya lebih rentan terhadap stres dan depresi.
“Karena tidak terbiasa membuka diri, laki-laki sulit mencari bantuan ketika punya masalah. Akhirnya, banyak yang menyalurkan lewat kekerasan,” tambahnya.
Bagi Jundi, solusi dari persoalan ini adalah redefinisi maskulinitas. Ia menilai sudah waktunya masyarakat membangun pemahaman baru tentang menjadi laki-laki yang sehat. Maskulinitas tidak harus dimaknai sebagai dominasi, melainkan kemampuan untuk mengahargai orang lain, mengendalikan ego, dan berani mengendalikan sisi emosional.
“Laki-laki yang sehat adalah mereka yang mampu menghormati pasangan, bisa mengelola emosi, serta terbuka terhadap kesehatan mentalnya. Itu jauh lebih berharga daripada sekedar menunjukkan kekuatan fisik atau materi,” tegasnya.
Pandangan yang sama terkait toxic masculinity turut disampaikan oleh Nuril Kusuma, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untirta. Ia menilai, praktik tersebut lahir dari nilai maskulinitas yang berkembang secara turun-temurun, sehingga sulit untuk diubah secara instan.
”Orang berpikir maskulin itu harus terlihat tegas, keras, dan kuat. Hal ini sudah melekat pada laki-laki sejak lama, jadi memang susah banget untuk mendobrak ini. Namun, bukan berarti tidak bisa, perlahan-lahan emang harus diubah,” ujarnya saat diwawancarai oleh LPM Orange via WhatsApp pada Senin (11/08/2025).
Menurutnya, toxic masculinity membawa lebih banyak dampak negatif dibandingkan positif. Hal ini terlihat dari masih sering ditemuinya praktik stereotip gender dalam kehidupan sehari-hari. Stereotip inilah yang kemudian memunculkan stigma tertentu di masyarakat, misalnya perbedaan respon terhadap laki-laki dan perempuan saat berbelanja di ruang publik. Ia pun mengaku sedih karena masih sering menjumpai praktik tersebut dalam kehidupan keseharian.
“Perempuan bisa bebas beli barang di section laki-laki, tetapi kalau laki-laki beli barang di section perempuan langsung dicap aneh, dianggap nggak normal, itu kan ga adil,” ucapnya.
Adanya stereotip gender terkait permasalahan tersebut, membuat dirinya kerap berdebat dengan orang tua yang masih mempunyai stigma bahwa laki-laki tidak boleh memakai produk atau atribut yang identik dengan perempuan.
“Siapa, sih, yang menetapkan make up itu cuma buat perempuan? Itu kan industri yang membentuk,” tegasnya.
Dalam konteks kehidupan kampus, Nuril menyebutkan bahwa masih terdapat beberapa budaya yang secara tidak langsung melanggengkan praktik toxic masculinity. Misalnya, penempatan laki-laki di posisi logistik atau transportasi karena dianggap lebih kuat, hingga muncul kebiasaan laki-laki selalu dituntut menjadi pengemudi saat berboncengan dengan perempuan.
“Kadang cowok sebenarnya capek, tetapi malu bilangnya. Akhirnya, dipaksa terus bawa motor. Kalau kecelakaan, tetap laki-laki yang disalahkan,” jelasnya.
Menutup pernyataannya, ia berharap laki-laki bisa lebih jujur pada dirinya sendiri dan tidak terjebak dalam tekanan sosial terhadap maskulinitas. Dan tidak ada lagi budaya maupun aturan yang memperkuat praktik toxic masculinity.
“Kita kan terlahir sebagai manusia, bukan robot yang harus selalu siap. Laki-laki juga boleh nangis, boleh capek, bisa pengen dimanja. Intinya semua orang berhak atas kebahagiaannya sendiri, termasuk laki-laki,” paparnya.
Fenomena toxic masculinity memperlihatkan betapa konstruksi gender yang keliru tidak hanya menekan perempuan, tetapi juga membatasi laki-laki dalam ruang yang sempit. Standar untuk selalu kuat, rasional, dan dominan, pada akhirnya hanya melahirkan lingkaran kekerasan dan pembuktian semu.