Naik Daun Pemimpin Populis Di Negara Demokrasi, Buah Ancaman Bagi Demokrasi?

Serang – (13/1/2024) Kian banyaknya pemimpin populis di negara demokrasi. Populisme yang disandarkan pada masyarakat mayoritas memang memiliki kecenderungan muncul akibat dari sistem demokrasi yang mementingkan kuantitas dibanding kualitas. Namun sulit mendefinisikan populisme masuk ke dalam spektrum politik kiri-kanan, karena populisme bisa muncul dari berbagai spektrum, seperti populis sayap kiri atau populis sayap kanan. Lalu apa itu populis? Apakah keberadaannya mencenderai demokrasi?

Melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), populisme adalah “paham yang mengakui dan menjunjung tinggi hak, kearifan, dan keutamaan rakyat kecil”. Melihat definisi tersebut, populisme adalah sebuah paham yang bertujuan untuk menyejahterakan rakyat. Namun penjelasan dari populisme tidak sesederhana itu, terdapat 3 hal penting dalam memahami populisme, yaitu populisme membedakan masyarakat menjadi 2 “rakyat” dan “elite korup”  dan anti-status quo. Menekankan pada rule of the people sebagai akibat dari “elite korup” yang mengkhianati “rakyat” mereka dianggap sebagai kelompok penindas, tamak, selalu mementingkan diri sendiri, dan mengabaikan kehendak rakyat banyak. Selanjutnya yaitu mengembalikan primacy of the people dengan pemimpin yang karismatik.

Populisme menjadi sebuah ancaman bagi demokrasi karena acapkali anti multikultural, sehingga plural tidak bisa diterima dalam populisme. Karena pemimpin populis cenderung menganggap “rakyat”nya hanya pada kelompok tertentu dengan massa yang besar (silent majority) yang sudah jengah dengan realitas kehidupan yang semakin sulit dan elit yang sudah mengkhianati mereka.

Dalam praktisnya populisme sekarang populer pada spektrum kanan atau biasa dikenal dengan populis sayap kanan, di Eropa misalnya masyarakat mayoritas sudah jenuh dengan banyaknya imigran yang datang ke negaranya sehingga pemimpin populis menangkap mereka sebagai “rakyat”nya karena elit yang sudah tidak bisa menangkap aspirasi mereka. Sehingga saat pemimpin populis mengkampanyekan anti-imigran mereka mendapat dukungan yang besar dan menganggap mereka yang tidak anti-imigran bukan sebagai “rakyat”nya. Hal ini tentu berbeda-beda pada tiap negara tergantung pada masyarakat mayoritas yang ada di negara tersebut, misal di Indonesia dengan Islam, Belanda dengan anti-imigran dan anti-Islam, di Amerika dengan anti-non kulit putih dan banyak lainnya.

Populisme menjadi sebuah ancaman bagi demokrasi karena hanya memiliki kecenderungan hanya pada kelompok mayoritas tertentu dan tidak menganggap kelompok minoritas sebagai bagian dari mereka.

Penulis: Alvin

Editor: Iksan