Minat Literasi Mahasiswa Menurun, Apakah Forum Diskusi dan Bedah Buku Masih Relevan?

Dalam era digital yang serba cepat dan dipenuhi oleh berbagai hiburan instan, minat mahasiswa terhadap kegiatan literasi dan diskusi intelektual mulai mengalami penurunan yang cukup mencolok. Kegiatan seperti bedah buku dan forum diskusi yang sebelumnya menjadi wadah penting untuk mengasah pemikiran kritis dan memperluas wawasan mahasiswa, kini hampir tidak menarik lagi banyak partisipan.

Fenomena ini menjadi perhatian karena dikhawatirkan akan memengaruhi kualitas pemikiran dan daya kritis generasi muda. Berbagai narasumber dari mahasiswa Fisip Untirta mengungkapkan penyebab utama penurunan ini, mulai dari perubahan preferensi, kurangnya daya tarik topik, hingga dominasi media sosial yang lebih disukai sebagai sumber informasi.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Putra Tangguh Salsabil, mengutarakan pendapat pribadinya yang mengungkapkan bahwa mahasiswa merasa kegiatan seperti bedah buku dan forum diskusi sudah tidak efisien dari segi waktu dan manfaat.

“Kalau saya sendiri karena faktor malas, merasa buang waktu, dan kurang manfaat, sehingga lebih memilih kegiatan yang langsung berikan manfaat seperti bekerja, olahraga, atau main game. Saya pun merasa forum kampus kurang efisien dan sering dipenuhi penggiringan opini negatif,” ujar Putra Tangguh Salsabil saat diwawancarai oleh LPM Orange pada Rabu, (25/06/2025).

Hal senada juga diungkapkan oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Elin Eliyana, yang menyoroti bahwa menurunnya minat mahasiswa mengikuti forum diskusi karena adanya perubahan preferensi. Menurutnya dewasa kini, mengasah critical thinking bukan hanya lewat forum online maupun offline, tetapi bisa diasah dimanapun bukan hanya di dalam forum. 

Ia juga menegaskan bahwa minat terhadap kegiatan literasi harus disesuaikan dengan tren kekinian dan dikemas dengan kreativitas yang sesuai di era sekarang. 

“Generasi sekarang cenderung menyukai hal-hal yang viral dan terkenal, untuk itu saya pikir mengundang edu-influencer yang relevan dibidangnya sebagai pemantik dan benefit seperti e-sertifikat sepertinya bisa jadi solusi untuk menarik minat audiens,” saran Elin saat diwawancarai oleh LPM Orange via WhatsApp pada Jumat, (20/06/2025).

Pernyataan ini sejalan dengan hasil penelitian Kurnia & Astuti (2017) dalam Jurnal yang berjudul “Peta Gerakan Literasi Digital di Indonesia: Studi Tentang Pelaku, Ragam Kegiatan, Kelompok Sasaran dan Mitra yang Dilakukan Oleh Japelidi”, yang menyatakan bahwa mahasiswa cenderung lebih memilih media digital yang cepat dan interaktif daripada membaca panjang atau diskusi mendalam. Dalam penelitiannya, rendahnya literasi di kalangan mahasiswa terjadi karena perubahan gaya hidup digital yang memprioritaskan kecepatan informasi daripada kedalaman analisis.

Sementara itu, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Tubagus Fauzan Kamil, sekaligus Partisipan dalam Orange Discussion Forum (ODF) yang mengusung acara bedah buku dengan tema “Menelusuri Jejak Penghilangan Paksa Dalam Laut Bercerita” menyampaikan pendapatnya mengenai fenomena minimnya minat bedah buku dan forum diskusi.

“Menurut aku pribadi, minat terhadap bedah buku memang cenderung turun. Tapi untuk forum diskusi itu masih stagnan atau naik meski tidak secara signifikan,” papar Tubagus saat diwawancarai oleh LPM Orange via WhatsApp pada Jumat, (27/06/2025).

Ia menambahkan, salah satu faktor utama minimnya partisipasi bedah buku adalah karena kendala waktu dan ketidakcocokan tema. 

“Mungkin gak semua mahasiswa bisa dateng ke acara bedah buku, terlebih lagi kita juga gatau minat pembaca terkait genre buku yang mereka baca dalam skala mayoritas mahasiswa,” tambah Tubagus.

Meskipun demikian, ia juga menegaskan bahwa kegiatan bedah buku tetap relevan dan bermanfaat di era sekarang. Hal ini terlihat dari pengalamannya yang telah hadir mengikuti acara ODF yang diselenggarakan oleh LPM Orange. 

“Kegiatan bedah buku masih tetap relevan karena di kegiatan bedah buku yang diselenggarakan oleh LPM Orange sendiri para peserta bisa memahami isi buku tanpa harus membacanya langsung dan saling berinteraksi, misalnya berbagi informasi tentang buku yang dibahas. Selain itu, kegiatan harus dibuat menyenangkan agar peserta tidak bosan, seperti contoh bedah buku Laut Bercerita oleh LPM Orange Untirta,” pungkasnya.

Di sisi lain, menurut Tubagus, walaupun terdapat perubahan preferensi mahasiswa dalam mengikuti forum diskusi dan membaca buku, pada kenyataannya mereka tetap aktif berpartisipasi dalam aksi sosial, diskusi di tongkrongan, atau melalui media sosial, menunjukkan bahwa kritis terhadap isu sosial dan politik tetap ada. Penurunan minat di forum resmi bukan berarti mereka kurang kritis, melainkan lebih kepada pergeseran cara menyalurkan minat dan perhatian terhadap isu tersebut.

Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Jumalia Mannayong et al. (2024) dalam jurnal yang berjudul “Transformasi Digital dan Partisipasi Masyarakat: Mewujudkan Keterlibatan Publik yang Lebih Aktif”, menyebutkan bahwa media sosial, forum online, dan aplikasi mobile telah menjadi alat kritis untuk memfasilitasi dialog langsung antara pemerintah dan warga, memperluas ruang diskusi publik yang sebelumnya terbatas oleh jarak dan waktu.

Dari berbagai cerita tersebut, tampak bahwa kurangnya inovasi, keterbatasan waktu, dan ketertarikan terhadap konten menjadi faktor utama penurunan partisipasi mahasiswa dalam kegiatan literasi. Harapannya pihak kampus dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) mampu untuk menyajikan kegiatan yang lebih menarik dan sesuai dengan minat generasi muda saat ini, agar budaya literasi kembali berkembang dan mahasiswa tetap kritis serta informatif di tengah arus derasnya tren di media sosial.

Penulis: Taska Nandhia Bhiaputri

Editor: Laras Damasaty