April Mop Bukan Pemicu Hoax, Literasi Digital Yang Harus Dibenarkan

Sumber: Pinterest Forest Of Dean Lodges

Tradisi April Mop kerap diisi dengan candaan dan tipuan ringan. Namun, di era digital, budaya ini dimanfaatkan media untuk meningkatkan engagement melalui berita palsu, penggunaan judul bombastis, serta manipulasi visual yang berpotensi memicu disinformasi. 

Oleh karena itu, April Mop tidak menyebabkan hoaks, melainkan sistem media yang mengutamakan engagement dan monetisasi. Penyebaran hoaks diperparah oleh rendahnya literasi digital masyarakat yang sering kali tidak membandingkan satu sumber dengan sumber lainnya yang lebih kredibel. Maka dari itu, perlu adanya peningkatan literasi digital melalui edukasi dan peran aktif media dalam menjaga etika publikasi. 

Setiap tanggal 1 April, masyarakat dunia merayakan April Mop dengan saling melempar candaan dan tipuan ringan. Namun, di era digital yang kian dipenuhi konten bombastis dan tuntutan engagement tinggi, budaya ini justru dimanfaatkan sebagai penunjang engagement pada konten media sosial. Meskipun awalnya bertujuan untuk hiburan, tradisi ini berpotensi menciptakan disinformasi jika tidak diiringi literasi digital yang memadai. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat Indonesia untuk lebih cermat dalam menyaring informasi, sementara media perlu berperan aktif dalam menjaga etika dalam setiap publikasi.

Awalnya, April Mop atau April Fools’ Day merupakan tradisi kuno dari Eropa yang identik dengan tipuan jenaka dan keusilan ringan. Namun, seiring berkembangnya teknologi, perayaan ini tak lagi terbatas pada interaksi personal, melainkan juga diadopsi oleh media yang turut meramaikannya melalui konten mengejutkan, seperti berita palsu, penggunaan judul bombastis, serta manipulasi visual pada konten yang berpotensi menimbulkan disinformasi.

Dosen Analisis Media Sosial Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Husnan Nurjuman, menjelaskan bahwa membuat judul bombastis menjadi strategi utama media dalam menarik perhatian pengguna. Ia menegaskan bahwa motivasi utama sebagian besar media saat ini bukan lagi menyampaikan informasi, melainkan mengejar monetisasi dari jumlah penonton dan interaksi. 

Maraknya penggunaan clickbait sebagai penarik engagement di sosial media mengartikan bahwa April Mop bukanlah penyebab utama penyebaran hoaks. Husnan menegaskan bahwa penyebaran hoaks akan tetap terjadi selama sistem media sosial masih mengandalkan engagement untuk menilai kinerja akun. Jika diperhatikan lebih lanjut, media yang membutuhkan engagement seringkali memanfaatkan tingkat minimnya literasi pembaca dan membuat berita yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi sebenarnya.

Oleh karena itu, peran media menjadi sangat penting. Menurut Husnan, media sosial harus memiliki pedoman etika yang kuat agar tidak sembarangan menyebarkan informasi.

“Media perlu memegang etika yang jelas, terutama media sosial yang sampai sekarang belum memiliki pedoman yang kuat. Harus ada aturan dan hukum yang bisa mengikat pengguna media sosial agar tidak menyebarkan informasi sembarangan. Di sisi lain, masyarakat juga perlu dibiasakan untuk lebih melek literasi digital, bisa memilah mana informasi yang benar dan mana yang tidak. Semua ini butuh edukasi, kampanye, dan kesadaran bersama dari berbagai pihak,” ujar Husnan saat diwawancarai secara langsung oleh anggota LPM Orange,  (16/04/2025).

Selanjutnya, budaya konsumsi informasi masyarakat Indonesia turut menjadi sorotan. Menurut Husnan, rendahnya tingkat literasi digital memperparah situasi ini. Masih banyak orang yang kurang membandingkan informasi dari satu sumber dengan sumber lain yang lebih kredibel, sehingga prank April Mop mudah dipercayai sebagai fakta. Dengan demikian, audiens perlu membaca atau menonton konten hingga tuntas, juga membandingkan informasi dari satu sumber ke sumber kredibel lainnya, agar informasi tidak disalahartikan.

Jika budaya April Mop terus dirayakan tanpa adanya pemahaman dan penyaringan informasi yang baik, masyarakat akan semakin terbiasa dengan konten menyesatkan. Untuk itu, perlu langkah konkret dari pemerintah, media, dan masyarakat dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya literasi digital. 

Penulis: Nadira Zahra Alifa

Editor: Muthia Zahra