Demam Pop Mart, antara Kepuasan Emosional dan Gaya Hidup Konsumtif

Di tengah arus tren baru yang silih berganti di media sosial, ada satu fenomena yang seolah menolak padam. Pop Mart, merek collectible toys asal Tiongkok, masih saja menarik antrian panjang di mal-mal besar Indonesia. Padahal, konsep blind box yang mereka usung sudah viral sejak awal 2024 lalu. Namun, hingga kini daya tariknya tetap kuat di kalangan milenial dan Gen Z.

Pemandangan orang-orang yang sabar menunggu di depan toko Pop Mart menjadi hal biasa di pusat perbelanjaan besar. Mereka menatap rak penuh figur berwarna pastel dengan mata berbinar. Beberapa sibuk membuka mystery box sambil menyiarkan hasilnya di Instagram Story. Ada yang kecewa karena tidak mendapat yang diinginkan, ada juga yang bersorak karena berhasil mendapatkan versi langka.

Fenomena ini bukan sekadar tren mainan. Ia menjadi simbol gaya hidup baru, tempat estetika, rasa penasaran, dan kebutuhan untuk diakui melebur menjadi satu.

Pop Mart berdiri di Beijing pada tahun 2010 dan mulai mencuri perhatian global lewat karakter Molly yang ikonik. Merek ini menjual figur mini dalam bentuk blind box, yang mana pembeli tidak tahu karakter apa yang akan mereka dapatkan sebelum membuka kotaknya. Konsep ini menciptakan sensasi adrenalin yang membuat banyak orang ingin terus membeli demi menemukan seri langka.

Demam Pop Mart, antara Kepuasan Emosional dan Gaya Hidup Konsumtif
Sumber: google @/www.jakartanotebook.com

Data dari CNBC pada Agustus 2025 mencatat bahwa Pop Mart telah menjadi salah satu pemain utama dalam pasar blind box global yang nilainya mencapai 13,7 miliar dolar Amerika pada 2024. Di Asia Tenggara, pertumbuhan penjualan Pop Mart bahkan meningkat lima kali lipat sejak 2023. Fenomena ini tidak hanya mengakar di Tiongkok, tetapi juga tumbuh kuat di Indonesia yang kini menjadi pasar penting di kawasan.

Bagi banyak anak muda, koleksi Pop Mart bukan lagi sekadar hobi. Hal ini sudah menjadi bagian dari identitas sosial. Memiliki figur tertentu atau seri lengkap sering kali dianggap kebanggaan tersendiri di komunitas kolektor. Platform seperti TikTok dan Instagram dipenuhi konten unboxing yang menampilkan momen membuka kotak dengan latar musik lucu dan reaksi dramatis. Konten ini menciptakan siklus keinginan baru dan memperpanjang umur tren.

Sumber: google @/ameera.republika.co.id

Harga satu kotak Pop Mart di Indonesia bisa mencapai 160 ribu hingga jutaan rupiah. Namun, mahalnya harga tidak membuat peminat surut. Sebaliknya, semakin banyak orang yang merasa perlu “ikut merasakan” sensasi membuka mystery box. Fenomena ini memperlihatkan wajah lain dari gaya hidup konsumtif generasi muda urban yang menjadikan pengalaman membeli sebagai bentuk ekspresi diri.

Menurut laporan dari China Briefing, beberapa figur langka bahkan bisa dilelang hingga ratusan ribu dolar. Di pasar sekunder, nilai koleksi Pop Mart bisa naik drastis tergantung kelangkaan dan seri yang beredar. Hal ini menciptakan ekosistem ekonomi tersendiri yang melibatkan pemburu koleksi, reseller, dan komunitas kolektor daring.

Namun, di balik euforia itu, ada juga gejala psikologis yang menarik. Sistem blind box menimbulkan dorongan dopamin yang sama seperti permainan peluang. Ketika seseorang berhasil mendapatkan figur langka, muncul rasa puas dan ingin mengulanginya lagi. Inilah yang membuat Pop Mart menjadi lebih dari sekadar mainan. Ia adalah pengalaman emosional yang menggabungkan seni, misteri, dan keberuntungan.

Meski sempat muncul tren baru di dunia collectible toys, pamor Pop Mart tak juga surut. Setiap peluncuran seri baru selalu diikuti antrian panjang, mulai dari seri Labubu, Hirono, hingga Skullpanda yang punya gaya visual berbeda. Di Indonesia, konten Pop Mart di TikTok masih stabil dengan jutaan penonton, menandakan bahwa tren ini belum menunjukkan tanda-tanda redup.

Sumber: google @/antaranews.com

Fenomena Pop Mart mencerminkan bagaimana konsumsi dan identitas saling berkaitan di era digital. Generasi muda tidak lagi membeli hanya untuk memiliki, tetapi untuk merasakan. Mereka membeli untuk membangun cerita, menunjukkan selera, dan menjadi bagian dari komunitas yang punya ketertarikan dan gaya yang mirip.

Pada akhirnya, Pop Mart menjadi cermin kecil dari budaya konsumerisme modern. Sebuah kotak mungil yang tak hanya menyimpan mainan, tetapi juga harapan, rasa penasaran, dan sedikit kegilaan yang membuat kita ingin membuka satu kotak lagi. 

Penulis: Angeli Ramadhani

Editor: Muthia Zahra