Bagi sebagian besar orang, sepak bola adalah olahraga yang identik dengan kompetisi, prestasi, dan hiburan. Namun, di balik gegap gempita liga profesional dan gemerlap iklan korporasi, sepak bola juga menyimpan jejak panjang sebagai ruang perlawanan. Dari Inggris hingga Indonesia, sepak bola telah menjadi medium untuk melawan ketidakadilan, menyuarakan solidaritas, dan memperkuat identitas kolektif.
Pada tahun 1992 di Bristol, Inggris, sebuah klub alternatif bernama Easton Cowboys lahir dari tangan kelompok punk, anarkis, dan hippie. Klub ini tidak didirikan untuk mengejar gelar, melainkan untuk menyuarakan perlawanan terhadap sistem yang menindas. Easton Cowboys menolak nilai-nilai konvensional sepak bola modern yang sarat komersialisasi. Sebaliknya, mereka membawa semangat anti-kapitalisme, anti-rasisme, dan anti-fasisme ke lapangan hijau. Aktivisme mereka bahkan melintasi batas negara. Klub ini pernah melakukan tur ke wilayah Zapatista di Meksiko untuk bertanding dengan komunitas lokal yang sedang berjuang melawan neoliberalisme. Bagi mereka, sepak bola adalah alat perjuangan, bukan sekadar permainan.
Setahun setelahnya, cerita serupa muncul di Jerman. Para suporter yang muak dengan rasisme di stadion dan ekspansi kapital dalam dunia sepak bola mendirikan Bündnis Antifaschistischer Fußballfans (BAFF) atau Aliansi Suporter Sepak Bola Antifasis. Gerakan ini berupaya mengembalikan sepak bola ke akar komunitasnya, sebagai ruang inklusif bagi semua. Melalui kampanye melawan diskriminasi, homofobia, dan fasisme, BAFF menghidupkan kembali wajah sepak bola sebagai medium kesadaran politik dan gerakan sosial.
Di Hamburg, Jerman, klub FC St. Pauli menjelma menjadi ikon global perlawanan dalam dunia sepak bola. Tim ini dikenal bukan hanya karena performa di lapangan, tetapi karena nilai-nilai yang mereka anut. Suporter St. Pauli secara konsisten membawa isu-isu sosial ke tribun stadion seperti anti kapitalisme, anti fasisme, dan solidaritas lintas identitas. Stadion mereka, Millerntor, telah lama menjadi ruang ekspresi politik yang penuh koreografi, mural, dan spanduk perlawanan.
Semangat itu juga menjalar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Di Bandung, misalnya, komunitas suporter membentuk klub-klub alternatif seperti Riverside Forest, Rainfall FC, Fortress Voetball Bond, hingga Port Gank Collective. Mereka tidak bermain untuk gelar, tetapi untuk merawat nilai-nilai kolektif dan resistensi terhadap dominasi kapital dalam sepak bola. Filosofi mereka sederhana: “football-friendship-forever”.
Namun, jejak perlawanan dalam sepak bola Indonesia sesungguhnya sudah dimulai jauh lebih awal. Pada 19 April 1930, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) didirikan sebagai bentuk protes terhadap rasisme kolonial. Saat itu, kompetisi resmi hanya terbuka bagi orang Belanda. Kaum pribumi lalu membentuk wadah tanding sendiri sebagai bagian dari kebangkitan nasional dan penolakan terhadap penjajahan. Sejak awal, sepak bola di Indonesia adalah tentang perjuangan dan harga diri.
Pada dekade 1990-an, di bawah cengkeraman rezim Orde Baru, stadion menjadi salah satu ruang publik yang relatif bebas. Suporter seperti Bobotoh, Viking, Jakmania, dan Aremania muncul dan tumbuh bukan hanya sebagai pendukung tim, tetapi juga sebagai komunitas yang merawat semangat kolektif rakyat. Menjelang lengsernya Soeharto, yel-yel, spanduk, dan koreografi di stadion mulai menyuarakan kritik sosial dan politik secara terselubung. Sepak bola menjadi tempat ekspresi saat ruang demokrasi begitu sempit.
Jejak panjang tersebut menunjukkan bahwa sepak bola tidak selalu identik dengan kompetisi dan bisnis. Dalam banyak ruang dan waktu, sepak bola telah menjadi alat perlawanan, kanal solidaritas, dan simbol keberanian untuk menantang ketidakadilan. Di balik sorotan lampu stadion, selalu ada cerita tentang orang-orang yang menolak tunduk, dan memilih untuk berjuang.
Penulis: Angeli Ramadhani
Editor: Muthia Zahra