Dilema Beli Buku Bajakan, Pengamat Sosiolog: Kondisi Prihatin

Dok: ©Pinterest

Dalam era di mana aksesibilitas informasi semakin mudah dan biaya hidup mahasiswa semakin meningkat, kontroversi muncul di lingkungan perguruan tinggi terkait dengan praktik pembajakan buku. Sebuah fenomena yang semakin umum terjadi di mana mahasiswa memilih untuk membeli buku bajakan daripada membeli buku asli, menimbulkan pertanyaan tentang etika, hukum, dan dampak ekonomi yang luas.

Dosen Sosiologi Untirta, Rizki Setiawan ikut berkomentar, “Sebenarnya secara umum kondisi perbukuan sudah memprihatinkan. Dapat dilihat dari banyaknya toko buku yang menutup usahanya ataupun yang mensiasati dengan membuka usaha lain, yang umum berupa kafe yang sekaligus menjual buku. Begitupula kampus sebagai pusat aktivitas akademik, sudah sedikit toko buku yang tersedia di dalam area kampus’” ujarnya (29/03/2024).

Sejalan dengan hal tersebut Rafi Ihsan, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 mengatakan bahwa merasa terpaksa membeli buku bajakan, terkait dengan harga buku yang relatif mahal dan kesulitan mencari buku yang asli, “Bagi saya pribadi, membeli buku bajakan dapat memberi keuntungan terutama ketika saya ingin membeli buku dari luar negeri dan kesulitan untuk mencari buku asli dan jika pun ada, mayoritas buku asli pun relatif mahal. Oleh karena itu saya memilih membeli buku bajakan karena lebih mudah didapat baik dari segi kuantitas maupun harga,” ucapnya (29/03/2024).

Berbeda dengan Rafi, Nazwa Pramesti Tipanutan, Mahasiswa Administrasi Publik Angkatan 2022 mengatakan bahwa “Menurut saya banyak alternatif lain selain membeli buku bajakan, kita dapat mengakses melalui e-book online atau website buku gratis lainnya, selain itu kita juga bisa meminjam buku di perpustakaan,” ujar Nazwa (29/03/2024).

Meskipun demikian, mereka tetap merasa menanggung perasaan bersalah karena membeli buku bajakan dan akan selalu mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin timbul jika mereka tetap memilih untuk melakukannya.

“Mungkin akan saya pertimbangkan, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi saya untuk tetap memilih buku bajakan jika tingkat kesulitan dalam mencari buku asli lebih sulit dan jika harganya pun relatif jauh lebih mahal,” tutur Rafi Ihsan (29/03/2024).

Penulis: Aura Maulida

Editor: Ira, Nahser