Resensi Buku: TE-WE Berkelana Sambil Menuliskan Kisahnya

Aku sangat beruntung sekali bisa menemukan buku TE-WE (Travel Writer)— being traveler, being writer yang ditulis oleh Mas Gol A Gong di mobil perpustakaan keliling Rumah Dunia. Buku dengan cover orang menyandang ransel dan bayangannya itu menarik untuk aku baca.

Apalagi aku akan menulis buku catatan perjalanan selama mengikuti kegiatan Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Negeri Gorontalo, Agustus-Desember 2023 mendatang.

Buku yang terbit pada 2013 ini, bukan hanya memberikan tips dan saran bagaimana menjadi penulis catatan perjalanan yang baik. Namun, Mas Gol A Gong memasukan pengalaman pribadinya yang sudah berkelana sejak SMA (1981).

Pengalaman Mas Gong berkelana itu lah yang menurutku menarik. Menjadi traveler sekaligus travel writer. Menjelajahi satu tempat ke tempat lain dengan cara menuliskannya. Honornya dipakai untuk melanjutkan perjalanan.

Di dalam buku ini, Mas Gong menjelaskan bahwa syarat menjadi penulis perjalanan tidak sulit. Hanya dengan melakukan perjalanan. Tidak perlu jauh atau keluar negeri, kampung halaman pun bisa menjadi bahan tulisan perjalanan jika mengangkat tema yang menarik.

“Penulis perjalanan adalah seseorang yang menulis catatan perjalanan dengan beragam sudut pandang, bisa tentang daerah tujuan wisata, keunggulan pariwisatanya, hotel, kebudayaan setempat, atau tentang dirinya. Bisa juga catatan itu disertai dengan tips bagaimana ke sana, makan di mana, menginap di mana (hotel), dan tiket (bus, kereta, pesawat, kapal laut) yang murah,” halaman 10.

Apa yang dijelaskan dalam buku TEWE sebenernya sudah sering aku dengar ketika Mas Gong mengisi kelas travel writing. Tetapi, ketika aku membaca buku ini, api semangat dalam diriku membara, ada keinginan yang kuat ingin berkelana dan menuliskannya.

Di Gorontalo nanti, aku akan menulis buku catatan perjalanan yang mengulas tentang sosial budaya masyarakat Gorontalo, makanannya, destinasi wisatanya dan mengeksplor alamnya yang indah.

Sebetulnya catatan perjalanan masuk ke dalam tulisan jurnalistik jenis feature, yaitu karangan khas. Jika kita mempertemukan dua lingkaran, yang pertama fakta dan kedua fiksi (non-fakta), wilayah pertemuan arsirannya adalah feature. Jadi, catatan perjalanan adalah fakta yang ditulis dengan feature

“Dalam menulis catatan perjalanan. Maksimalkan panca indra dengan menggunakan metode 5W+1H. Perhatikan sekeliling, Maksimalkan panca indra, seolah jadi mata kamera. Kenalilah Wilayah baru itu,” kata Mas Gong.

Buatku yang akan menulis catatan perjalanan, buku ini sangat membantu sekali. Apalagi diakhir bab, Mas Gong selalu memberikan tips dan trik soal traveling dan menulis catatan perjalanan.

Sekarang, aku sedang riset pustaka tentang Gorontalo. Mengumpulkan buku tentang Gorontalo, menonton video tempat wisata di sana, dan mengikuti akun-akun media sosial yang membahas soal Gorontalo.

Hal itu juga dijelaskan di buku TEWE, riset pustaka menjadi hal penting sebelum melakukan perjalanan. Selain itu, menulis catatan perjalanan yang baik bukan hanya sekedar 5W+1H. Tetapi juga memasukan unsur personal dan bagaimana menuliskannya menjadi sesuatu yang enak dibaca.

“Tulisan perjalanan saya merupakan karya tulis yang memadukan unsur jurnalistik, refleksi personal, dan keindahan sastra,” kata Mas Gong di buku TEWE.

Karena itu observasi sangat penting, ditunjang dengan perenungan, sehingga perjalanan yang dilakukan juga memberi manfaat kepada pembaca lebih daripada sekadar informasi jalan-jalannya.

Ada quote yang aku suka di buku ini

“Menjadi penulis perjalanan ibarat menjadi agent of changes, membawa angin perubahan bagi sebuah wilayah yang ditulisnya. Juga, tanpa disadari penulis perjalanan bisa menjadi humas suatu daerah: mempromosikan wilayah itu sehingga turis berdatangan. Penulis perjalanan mampu menemukan keunikan yang tidak bisa ditemukan oleh para turis. Penulis perjalanan adalah si penunjuk jalan sekaligus penerang.”

  • Penulis : Naufal Nabilludin
  • Editor : Iksan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *