Gaya komunikasi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam sejumlah pidato kembali menjadi perhatian publik. Sejumlah istilah yang disampaikannya, seperti “ndasmu” dan “londo ireng”, menuai perdebatan di tengah masyarakat, terutama terkait etika dan efektivitas pilihan bahasa yang digunakan dalam komunikasi publik.
Sebagai kepala negara, pidato Presiden menjadi salah satu bentuk komunikasi publik yang mendapat perhatian luas. Pilihan kata yang digunakan kerap menjadi sorotan dan memunculkan perdebatan mengenai etika komunikasi seorang pemimpin dalam menyampaikan pandangan maupun merespons kritik.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Azzumar Adhitia Santika, menilai penggunaan ungkapan yang kontroversial dalam pidato Presiden dapat membuat perhatian masyarakat bergeser dari substansi pidatonya.
“Di samping tidak etis, ini membuat pesan komunikasinya tidak efektif. Karena Presiden menambahkan istilah-istilah tidak etis, yang dibicarakan publik justru istilahnya, bukan pidatonya,” ujarnya saat diwawancarai oleh LPM Orange melalui WhatsApp (24/07/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa diksi kontroversial yang disampaikan Presiden memiliki nilai berita sehingga lebih mudah mendapat perhatian media. Menurutnya, gaya komunikasi seorang pemimpin juga dapat memengaruhi cara masyarakat melihat kepemimpinannya serta menjadi contoh bagi pejabat di bawahnya.
Azzumar menilai gaya komunikasi Presiden juga perlu dilihat dalam konteks hubungan antara pemimpin dan masyarakat. Menurutnya, kedekatan dengan masyarakat dapat dibangun melalui berbagai cara tanpa mengesampingkan etika komunikasi. Ia juga menilai kritik yang muncul seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi Presiden dan jajaran komunikasinya untuk memperbaiki cara penyampaian pesan.
Pilihan bahasa dalam komunikasi publik menjadi bagian penting dari cara seorang pemimpin menyampaikan pesan kepada masyarakat. Dalam konteks pidato Presiden, penggunaan diksi yang mendapat sorotan publik menunjukkan bahwa cara penyampaian pesan dapat memengaruhi perhatian masyarakat terhadap substansi maupun citra kepemimpinan.
Penulis: Nur Annisa Putri Pangestu
Editor: Elsa Leonita Damayanti