Saat laut Memutih, Karang Tak Lagi Pulih

Hamparan terumbu karang yang biasanya dipenuhi warna-warni kehidupan kini perlahan berubah menjadi putih pucat. Pemandangan tersebut bukan sekadar perubahan warna di bawah laut, melainkan sinyal bahwa ekosistem laut sedang menghadapi tekanan akibat perubahan iklim. Fenomena ini dikenal sebagai coral bleaching atau pemutihan terumbu karang, yang dalam beberapa tahun terakhir semakin sering terjadi di berbagai perairan Indonesia seiring meningkatnya suhu permukaan laut.

Pemutihan terumbu karang terjadi ketika karang mengalami stres akibat perubahan lingkungan, terutama kenaikan suhu laut. Dalam kondisi normal, karang hidup bersimbiosis dengan alga mikroskopis bernama zooxanthellae. Alga tersebut memberikan warna pada karang sekaligus menjadi sumber energi melalui proses fotosintesis. Namun, ketika suhu laut meningkat dalam waktu yang cukup lama, karang akan mengeluarkan alga tersebut sehingga kehilangan warna alaminya dan tampak memutih. Jika kondisi ini terus berlangsung, karang dapat kehilangan sumber energi utamanya, rentan terhadap penyakit, bahkan mengalami kematian.

Sumber: http://www.unimelb.edu.au

Dalam artikel “Fenomena Pemutihan Karang, Perlukah Mitigasinya?”, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjelaskan bahwa peningkatan suhu permukaan laut akibat perubahan iklim dan fenomena El Niño menjadi salah satu penyebab utama coral bleaching. Bahkan, kenaikan suhu hanya sekitar 1–2 derajat Celcius di atas suhu normal dalam periode tertentu sudah dapat memicu pemutihan terumbu karang secara massal.

Dampak dari fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh terumbu karang, tetapi juga oleh seluruh ekosistem laut. Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai jenis ikan, moluska, dan biota laut lainnya. Selain menjadi tempat berlindung dan berkembang biak, terumbu karang juga berfungsi sebagai pelindung alami pantai dari abrasi dan gelombang besar, serta mendukung sektor perikanan dan pariwisata yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat pesisir. Ketika terumbu karang rusak, keseimbangan ekosistem laut pun ikut terganggu.Indonesia memiliki sekitar 2,53 juta hektar terumbu karang atau sekitar 10 persen dari total terumbu karang dunia berdasarkan data KKP. Kawasan ini merupakan bagian dari Coral Triangle, wilayah dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia yang memiliki sekitar 569 jenis karang atau lebih dari 70 persen spesies karang dunia. Sayangnya, selain perubahan iklim, ekosistem ini juga menghadapi ancaman lain seperti pencemaran laut, sedimentasi, penangkapan ikan yang merusak, hingga aktivitas wisata yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, upaya perlindungan terumbu karang tidak cukup hanya melalui konservasi, tetapi juga memerlukan pengurangan penyebab kerusakan dari aktivitas manusia.

Sumber: http://geograpik.blogspot.com

Di tengah tantangan perubahan iklim, setiap orang tetap dapat berkontribusi melalui tindakan sederhana. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat energi listrik, menggunakan transportasi yang lebih ramah lingkungan, serta tidak membuang sampah ke sungai maupun laut merupakan langkah yang dapat membantu mengurangi tekanan terhadap lingkungan. Saat berwisata ke kawasan laut, pengunjung juga diimbau untuk tidak menginjak atau mengambil terumbu karang serta menjaga ekosistem bawah laut agar tetap lestari.

Berbagai upaya konservasi juga terus dilakukan oleh pemerintah, peneliti, dan komunitas lingkungan melalui pemantauan kondisi terumbu karang, rehabilitasi ekosistem, serta edukasi kepada masyarakat. Pada 2024, KKP melakukan penilaian terhadap fenomena pemutihan terumbu karang di sejumlah kawasan konservasi sebagai langkah mitigasi dan pemantauan dampak kenaikan suhu laut.

Fenomena coral bleaching menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya terlihat di daratan, tetapi juga berlangsung di bawah permukaan laut. Menjaga terumbu karang berarti menjaga rumah bagi jutaan biota laut sekaligus melindungi kehidupan masyarakat pesisir. Melalui kebiasaan yang lebih ramah lingkungan, setiap orang dapat berkontribusi menjaga kelestarian laut Indonesia. 

Penulis: Tsalwa Putri Andini

Editor: Angeli Ramadhani