Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia (SI) meluncurkan gerakan Reformasi Jilid II melalui aksi demonstrasi di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah pada 5 Juni 2026. Dalam aksi tersebut, mahasiswa memberikan ultimatum selama 18 hari kepada pemerintah untuk merespons tuntutan terkait perbaikan kondisi ekonomi, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, serta evaluasi sejumlah program pemerintah. Apabila tidak ditindaklanjuti, mahasiswa mengancam akan menggelar aksi yang lebih besar di berbagai daerah.
Gerakan tersebut muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap kondisi ekonomi nasional. Mahasiswa menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 perdolar AS, kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM), serta pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai perlu dievaluasi.
Gelombang aksi kemudian meluas ke berbagai daerah. Pada 12 Juni 2026, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar demonstrasi di Bundaran HI, Jakarta Pusat. Aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan yang mengusung tuntutan Reformasi Jilid II dan berlangsung serentak di berbagai wilayah Indonesia.
Gelombang aksi tersebut turut mendapat perhatian mahasiswa di berbagai daerah, termasuk di lingkungan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Galih Pratama, menilai gerakan tersebut merupakan bentuk peringatan kepada pemerintah agar lebih responsif dalam menangani berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Menurut saya, ini merupakan hal yang baik karena dapat menjadi alarm bagi pemerintah agar tidak terlalu lama menangani persoalan yang ada. Jika terdapat masalah yang disoroti mahasiswa, pemerintah harus segera menanganinya dan tidak mengabaikannya,” ujarnya saat diwawancarai oleh LPM Orange via WhatsApp (22/6/2026).
Menurut Galih, kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor yang memicu keresahan masyarakat dan mahasiswa. Ia menilai kenaikan harga kebutuhan pokok merupakan dampak yang paling dirasakan karena berpengaruh langsung terhadap kebutuhan sehari-hari.
“Misalnya, biaya makan yang sebelumnya sekitar Rp14.000 sampai Rp15.000, sekarang bisamencapai Rp19.000 untuk porsi yang sama,” ucapnya.
Meski demikian, Galih menilai kondisi Indonesia saat ini belum dapat disamakan dengan Reformasi 1998. Menurutnya, reformasi pada masa itu dipicu oleh krisis ekonomi, politik, dan kepercayaan publik yang terjadi secara bersamaan. Sementara itu, kondisi Indonesia saat ini dinilai masih relatif stabil sehingga wacana Reformasi Jilid II lebih tepat dipahami sebagai pengingat bagi pemerintah untuk segera mengevaluasi kebijakan dan merespons berbagai persoalan yang disampaikan masyarakat.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategi Campaign, Nasarudin Sili Luli. Ia menilai peluang terwujudnya Reformasi Jilid II masih relatif kecil dalam kondisi politik saat ini. Menurutnya, Reformasi 1998 dipicu oleh krisis ekonomi, krisis politik, dan konflik di kalangan elit. Sementara itu, kondisi saat ini dinilai masih ditopang stabilitas politik, koalisi pemerintahan yang kuat, serta komunikasi antar elit sehingga Reformasi Jilid II belum memiliki faktor yang cukup untuk berkembang menjadi gerakan nasional seperti Reformasi 1998.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah terkait ultimatum 18 hari maupun rencana aksi lanjutan yang sebelumnya disampaikan BEM SI.
Penulis: Siti Safirotun Najwa
Editor: Alma Shafuramah
Sumber
Mahaen, D. (2026, 18 Juni). Seberapa mungkin Reformasi Jilid 2 bisa terjadi? Kompas.com.https://share.google/0kXUkh8fzhEdhfKmF
Palupi, G. (2026, 12 Juni). Demo Reformasi Jilid 2 di Jakarta, BEM SI ultimatum pemerintah: Perbaikan ekonomi dalam 18 hari. TribunStyle.com. https://share.google/OVXWUfYdSexIfL3ju
Reza, M. (2026, 18 Juni). Pengamat sebut Reformasi Jilid II tak akan terjadi tanpa konflik elite politik. Forum Keadilan. https://share.google/kROPPNn2Ssjy5QtTJ
Yunus, S. R. (2026, 22 Juni). Aksi Reformasi Jilid II di Makassar berlanjut, serukan evaluasi total MBG dan Kopdes. Kompas.com. https://share.google/2uDyXeQdV6SzW5vw6