Penggunaan AI Image Generative, Tingkatkan Keterampilan Teknologi atau Hambatan bagi Kreativitas?

Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kian menggeser peran manusia dalam berbagai bidang, termasuk dunia visual. Melalui AI Image Generative, kini gambar bisa diciptakan hanya dari perintah teks. Kecanggihan tersebut memunculkan peluang baru sekaligus kekhawatiran akan hilangnya proses kreatif, rusaknya nilai orisinalitas, hingga potensi pelanggaran hak cipta.

Dengan demikian, kecanggihan teknologi AI dalam waktu yang singkat tentu menarik perhatian banyak pengguna, hanya dengan memasukkan kata kunci tertentu pada platform AI Generative, maka gambar yang diinginkan akan muncul. 

Seperti tren “Ghiblifikasi” yang dipopulerkan sejak akhir Maret 2025, fenomena tersebut memperlihatkan para pengguna memiliki kemudahan untuk menghasilkan gambar baru dengan gaya artistik Studio Ghibli hanya dengan menggunakan fitur baru yang dimiliki oleh OpenAI model GPT-4o. 

Tren “Ghiblifikasi” menghasilkan dua pandangan berbeda, mereka yang merasakan manfaat dari fitur tersebut tentu merasa terbantu dengan kemudahan yang tersedia. 

Di sisi lain tren “Ghiblifikasi” juga menuai kontroversi bagi para penikmat seni, khususnya Studio Ghibli. Menurut Hayao Miyazaki, salah satu pendiri Studio Ghibli, merasa bahwa tren tersebut merupakan bentuk ancaman halus bagi para seniman, seperti dikutip dari film dokumenter berjudul “Never-Ending Man: Hayao Miyazaki” (2016).

Namun, pada kenyataannya, penggunaan AI Image Generative juga kerap terjadi di kalangan mahasiswa, terlebih untuk pengerjaan tugas yang memerlukan desain visual. 

Dosen Komunikasi Visual, Rangga Galura Gumelar, menyampaikan pendapatnya bahwa tidak masalah jika seorang mahasiswa memanfaatkan teknologi AI untuk mencari sebuah referensi, tetapi akan menjadi kontroversi jika mereka secara sadar menggunakannya bukan sebagai referensi melainkan sebagai hasil. 

“Bagaimanapun, setiap orang itu punya ide masing-masing. Setiap orang punya konsep masing-masing. Kalau kita bicara pakai AI, mungkin awal-awal kamu akan oh, oke, bagus banget, tapi ketika kamu melakukan itu terus-menerus, originalitasnya nggak akan ada. Ketika ditanya, kenapa kamu konsepnya seperti ini, kamu nggak bisa menjelaskannya,” tegas Rangga saat diwawancarai secara langsung oleh LPM Orange (16/04/2025).

Orisinalitas merupakan hal penting dalam dunia desain, karena tiap individu tentu memiliki ide dan konsepnya tersendiri yang tidak bisa ditiru bahkan oleh teknologi AI. Ketika individu bergantung kepada AI, maka secara perlahan akan berimbas terhadap kreativitasnya. 

Rangga menambahkan bahwa suatu desain akan selalu mengedepankan kreativitas, etika, dan estetika. Kreativitas yang tidak disertai oleh norma dan estetika akan bernilai buruk. Tidak akan pernah dibenarkan jika seseorang menduplikat hasil AI image generative tanpa melalui proses riset panjang hanya karena menginginkan hasil yang instan.

“Saya selalu bilang kepada mereka (mahasiswa) karena mereka diberikan dan diajarkan oleh saya sebagai sebuah konstruktor, maka orisinalitas itu paling penting. Jangan pernah kalian, karena ingin shortcut, ingin cepat dan sebagainya mengambil karya yang lain. Secara landasan hukum nggak ada orisinalitasnya, kita sebagai desainer punya etika dan norma. Di dalam pembelajaran desain, sudah pasti jelas, estetika, etika, dan kreativitas itu tiga hal secara ideal,” pungkas Rangga.

Tidak ada yang menyebutkan secara sah bahwa penggunaan AI image generative merupakan bentuk dari plagiasi, tetapi hal ini secara tidak langsung merugikan pencetus gaya artistik tersebut, apalagi jika digunakan pada ranah komersial. Ketua komunitas TVP (Tirtayasa Visual Production), Michael Alberto, mengungkapkan pendapatnya terkait plagiasi karya dengan bantuan AI pada ranah komersial.

“Saya tidak terlalu tahu akan jawabannya kalau ditinjau dari aspek hukum atau peraturan yang ada, saya rasa seniman yang style karyanya ditiru tidak akan keberatan jikalau karya yang dibuat si peniru bukan untuk mencari laba dan karya tersebut tentunya dibuat dengan tenaga asli manusia,” ucap Michael saat diwawancarai online melalui Whatsapp oleh LPM Orange (24/04/2025).

Desain yang mengedepankan orisinalitas tidak bisa sepenuhnya bergantung pada kecerdasan buatan. Ketika sebuah karya diciptakan hanya melalui AI, desain tersebut cenderung kehilangan identitas dan ciri khas. Sebaliknya, karya yang lahir dari ide dan konsep pribadi seorang seniman akan mencerminkan karakter unik yang tidak dapat ditiru oleh kecanggihan buatan. 

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 4, Habibi, menyampaikan pandangannya mengenai hal yang perlu dijaga agar nilai kreatif manusia tidak hilang.

“Yang harus dijaga adalah nilai emosional, empati, dan cerita di balik desain. AI bisa meniru gaya, tapi tidak bisa benar-benar memahami latar budaya, emosi manusia, atau pesan sosial yang mendalam. Proses kreatif manusia punya sentuhan personal yang membuat karya lebih “hidup” dan bermakna,” tutup Habibi ketika diwawancarai online melalui WhatsApp oleh LPM Orange (25/04/2025).

Di saat waktu tidak bisa menghentikan perkembangan teknologi yang terus berjalan seiring zaman, AI hadir sebagai alat bantu yang mampu mempercepat pekerjaan dan memperluas akses terhadap teknologi. Namun, apakah ketergantungan pada AI benar-benar meningkatkan keterampilan manusia atau justru perlahan menghambat kreativitas dan menghilangkan orisinalitas suatu karya visual?

Penulis: Najma Jacindaliya

Editor: Laras Damasaty