Masalah Sampah Masih Berulang, Kesadaran dan Sistem Jadi Sorotan

Sampah menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang kerap dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Seiring meningkatnya aktivitas dan pola konsumsi masyarakat, volume sampah terus bertambah dari waktu ke waktu. Kondisi ini menyebabkan area permukiman dan fasilitas umum semakin terbebani. Di sisi lain, sistem pengelolaan sampah belum sepenuhnya mampu mengimbangi laju peningkatan tersebut. Akibatnya, persoalan sampah terus muncul sebagai masalah yang berulang.

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), Indonesia menghasilkan 33,79 juta ton sampah sepanjang tahun 2024, dengan sisa makanan dan plastik sebagai komposisi terbesar. Setiap orang rata-rata menghasilkan 0,7 hingga 1 kilogram sampah per hari, sementara 35,79 persen di antaranya belum terkelola. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah belum seimbang dengan jumlah yang dihasilkan.

Penanganan sampah di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, terutama akibat meningkatnya volume sampah yang tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan yang memadai. Pola pengelolaannya masih didominasi oleh metode kumpul, angkut, dan buang yang dalam pelaksanaannya menyebabkan kondisi penumpukan sampah di tempat pemrosesan akhir. Salah satu wilayah yang mencerminkan kondisi tersebut adalah Kota Tangerang Selatan, di mana pertumbuhan penduduk memicu bertambahnya sampah rumah tangga, khususnya sisa makanan dan plastik, serta menimbulkan masalah penumpukan di TPS dan lingkungan sekitar. 

Sementara itu, Kota Bandung juga menghadapi permasalahan sampah, terutama terkait pembuangan ilegal di kawasan Dago yang menimbulkan tumpukan sampah liar sehingga mencemari lingkungan dan mengganggu kenyamanan masyarakat.

Selain berdampak pada lingkungan, pengelolaan sampah yang buruk juga menjadi masalah bagi kesehatan masyarakat. Tumpukan sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi tempat berkembangnya nyamuk, lalat, dan tikus yang membawa berbagai penyakit, seperti demam berdarah, malaria, leptospirosis, hingga penyakit kulit.  Jika kondisi tersebut dibiarkan, risiko wabah penyakit dapat meningkat dan mengancam keselamatan serta kualitas hidup masyarakat, khususnya di sekitar TPS atau kawasan padat penduduk.

Upaya penanganan sampah perlu dilakukan secara berkelanjutan, melalui pemilahan sampah dari sumber, penguatan bank sampah, dan dukungan kebijakan pemerintah daerah. Sementara itu, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi beban TPA dan mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.

Penulis: Shafira Sugyananta 
Editor: Elsa Loenita Damayanti