Pesatnya kemajuan teknologi di era digital ini membuka jalan untuk kemajuan kecerdasan buatan atau yang lebih sering disebut ‘AI’. Awalnya, perkembangan AI dilakukan dengan penemuan ilmu komputer dan matematika, yang memberi bekal dasar untuk memahami dan memanipulasi data dengan baik. Sedangkan peningkatan kemampuan komputasi yang didorong oleh perkembangan dari mikroprosesor dan arsitektur komputer, sudah memungkinkan pemrosesan data dalam jumlah besar serta kecepatan yang tinggi.
Chat GPT (Generative Pre-training Transformer) merupakan salah satu produk AI yang dapat melakukan interaksi percakapan dengan berbentuk tulisan. Chat GPT dapat membantu manusia dalam berbagai keperluan. Mulai dari menerjemahkan bahasa, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab, membantu dalam menciptakan ide, dan lain-lain.
Karena memiliki beragam kegunaan dan mudah dalam pengaplikasiannya, Chat GPT juga banyak digunakan di bidang pendidikan, termasuk perkuliahan. Mahasiswa banyak yang menggunakan Chat GPT karena bisa membantu mereka dalam menyelesaikan tugas di dalam perkulihaan. Seperti yang dikatakan oleh Isni, mahasiswa Ilmu Komunikasi, “Aku pake Chat GPT biasanya buat cari-cari materi, buat referensi bikin ppt sama kalo lagi butuh ide buat nulis biasanya buka itu,” tutur Isni (15/05/2024).
Sejalan dengan hal itu, Chika, mahasiswa Ilmu Komunikasi berpendapat bahwa penggunaan Chat GPT cukup efektif dalam perkuliahan, “Menurut saya efektif, karena dengan penggunaan Chat GPT mempermudah kita dalam mencari sesuatu. Asalkan kita harus menggunakannya dengan bijak dan tidak asal menjiplak serta pastikan bahwa jawaban dari Chat GPT itu mempunyai sumber yg terpercaya,” ujar Chika (16/05/2024).
Chat GPT memang memiliki berbagai manfaat dan sangat membantu mahasiswa dalam pengerjaan tugas kuliah. Tetapi jika dilihat dari sisi yang berlawanan, Chat GPT justru berpotensi membuat mahasiswa menjadi malas untuk berpikir mandiri apabila telah disalahgunakan.
Berbeda dengan Isni dan Chika, Fajri, mahasiswa teknik industri, Ia menggunakan Chat GPT untuk mencari referensi atau mencari jawaban ketika pikirannya sudah mentok. Namun, ia juga merasa khawatir apabila mahasiswa akan ketergantungan dengan Chat GPT, “Akhir-akhir ini aku juga sempet mikir begitu. Apalagi perkembangan AI sekarang ini emang udah cepet banget, dan kalo rasa khawatir pasti ada, makanya aku selalu jadiin Chat GPT sebagai opsi akhir banget buat nyari jawaban dari soal,” ujar Fajri (15/05/2024)
Sedangkan mahasiswa Ilmu Pemerintahan yang bernama Stella, mengatakan bahwa ia bukanlah salah satu dari pengguna Chat GPT karena menurutnya, jawaban yang diberikan tidak akurat. Ia berpesan agar mahasiswa tidak ketergantungan dalam menggunakan Chat GPT, “Semoga mahasiswa itu bisa sadar bahwa kita kuliah untuk memiliki cara pandang terhadap masyarakat, khususnya ilmu pemerintahan. Memiliki rasa ingin membentuk perubahan di masyarakat. Apalagi terbelakangan yang dimiliki masyarakat di pedalaman,” ujar Stella (16/05/2024).
Penulis: Danish Najwa Aliya
Editor: Ira Nazliyah