Ada di Logo UNTIRTA, Menara Masjid Agung Banten Punya Fakta Menarik

Sumber: Kemenkeu.go.id

Bagi banyak mahasiswa UNTIRTA, logo kampus hanyalah simbol yang akrab dilihat setiap hari dan seolah menjadi bagian dari rutinitas yang jarang dipertanyakan. Di baliknya tersimpan kisah tentang Menara Masjid Agung Banten yang tidak banyak diketahui, dengan makna mendalam yang menyertainya.

Masjid Agung Banten merupakan salah satu peninggalan bersejarah dari masa Kesultanan Banten yang memiliki keunikan tersendiri. Dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin sekitar tahun 1560 hingga 1570, masjid ini telah berusia lebih dari 400 tahun dan menjadi salah satu masjid tertua di Indonesia, yang masih berdiri hingga saat ini. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, keberadaannya juga menjadi bukti sejarah berkembangnya Islam di wilayah Banten sejak masa kerajaan.

Keunikan Masjid Agung Banten terletak pada nilai sejarahnya serta arsitekturnya yang khas. Masjid ini menjadi pertemuan tiga budaya besar Jawa, Cina, dan Eropa yang berpadu secara harmonis. Atapnya yang bertumpuk khas Jawa menjulang berlapis tanpa kubah, memberikan kesan sederhana namun penuh makna. Bentuk tersebut sekilas mengingatkan pada pagoda dengan sentuhan budaya Cina. Di sisi lain, menaranya menyerupai mercusuar menghadirkan nuansa Eropa yang kuat. Perpaduan ini mencerminkan keterbukaan kehidupan masyarakat Banten di masa lalu tanpa meninggalkan jati diri lokal.

Salah satu bagian paling mencolok dari Masjid Agung Banten adalah menaranya yang berbentuk silinder tinggi menyerupai mercusuar, dengan bagian atas bertingkat seperti pagoda. Keunikan ini menjadikannya ikon arsitektur yang mudah dikenali dan berbeda dari menara masjid pada umumnya. Menara ini tidak hanya menjadi penanda visual, tetapi juga  memiliki nilai fungsi praktis dengan sekitar 83 anak tangga yang menghubungkan hingga ke puncak, yang pada masa lalu digunakan untuk mengumandangkan azan sekaligus mengawasi wilayah sekitar. 

Di bagian dalam masjid terdapat tiang-tiang utama yang dikenal sebagai soko guru, yang berfungsi sebagai penopang bangunan serta bagian penting dari  arsitektur tradisional. Soko guru juga memiliki makna simbolis sebagai lambang kekuatan, kestabilan, dan kesatuan, sehingga bangunan ini mampu bertahan hingga ratusan tahun.

Secara keseluruhan, kawasan ini tidak hanya merepresentasikan fungsi keagamaan, tetapi juga mencerminkan nilai sejarah dan budaya yang kuat. Kedekatannya dengan kompleks makam para sultan memperkuat makna tersebut, sehingga kini tetap berkembang sebagai destinasi religi dan edukasi yang menarik bagi masyarakat dari berbagai daerah.

Penulis: Fatiya Helcy Azzahra
Editor: Elsa Leonita Damayanti