Sumber: LPM Orange
Aliansi Pendidikan Gratis (APATIS) telah menyelenggarakan kegiatan berupa diskusi publik membahas terkait sistem pendidikan yang terjadi pada masa sekarang yakni gugatan tentang biaya pendidikan seperti Iuran Pembangunan Institusi (IPI), Uang Kuliah Tunggal (UKT), dan sebagainya khususnya di Untirta itu sendiri yang akan menuju agenda PTN-BH. Kegiatan ini dilakukan di Teater Terbuka, Untirta Pakupatan pada Kamis (3/10/2024).
Kegiatan diskusi tersebut bertemakan “Melayat Pendidikan” dan telah dilakukan ketiga kali setelah dilaksanakan di dua Universitas lainnya. Serta, kegiatan ini akan terus dilakukan di berbagai kampus yang bersedia untuk menjadi tuan rumah dari acara tersebut.
Sekretaris Jendral SGMI sekaligus Mahasiswa Fakultas Hukum Untirta, Ananda Eka atau biasa disapa Nanda, menyampaikan terkait dengan langkah yang telah diambil oleh APATIS yaitu menggugat aturan PERMENDIKBUD No 2 Tahun 2024. Nanda juga menambahkan bahwasanya pihak aliansi telah meminta untuk mengajukan kembali untuk diuji.
“Kami telah menggugat terkait aturan PERMENDIKBUD No 2 Tahun 2024 melalui MA, namun untuk saat ini kami hanya memantau melalui website karena MA tidak mensosialisasikan secara langsung,” ujar Nanda saat diwawancarai via Whatsapp (04/10/2024).
Ia juga menambahkan bahwasanya gugatan yang ia ajukan telah ditolak oleh Mahkamah Agung (MA), dan juga pihak APATIS mempertanyakan terkait hal ini. Asumsi Nanda terdapat kecacatan pada formil, karena terdapat kesalahan berkas.
“Kalau menurut asumsi saya pribadi, ini ada kaitannya dengan kecacatan formil dalam hal pemberkasan. Namun, kami tetap menunggu koferensi PERS dan konsolidasi oleh tim APATIS serta kawan hukum LBH Jakarta” tambah Nanda.
Pelaksanaan kegiatan tersebut tak hanya membahas terkait isu pendidikan, tetapi juga terdapat kegiatan lainnya seperti bedah buku, penampilan seni dan bakat, dan juga bertukar pikiran.
“Kalau untuk rangkaian kegiatan, kami memiliki kegiatan yang beragam tetapi masih sesuai dengan tujuan kami, seperti bedah buku yang berjudul laut bercerita, panggung teater, dan juga saling berdiskusi bertukar pikiran,” tutur Nanda.
Nanda selaku pemateri diskusi publik tersebut juga menyebutkan bahwasanya antusiasme mahasiswa Untirta dinilai cukup kurang,
“Kami melihat bahwasanya antusiasme mahasiswa Untirta sangat kurang, dilihat dari kehadirannya yang sangat sedikit dan malah yang hadir lebih banyak dari pihak luar Untirta itu sendiri,” ucap Nanda.
Kegiatan APATIS ini sangat menyoroti terkait dengan komersialisasi dan privatisasi yang dilakukan setelah adanya agenda PTN-BH ini, Nanda menyampaikan penolakan terkait banyaknya jalur masuk Universitas yang menjadi ladang dalam komersialisasi, tetapi terdapat juga sisi positif melalui regulasi PTN-BH ini.
“Kami menolak terkait komersialisasi di bidang pendidikan seperti jalur masuk yang perlu mengeluarkan biaya mahal bagi calon mahasiswa. Namun di lain sisi, kami juga merasa bahwasanya regulasi PTN-BH ini juga bagus untuk mengembangkan potensi universitas,” tutur Nanda.
Ia juga menuturkan bahwasanya kegiatan APATIS telah dilakukan untuk menyuarakan isu mengenai pendidikan di berbagai kampus di Indonesia, tetapi sayangnya partisisipasi aliansi di kampus Untirta dinilai sangat kurang dalam menyuarakan isu PTN-BH ini.
“Kami menyuarakan terkait isu ini untuk berbagai kampus, lalu selanjutnya aliansi kampus Untirta perlu menyuarakan juga tetapi aliansi kampus Untirta selama ini kemana?,” tegas Nanda.
Hingga saat ini teman-teman APATIS terus berjuang menyuarakan suara-suara yang sulit untuk didengar, begitu juga dengan harapan Nanda yang mewakili teman-temanya agar ada titik terang dari perjuangan ini.
“Harapan dari kita sih semoga ada titik terang ya kedepannya, karena kami telah melakukan cara melalui berbagai macam jalur,” tutup Nanda.
Penulis: Wawan Nova Saputra
Editor: Ira Nazliyah