Fenomena mahasiswa perantau yang pulang setiap akhir pekan semakin sering terlihat di Kota Serang, terutama pada hari Jumat sore ketika terminal dan stasiun mulai dipadati penumpang. Banyak mahasiswa memilih kembali ke rumah meski jaraknya jauh dan membutuhkan biaya perjalanan tambahan. Kebiasan ini memunculkan pandangan bahwa mereka yang sering pulang dianggap kurang mandiri atau belum benar-benar jadi anak kos.
Bagi sebagian mahasiswa, merantau berarti belajar jauh dari keluarga dan menata kemandirian. Beberapa tahun terakhir, akses transportasi yang mudah serta berbagai pilihan perjalanan yang lebih fleksibel, membuat pengalaman merantau berubah. Rumah tidak lagi terasa sejauh dulu. Kos menjadi tempat singgah, sementara rumah tetap menjadi sebuah tempat pemulihan emosional.
Tren pulang tiap akhir pekan ini menjadi identitas sosial baru dalam kehidupan mahasiswa perantau. Ada yang menganggap sebagai bentuk ketergantungan pada rumah, tetapi ada pula yang memaknainya sebagai cara menjaga kesehatan mental dan kedekatan keluarga.
Menanggapi hal tersebut, mahasiswa Ilmu Komunikasi asal Bogor, Fauzia Noreen, mengaku lebih memilih pulang setiap akhir pekan karena suasana kos yang sepi membuatnya lebih nyaman di rumah.
“Di kos sendirian, kalau di rumah rame. Ada adik-adik, bisa ngobrol, makan juga lebih enak,” papar Fauzia saat diwawancarai via WhatsApp oleh LPM Orange pada Sabtu, (01/11/2025).
Perjalananya tidak begitu dekat. Ia naik kereta setiap Jum’at dari Stasiun Serang menuju Bogor. Waktu, tenaga, dan biaya tentu terlibat. Namun, baginya, itu sebanding dengan rasa lega ketika pintu rumah dibuka dan keluarga yang menyapanya.
Fauzia juga menegaskan bahwa kebiasaan pulang setiap pekan tidak membuatnya kehilangan kemandirian. Ia tetap mengurus kebutuhan pribadi baik di kos maupun saat berada di rumah.
“Aku tetap bisa ngurus diri sendiri kok. Beres-beres, cuci piring, atur jadwal kuliah, itu tetap aku sendiri yang urus. Bedanya, di rumah suasananya lebih ramai dan hangat aja,” jelasnya.
Berbeda dengannya, salah satu mahasiswa Administrasi Publik asal Wonosobo, Chaya Khairunnida, merupakan salah satu mahasiswa yang jarang pulang. Ia menyebut jarak dan biaya sebagai pertimbangan utama.
“Kalau jauh begitu, pulang tuh bukan cuma soal kangen. Namun, waktu, tenaga, dan biaya,” ujar Chaya saat diwawancarai via telepon oleh LPM Orange pada Sabtu, (01/11/2025).
Tinggal jauh dari keluarga membuatnya belajar mengelola hidup secara mandiri. Ia mengaku dulu hampir semua hal dibantu oleh orang tua, tetapi kini harus melakukan semuanya sendiri. Pengalaman itu justru membuatnya merasa lebih berani dan percaya diri.
Meski sudah terbiasa hidup mandiri, bukan berarti ia bebas dari rasa rindu terhadap rumah. Untuk mengatasinya, Chaya akan menelepon keluarga atau melihat arsip foto lama. Cara sederhana itu tidak langsung menghapus rindu, tapi cukup menenangkannya.
Hal ini sejalan dengan artikel Kompas yang menyebut bahwa menjaga komunikasi dengan orang tua dapat membantu mengurangi homesick dan menjaga kestabilan emosi. Jadi, fenomena ini tidak dapat disederhanakan menjadi ‘mandiri’ atau ‘tidak mandiri’. Dengan demikian, baik yang sering pulang maupun yang jarang pulang adalah bentuk adaptasi yang sama-sama valid, tergantung kebutuhan emosional, jarak, dan kondisi individu.
Pilihan untuk pulang ke rumah atau menetap di kos, bukan soal mandiri atau pun tidak, karena setiap mahasiswa memiliki caranya masing-masing untuk menjaga dirinya tetap baik saat jauh dari rumah. Bagian terpenting bukan seberapa sering pulang, tetapi bagaimana seseorang mampu merawat diri, bertanggung jawab, dan menata hidupnya selama merantau.
Penulis: Zafira Kasih
Editor: Muthia Zahra
Referensi
Puspapertiwi, E. R. (2023). Cara Mengatasi “Homesick” untuk Anak Kos. Kompas.Com. https://amp.kompas.com/tren/read/2023/08/16/140000065/cara-mengatasi-homesick-untuk-anak-kos
Triyono, W., Khasanah, N., & M, S. (2023). Kelekatan terhadap Orang Tua dengan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Perantau Semester Pertama dari Luar Provinsi Banten. Merpsy Journal, 15(1), 55. https://doi.org/10.22441/merpsy.v15i1.19873