“Part of the problem is that everyone is in such a hurry. People haven’t found meaning in their lives, so they’re running all the time looking for it.”
Mitch Albom dalam bukunya yang berjudul Tuesday with Morrie yang terbit pada tahun 1997 di Crainlegh, United Kingdom, menjelaskan bahwa ada hal-hal tertentu yang hanya bisa dilihat apabila manusia berjalan, bukan berlari. Artinya, ada pengalaman berharga yang hanya dapat dirasakan ketika seseorang menikmati proses perjalanan, dan tidak terlalu terfokus pada hasil akhir. Memang, hasil akhir itu penting, tetapi yang paling berharga dari semua itu justru adalah pengalaman yang didapatkan sepanjang jalan menuju garis akhir. Dalam bukunya, ia mengambil beberapa pelajaran dari seorang guru yang bernama Morrie Schwartz untuk menjadi seorang pribadi yang bijaksana, nilai tersebut tertuang dan memiliki beberapa poin penting bagi kehidupan.
Siklus Kehidupan Manusia
Sebelum mengulik lebih jauh tentang konsep kehidupan, dalam buku ini, Morrie menjelaskan terkait siklus kehidupan sosial manusia. Ia mengatakan bahwa masyarakat berasal dari fenomena sosial dan peradaban. Seutuhnya, manusia selalu menghadapi siklus kehidupan yang berbeda. Mereka dilahirkan, muda, menua, sakit, dan juga mati. Akan ada reaksi yang berbeda terhadap setiap bagian dari keadaan ini. Bahagia muncul ketika ada kelahiran yang diberikan oleh seorang ibu. Namun, reaksi mereka juga akan berbanding terbalik ketika seseorang yang dikenal menghadapi penuaan, penyakit, dan kematian. Oleh karenanya, siklus kehidupan sangat beragam bak sebuah adegan film.
Setiap Waktu yang Dimiliki Ialah Berharga
Sering kali kita terjebak dalam ketakutan terhadap tindakan yang akan dilakukan, tetapi Morrie mengatakan “The most important thing is this: To be able at any moment to sacrifice what you are for what you will become” yang berarti kita sebagai manusia perlu mengambil suatu tindakan yang akan menjadi pendorong untuk menjalani hidup sesuai dengan yang kita inginkan. Morrie juga menekankan bahwa saat kita menyadari waktu adalah sumber daya paling berharga dan tidak dapat diperbarui, kita akan lebih berhati-hati dan selektif dalam menggunakannya.
Fokus dengan Apa yang Kita Miliki
Jika hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain, maka kita belum tepat dalam memaknai kehidupan. Melalui kutipan “Do the kinds of things that come from the heart. When you do, you won’t be dissatisfied, you won’t be envious, you won’t be longing for somebody else’s things. On the contrary, you’ll be overwhelmed with what comes back” Morrie menjelaskan bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang memberikan kontribusi positif bagi orang lain. Kita melakukan sesuatu sesuai dengan diri sendiri, tanpa iri pada apa yang dimiliki orang lain, sehingga rasa puas hadir sebagai hasil dari apa yang sudah kita lakukan. Hal tersebut tidak harus berupa pencapaian besar atau yang dapat berpengaruh besar, tetapi bisa sesederhana mendengarkan dengan empati, memberikan dukungan di saat sulit, atau berbagi kebijaksanaan dengan sesama manusia.
Belajar untuk Mati, Maka Kamu Belajar untuk Hidup
Apakah segala hal perlu dilakukan secara bijaksana? Dalam kutipannya “The truth is . . once you learn how to die, you learn how to live.” Morrie mengungkapkan apabila kita memiliki kesadaran bahwa suatu hari nanti kita akan mati, semuanya akan berada di luar jangkauan. Namun, bukan berarti kita perlu terus-menerus memikirkan akan kematian, tetapi sebagai manusia yang bijaksana, kita perlu menghargai dan menghormati atas apa yang hanya dapat dimiliki dalam waktu yang terbatas. Oleh karenanya, kita perlu menggunakan setiap momen dari waktu itu untuk melakukan sesuatu yang tidak akan disesali apabila kematian itu datang.
Buku Tuesday With Morrie tak hanya menjadi sebuah kisah antara guru dan murid, tetapi menjadi sebuah kompas bagi siapa saja yang sedang mencari makna hidup. Percakapan yang terurai oleh Morrie menuntun kita untuk memahami bahwa, hidup, kebijaksanaan, dan kesederhanaan jauh lebih bernilai daripada segalanya. Buku ini meninggalkan pesan kuat bahwa kehidupan yang sejati tidak diukur dari lamanya kita hidup dan seberapa hebat kita, melainkan dari seberapa dalam kita mampu mencintai dan memberi selama hidup. Membaca karya ini, rasanya bak duduk di kelas terakhir kehidupan—kelas yang tidak memberi sebuah gelar terhormat di ujung namamu, tetapi meninggalkan kebijaksanaan yang akan terus menyertai langkah.
REFERENSI
Albom, mitch. (1997). Tuesday with morrie. Cranleigh: Anchor books.
Suarniti, G. A. M. R. (2019). Values of Life in Mitch Albom’s “Tuesday With Morrie”. RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa, 5(2), 91-96.
Medium.com. (2023, 14 April). tuesdays with Morrie — Memaknai Sisa Hari. Diakses pada 11 September 2025, dari https://medium.com/@bookduce48/tuesdays-with-morrie-memaknai-sisa-hari-970168bbdc99
Penulis: Wawan Nova Saputra
Editor: Muthia Zahra