Dalam memperingati hari Kartini, sebaiknya kita mengenang kembali pejuang kemerdekaan bagi para perempuan di Indonesia dengan menonton film yang berjudul Kartini. Oleh karena itu, Cup of Tea kali ini, akan membahas film Kartini yang berbasis pada perkembangan hidup dan kepribadian dari R.A. Kartini, yang merupakan gadis Jawa yang menjadi pemimpin feminisme di Indonesia pada zaman kolonial Belanda. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo, produser film Kartini ialah Robert Ronny.
Film ini menceritakan tentang perjuangan Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Sosok Kartini digambarkan sebagai seorang perempuan yang tak segan melawan orang yang menentangnya, serta inspirasi bagi semua orang, khususnya kaum muda. Dalam film ini juga diceritakan pula tentang kehidupan Kartini yang mengalami diskriminasi berdasarkan tradisi patriarki. Film Kartini menampilkan bagaimana pemikirannya yang maju melampaui zamannya dan menggambarkan upaya-upaya Kartini untuk mengangkat hak pada pengusaha di daerah setempat dan mendidik rakyat biasa, serta kegigihannya untuk dapat sekolah tinggi.
Pemikiran Kartini yang maju diawali dengan adanya diskriminasi secara turun menurun yang di mana saat Kartini kecil, ia dilarang untuk tidur bersama ibunya karena tradisi yang mengharuskan seorang ibu untuk menjadi pembantu bagi anak-anaknya dan tidak diperbolehkan untuk tidur bersama anak-anaknya karena dianggap sebagai pembantu.
Pada saat ia beranjak dewasa, ia harus dipingit dan tidak diperbolehkan untuk keluar rumah mengikuti tradisi turun menurun. Kemudian kakaknya, Raden Mas Panji Sosrokartono, membawakan buku-buku dari Belanda untuk dibaca oleh Kartini dan adik-adiknya.
Kartini meminta pelajaran menulis dari istri Tuan Ovink Soer, seorang penulis Belanda yang berkunjung ke rumahnya. Tulisannya kemudian dipublikasikan atas nama ayahnya. Raden Mas Selamet, kakak Kartini, mengetahui pemikiran radikal Kartini dan mengawasinya, menyortir surat dan membakar yang dianggap radikal. Namun, dengan cerdiknya, Ia mengirim surat kepada istri Tuan Ovink Soer dan berakhir Kartini dan keluarganya diajak pergi ke Semarang untuk menemui seorang tuan dari Belanda yang kagum oleh tulisan Kartini. . Di sana, Kartini menulis tentang seni ukir Jepara dan mendapat tawaran pameran di Belanda. Setelah kembali, Kartini, ayah, dan kakaknya bertemu pengrajin ukir Jepara. Meskipun ditolak awalnya, Kartini berhasil meyakinkan mereka, meningkatkan pesanan dan perekonomian Jepara.
Kartini mulai membagikan ilmunya dengan cara mengajarkan orang-orang membaca alfabet. Kartini berusaha untuk memperbaiki pendidikan, kesehatan publik, kesejahteraan ekonomi, dan seni tradisional di negaranya dengan menekankan pentingnya pendidikan wanita untuk pengembangan masyarakat. Setelahnya, ia terus mengadvokasi untuk pendidikan wanita.
Pada saat Kartini ingin diperistri oleh sang Bupati, ia memiliki persyaratan yang salah satunya adalah Kartini ingin suaminya nanti dapat membantunya dalam membangun sekolah wanita dan orang miskin. Akhirnya ia disetujui dan berhasil membuka sekolah pertama untuk wanita Indonesia yang tidak diskriminatif berdasarkan status sosial.
Film Kartini dianggap sangat inspiratif karena menampilkan keberanian Kartini dalam menghadapi kondisi yang sulit bagi wanita di masa itu. Film ini menunjukkan bagaimana Kartini memajukan emansipasi wanita di Indonesia. Karena kegigihannya, Kartini berhasil menghadapi tantangan yang signifikan dalam upaya untuk mengubah status wanita di masyarakat Jawa pada zaman itu, termasuk tantangan terhadap tradisi dan tekanan sosial.