Sumber: X/neohistoria_id
Setiap tahunnya pada 21 April Indonesia akan memperingati Hari Kartini. Hari Kartini menjadi peringatan untuk mengingat dan mengenang perjuangan-perjuangan Kartini dalam memperjuangkan hak dan emansipasi wanita Indonesia. Namun, Perjuangan Kartini untuk wanita Indonesia rupanya telah dijunjung tinggi sejak masa demokrasi terpimpin oleh sebuah organisasi Sayap Kiri, yakni Gerwani.
Gerakan Wanita Indonesia atau kerap dikenal Gerwani merupakan sebuah organisasi perempuan di Indonesia yang berdiri sejak 4 Juni 1950. Organisasi ini didirikan oleh seorang pejuang perempuan bernama Umi Sardjono. Awalnya organisasi ini bernama Gerwis, yakni Gerakan Istri Sedar, yang kemudian pada tahun 1954 berganti nama menjadi Gerwani. Yang bermula hanya memiliki 500 anggota saja saat terbentuknnya organisasi ini, tahun 1961 tercatat Gerwani memiliki anggota lebih dari satu juta orang.
Gerwani mengartikan seorang Kartini sebagai perintis jalan kemajuan dan kebebasan bagi kaum wanita Indonesia. Dapat dikatakan, Gerwani menjadikan Kartini sebagai seorang wanita yang menginspirasi (role-model) bagi organisasi ini untuk melanjutkan perjuangan-perjuangan Kartini mengenai wanita Indonesia. Perjuangan Kartini seirama dengan cita-cita Gerwani sendiri, yakni perempuan menjadi seseorang yang maju. Perempuan yang maju bagi Gerwani diartikan sebagai perempuan yang berani untuk bersuara dan emansipasi dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kartini menjadi role-model Gerwani tercermin dari majalah yang diterbitkan oleh Gerwani berjudul Api Kartini. Majalah yang diambil dari nama Kartini ini menjadi ruang menulis bagi wanita-wanita Gerwani seputar masak-memasak, pengasuhan anak, mode, dan sebagainya. Selain itu, majalah ini juga mengangkat soal-soal yang bersifat feminis dan kiri, misalnya mengenai kebutuhan akan taman kanak-kanak (sekolah), dan kejahatan Imperialisme, yang mana persoalan ini merupakan sebagian dari perjuangan yang diperjuangkan oleh Kartini.
Selain itu, menjadikan Kartini sebagai role-model juga membuat Gerwani terinspirasi untuk terlibat aktif dalam pergerakan wanita internasional. Semangat Internasionalisme Kartini bagi Gerwani dianggap menjadi tanda kesetiakawanan wanita Indonesia dalam melawan imperialisme, kapitalime, dan feodalisme.
Namun, perjuangan Gerwani harus padam dan terhenti pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965. Penggambaran PKI sebagi ateis dan anti-nasionalis membuat afiliasinya termasuk Gerwani harus terkena dampaknya, hingga pada puncaknya, yakni tahun 1966, organisasi perempuan golongan kiri ini resmi dilarang keberadannya. Meskipun saat ini Gerwani telah hilang, tetapi dedikasinya dalam memperjuangkan hak dan emansipasi wanita Indonesia akan selalu tercatat dalam sejarah.
Penulis : Hanna
Editor : Jiya