Brave Pink, Hero Green, dan Resistance Blue Menggaungkan Perlawanan dari Jalan

Akhir Agustus lalu, jalanan Indonesia kembali bergemuruh. Ribuan orang dari berbagai latar belakang, seperti mahasiswa, buruh, pengemudi ojek online, hingga masyarakat sipil, turun memenuhi jalan. Pusatnya ada di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Jakarta, tempat pagar kawat berduri dan barisan aparat berlapis menghalangi massa. Protes itu lahir dari satu hal yang sederhana, tetapi mengusik nurani, yaitu kenaikan tunjangan DPR yang dianggap tidak masuk akal di tengah kesulitan rakyat.

Publik menolak tunjangan perumahan hingga Rp50 juta per bulan, kenaikan gaji dan fasilitas tambahan, serta menuntut transparansi penuh atas anggaran dan pendapatan anggota dewan. Di tengah krisis ekonomi, langkah DPR itu dianggap sebagai bentuk ketidakpekaan sekaligus bukti semakin lebarnya jarak antara wakil rakyat dan rakyat sendiri.

Tak hanya di Jakarta, aksi meluas ke Medan, Makassar, Surabaya, hingga Pontianak. Di beberapa kota, ketegangan meningkat, seperti pos polisi yang dibakar, bentrokan pecah, dan tragedi pun terjadi. Salah satunya menimpa Affan Kurniawan, pengemudi ojek online berusia 21 tahun yang meninggal tertabrak kendaraan taktis polisi saat mengantar pesanan. Namanya kemudian diabadikan dalam slogan dan warna yang terus dibawa ke jalanan.

Namun, di balik teriakan dan gas air mata, lahir bahasa lain yang tak kalah kuat dalam bentuk warna. Tiga warna muncul sebagai simbol yang menyatukan narasi rakyat, yakni Resistance Blue, Brave Pink, dan Hero Green. Masing-masing lahir dari kisah nyata, lalu berkembang menjadi ikon perjuangan yang tak bisa diabaikan.

Sumber: X @/everyonewoo__

Resistance Blue: Biru yang Melawan Narasi Kekuasaan

Segalanya bermula dari warna biru. Bukan biru laut yang menenangkan, melainkan biru terang yang nyaris menusuk mata. Warna ini muncul sebagai tandingan terhadap “baby blue” yang selama ini digunakan rezim untuk mencitrakan diri sebagai sosok lembut, damai, dan penuh kepedulian. Warga yang turun ke jalan melihat kontras itu, lalu mengubah biru lembut menjadi biru lantang yang dinamakan Resistance Blue.

Biru ini mewakili penolakan terhadap penyamaran moral yang digunakan penguasa. Ia menjadi simbol bahwa masyarakat tidak lagi mau dininabobokan oleh ilusi warna lembut. Seperti yang ditulis oleh jurnalis Dhia Awanis dalam catatan protesnya di Medium, warna ini adalah bahasa visual untuk membongkar pintu-pintu kebisuan yang terlalu lama terkunci, seperti unggahan Peringatan Darurat dengan simbol Garuda biru yang muncul di media sosial sebagai protes terhadap DPR beberapa waktu lalu.

Sumber: Google @/katadata.co.id

Ketika spanduk, mural digital, dan filter media sosial dilapisi Resistance Blue, pesan yang terkirim sederhana tetapi kuat, ada kemarahan, keteguhan, dan penolakan total terhadap topeng yang dipakai kekuasaan.

Brave Pink: Hijab Bu Ana dan Keberanian yang Lembut

Di tengah kepungan aparat di depan gedung DPR, seorang perempuan paruh baya berdiri teguh dengan hijab merah muda. Namanya ibu Ana. Kehadirannya dalam demonstrasi tak pernah ia rencanakan untuk jadi simbol, tetapi fotonya yang beredar luas mengubah pink menjadi bahasa baru sebagai keberanian yang lembut.

Sumber: Google @/diswaypekalongan.id

Merah muda biasanya diasosiasikan dengan kelembutan, feminitas, bahkan ketidakberdayaan. Namun dalam protes ini, warna itu bertransformasi menjadi kekuatan. Brave Pink melawan stereotipe, ia menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu lantang, kadang hadir dalam keteguhan yang tenang. Antara ketakutan dan tekad, ibu Ana memilih berdiri, dan warna hijabnya menjadi penanda.

Media nasional dan internasional menyebut momen itu sebagai lambang solidaritas dan harapan, bukan hanya bagi perempuan, tetapi juga bagi siapa pun yang berani menegakkan martabat kemanusiaan.

Hero Green: Dari Jaket Ojol Menjadi Warna Pahlawan

Jika biru adalah suara perlawanan, dan merah muda adalah wajah keberanian, maka hijau menjadi warna pengorbanan. Ceritanya berawal dari Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online berusia 21 tahun. Saat mengantar pesanan, Affan tertabrak kendaraan taktis polisi dan nyawanya tak tertolong.

Jaket hijau yang ia kenakan hari itu seketika menjadi lebih dari sekadar identitas kerja. Ia berubah menjadi simbol kepahlawanan kelas pekerja. Mereka yang sering berada di pinggiran narasi besar, tetapi justru menanggung beban paling nyata. Hero Green lahir dari tragedi, tetapi tumbuh menjadi penanda solidaritas.

Sumber: instagram @/menjadimanusia.id

Di media sosial, ribuan orang mengganti foto profil mereka dengan filter hijau dan pink. Di jalanan, poster-poster dengan tulisan “Brave Pink Hero Green” diangkat tinggi, seolah ingin memastikan bahwa pengorbanan Affan tidak dilupakan. 

Ketiga warna ini kemudian bertemu dalam ruang publik, membentuk sebuah palet perlawanan yang kaya makna. Resistance Blue menegaskan penolakan terhadap tipu daya kekuasaan. Brave Pink menawarkan wajah empati dan keberanian yang tenang. Hero Green menghadirkan solidaritas pekerja yang berani membayar harga termahal.

Komnas Perempuan mendukung pemakaian atribut Brave Pink sebagai bentuk solidaritas digital untuk perempuan dan ruang publik yang aman. Di sisi lain, penggunaan Hero Green oleh komunitas ojek online memperluas spektrum protes bahwa ini bukan hanya gerakan mahasiswa atau aktivis, melainkan suara rakyat kecil yang ikut mewarnai. 

Dari tuntutan soal pencabutan tunjangan fantastis DPR, transparansi anggaran, hingga desakan reformasi politik, rakyat menyatukan suara lewat simbol dan warna. Aksi ini kemudian dirangkum dalam slogan “17+8 Tuntutan Rakyat”, yang berisi agenda jangka pendek maupun panjang untuk mengembalikan demokrasi ke jalur yang sehat.

Dalam bentangan spanduk dan mural, warna-warna itu tak sekadar estetika. Resistance Blue menandai penolakan, Brave Pink menyuarakan empati, dan Hero Green memanggil solidaritas. Ketiganya membentuk palet perjuangan, bahasa visual rakyat ketika kata-kata tak lagi cukup.

Penulis: Angeli Ramadhani

Editor: Muthia Zahra