Mengenang Reformasi, Angin Perubahan Bernama Pemuda

Sumber : belajar.kemdikbud.go.id

Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia!

—Ir.Soekarno

Kata-kata di atas merupakan salah satu ungkapan bersejarah yang diucapkan presiden pertama kita, Ir. Soekarno. Dari kata-kata tersebut, kita dapat memaknai bahwa pemuda adalah salah satu tonggak penting dalam sebuah bangsa. Pemuda kerap kali mengambil peran strategis sebagai aktor penting dalam menentukan arah suatu bangsa. Hal ini dibuktikan dengan peran para pemuda dalam setiap peristiwa bersejarah Indonesia seperti Kebangkitan Nasional, Proklamasi Kemerdekaan, peristiwa Tri Tuntutan Rakyat (Tritura), bahkan Reformasi 1998.

Bulan ini, 24 tahun yang lalu pIndonesia menghadapi sebuah gejolak politik yang besar. Pemuda dan aktivis bergerak menuju perubahan yang kelak akan menjadi salah satu peristiwa bersejarah, yaitu reformasi. Gerakan ini terjadi ketika zaman Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Pemerintahan saat itu mengeluarkan berbagai kebijakan dan peraturan yang terkadang tidak memihak pada rakyat. Berbagai kasus pun terjadi mulai dari kekerasan, korupsi, kesewenang-wenangan, dan berbagai masalah lainnya. Hal ini membuat rakyat Indonesia dari berbagai golongan geram dan bersatu dalam satu gerakan untuk menuntut reformasi.

Pergerakan awal pemuda

Bermula ketika pergerakan mahasiswa dan rakyat terjadi di salah satu kota, yaitu Kota Medan pada 6 Mei 1998. Himpunan Mahasiswa Islam Sumatera Utara melakukan unjuk rasa yang terpusat di beberapa titik seperti Gedung DPRD Sumut, Lapangan Benteng, dan Lapangan Merdeka. Saat itu, banyak toko, kendaraan, dan fasilitas umum yang dirusak dan dijarah. Perisitiwa ini menyebabkan 5 orang dipastikan tewas dan puluhan orang mengalami luka-luka.

Demonstrasi juga terjadi di Kota Yogyakarta pada 8 Mei 1998. Para mahasiswa melakukan unjuk rasa dengan tuntutan yang sama yaitu perubahan dan menuntut mundurnya Presiden Soeharto. Namun, tampaknya kekerasan selalu digunakan aparat untuk meredam unjuk rasa mahasiswa. Terjadi banyak kekerasan antara aparat dengan mahasiswa yang menyebabkan 1 orang tewas dan banyak korban terluka.

Lalu, terjadilah peristiwa Trisakti. Tragedi Trisakti dilatarbelakangi oleh beberapa faktor seperti krisis politik, ekonomi, kepercayaan, dan hukum. Kala itu, ekonomi Indonesia mulai goyah pada awal tahun 1998 oleh krisis ekonomi Asia yang terjadi sepanjang 1997-1999. Ditambah lagi, pemerintahan saat itu dinilai anti kritik dan kekuasaan terlalu berpusat pada kontrol dan campur tangan Presiden Soeharto.

Hingga akhirnya, pada 12 Mei 1998 terjadi demonstrasi besar-besaran di depan Universitas Trisakti, Jakarta. Saat itu mahasiswa melakukan aksi dalam gelombang besar ke Gedung Nusantara, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti. Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju Gedung Nusantara. Namun, aksi mereka dihambat oleh blokade polisi dan militer. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak polisi. Ketika para mahasiswa bergerak mundur, aparat keamanan pun mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa.

Hal itu membuat mahasiswa dan aktivis yang ada ditempat menjadi rusuh dan bercerai-berai. Aparat keamanan terus melakukan penembakan hingga menyebabkan jatuhnya korban. 4 orang mahasiswa Trisakti dipastikan tewas tertembak dan 1 orang dalam keadaan kritis. Hasil autopsi menunjukan bahwa penyebab kematian disebabkan oleh peluru tajam. Hal ini berlawanan dengan pengakuan pihak keamanan yang menyatakan bahwa mereka tidak menggunakan peluru tajam.

Peristiwa tersebut kemudian menyulutkan semangat dan rasa solidaritas pemuda Indonesia. Kekerasan yang dilakukan aparat kemanan saat itu menjadi sebuah pukulan bagi mahasiswa untuk semakin yakin bahwa reformasi dan perubahan harus terjadi. Hingga pada tanggal 13-14 Mei 1998, mahasiswa di berbagai daerah bergerak serentak dalam gelombang besar untuk berdemonstrasi dan berhasil menciptakan momen bersejarah, yaitu menduduki Gedung DPR dan MPR.

Pada akhirnya, perjuangan dan pergerakan mahasiswa berujung manis. Demostrasi yang terjadi memicu berbagai keributan dan kekacauan sehingga keadaan menjadi tidak terkendali. Ketika Presiden Soeharto memutuskan membentuk Kabinet Reformasi, beberapa menteri yang terpilih memutuskan untuk mengundurkan diri.

Pada tanggal 21 Mei 1998, berbagai kekacauan yang terjadi berujung memaksa Presiden Soeharto untuk meletakkan jabatannya di depan Mahkamah Agung. Ditunjuklah wakilnya, B.J. Habibie untuk menggantikan posisinya.

Berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia telah membuktikan bahwa pemuda adalah aktor dalam menentukan arah bangsa. Pemuda Indonesia menggambarkan keteguhan, keberanian, dan perjuangan rakyat. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1998 menjadi bukti bahwa ada satu benteng terakhir bagi rakyat memperjuangkan hak-haknya, yaitu pemuda Indonesia.

  • Penulis : Rafif
  • Editor : Asri