Menyingkap Tabir Orde Baru: Perjuangan, Penderitaan, dan Harapan dalam Laut Bercerita

Gambar: Pinterest

Hai hai, apa kabar semuanya?

Pada Cup of Tea kali ini, kalian akan ku ajak masuk ke dalam buku yang super keren karya Bu Leila S. Chudori yang berjudul Laut Bercerita.

Saat membaca buku Laut Bercerita, kalian harus menyiapkan diri kalian untuk bertualang dari satu kota ke kota lain, dari perjuangan satu ke perjuangan yang lain dan tidak lupa siapkan tisu ya!

Latar waktu pada buku ini mulai dari tahun 1991-2007. Buku ini menyoroti peristiwa-peristiwa kelam yang ada pada masa Orde Baru. Bagaimana Orde Baru membungkam suara aktivis-aktivis dan meredam suara rakyat. Dalam proses pembuatan buku ini, Leila S. Chudori, mewawancarai beberapa aktivis yang dahulu sempat diculik dan disiksa.

Buku Laut Bercerita ini berisi tentang perjalanan perjuangan seseorang mahasiswa UGM jurusan Sastra Inggris yang sangat menyukai tengkleng bernama Biru Laut. Perjalanan perjuangan dalam buku ini tidak akan hanya diisi oleh perjuangan dari Biru Laut saja, tetapi juga ada teman-temannya yang sama-sama peduli akan keberlangsungan demokrasi pada negara ini. Pergerakan-pergerakan yang mereka lakukan dengan susah payah itu tidak lain salah satunya untuk memperjuangkan hak kebebasan di negeri ini serta memperjuangkan suara rakyat. Bayangkan saja pada zaman itu membaca buku karangan Pram dianggap seperti dosa besar. Orang-orang yang ingin membaca buku-buku tersebut harus sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan.

Tidak ada rasa takut, menyerah dan berhenti berharap pada kening Biru Laut dan teman-temannya di Winatra dan Wirasena. Keresahan akan situasi demokrasi di tanah air ini seakan menjadi bahan bakar bagi keberanian yang meluap-luap pada diri mereka. Diintrogasi, disekap, dipukul, ditendang, disetrum sampai disiksa di atas balok es sudah dirasakan oleh mereka. Penculikan, penyiksaan sampai pembunuhan akan nyambangi orang-orang yang memiliki pikiran kritis pada zaman itu.

Asmara Jati dan keluarga dari teman-teman Biru Laut yang hilang, mencari mereka dengan berbagai cara. Salah satunya dengan cara membentuk Komisi Orang Hilang. Kedua orang tua Biru Laut yang selalu menganggap bahwa anak laki-laki satu-satunya itu akan muncul dan menghidupkan suasana rumah itu kembali. Sejak Biru Laut hilang, kedua orang tuanya hidup dalam sebuah kepompong dan enggan untuk keluar dari sana karena hanya di sanalah mereka mereka merasakan kehangatan akan masih adanya kehadiran Biru Laut, putra mereka satu-satunya. Asmara, salah satu tokoh perempuan hebat yang ada pada buku ini. Ia mencari kakaknya, menjalankan studi kedokteraanya, menghadapi kedua orang tua yang selalu menghidupkan penyangkalan akan fakta hilangnya anak laki-lakinya itu.

Emosi kalian akan memuncak apabila menemukan pengkhianat yang sesungguhnya pada buku ini. Buku ini sangat menguras emosi dan air mata karena beberapa bagian pada buku ini sangat menyayat hati. Narasi pada buku ini membuat pembaca seakan-akan ikut hadir dalam setiap perjalanan Biru Laut dan teman-temannya karena buku ini menuliskan secara rinci kegiatan yang dilakukan setiap tokohnya.

Kesedihan yang mendalam perihal kehilangan orang terkasih dapat mengubah kehidupan orang yang ditinggalkan. Buku ini juga mengajarkan kita untuk waspada tanpa terkecuali teman yang selama ini kita percayai. Dari buku ini juga kita dapat mengetahui sejarah kelam dan perjuangan mahasiswa untuk mewujudkan demokrasi yang seperti sekarang ini. Jangan sampai mengekangan atas kebebasan bersuara terjadi kembali.

Penulis: Alisha

Editor: Jiya