Fenomena Silent Quitters di Kalangan Mahasiswa: Ketika Kuliah Hanya Sekadar Formalitas

Di tengah dinamika kehidupan mahasiswa, fenomena silent quitting semakin terlihat, terutama di kalangan mahasiswa yang minim kontribusi dalam perkuliahan. Fenomena ini menggambarkan sikap pasif mahasiswa dalam menjalankan tanggung jawab akademis. Mereka mengikuti perkuliahan dan kegiatan kampus hanya dengan usaha minimal, seperti hanya hadir untuk memenuhi absensi, tetapi tidak aktif berkontribusi dalam diskusi, tugas kelompok atau proses pembelajaran lainnya.

Fenomena ini muncul dari berbagai macam faktor yang dapat memengaruhi, diantaranya karena mahasiswa memiliki kegiatan di luar yang berlebihan, mempunyai pekerjaan, ataupun terdapat berbagai masalah yang terjadi di lingkup luar. Untuk mencari tahu lebih lanjut, diadakan wawancara melalui WhatsApp kepada Mahasiswa yang diduga merupakan salah-satu Mahasiswa “Silent Quitters”.

Menurut H, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untirta angkatan 2023, manajemen waktu adalah kunci utama agar keseimbangan antara perkuliahan dan kegiatan lain tetap terjaga. 

“Gua ngejalaninnya dengan perhitungan, 80% fokus ke kuliah, sisanya kegiatan kampus yang gua suka. Jadi sejauh ini cukup balance sama goals yang mau gua capai,” ujarnya, Jumat (27/12/2024).

Namun, H juga mengakui, rasa malas sering kali hadir, tetapi di lain sisi ia punya cara unik untuk mengatasinya, seperti menciptakan suasana yang kondusif. 

“Kadang gua pilih tempat yang proper buat ngerjain tugas, kayak cafe atau teras rumah. Kalau di kamar terus, bawaannya malas,” jelasnya.

Fenomena ini juga disoroti oleh Y, teman H sesama mahasiswa Ilmu Komunikasi. Ia mengatakan bahwa sikap pasif mahasiswa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. 

“Ada yang kuliah terpaksa karena disuruh orang tua, atau sibuk sama urusan pribadi. Tetapi kalau mereka udah nggak peduli sama nilai atau kontribusi, itu baru bisa dibilang beban,” tuturnya, Jumat (27/12/2024).

Sementara itu, Isti Nursih Wahyuni selaku Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, menyampaikan keprihatinannya terhadap mahasiswa yang sering absen dan minim kontribusi. 

“Fenomena ini sangat memprihatinkan, apalagi ketika mahasiswa tidak melaksanakan amanah orang tua untuk belajar. Setiap hasil itu sesuai dengan prosesnya. Kalau prosesnya malas-malasan, ya hasilnya tidak maksimal,” tegasnya, Jumat (27/12/2024).

Selain itu, Ia juga menekankan pentingnya komunikasi apabila mahasiswa mengalami masalah, baik dengan dosen pembimbing akademik ataupun pihak jurusan. 

“Jangan pendam sendiri. Kita punya layanan konseling untuk membantu mahasiswa mengatasi permasalahan mereka,” tambahnya.

Melihat fenomena ini, silent quitting merupakan satu tantangan besar, baik bagi mahasiswa maupun institusi pendidikan. Dibutuhkan kesadaran dari mahasiswa untuk lebih bertanggung jawab dalam menjalankan perannya, serta dukungan dari lingkungan kampus untuk menciptakan suasana belajar yang lebih inklusif dan suportif.

Penulis: Nadira