Kalian pasti sudah tidak asing dengan kata FOMO yang berarti Fear of Missing Out. Orang yang FOMO akan selalu takut dirinya ketinggalan tren yang sedang hits saat ini. Ia akan selalu memaksakan atau berusaha untuk selalu tampil up to date. Namun, pernahkah kalian mendengar atau membaca terkait “JOMO”?
JOMO sendiri merupakan singkatan dari Joy of Missing Out yang memiliki arti perasaan gembira ketika melewatkan sesuatu. FOMO mempunyai konotasi yang buruk, sedangkan JOMO adalah kebalikannya. Konsep dari JOMO sendiri adalah mendorong kita untuk melakukan apa yang benar-benar ingin dilakukan tanpa terpengaruh oleh kebiasaan atau tren yang sedang berlangsung.
Jika FOMO merupakan rasa atau ketidakinginan tertinggal dari hal-hal yang sedang tren, Joy of Missing Out (JOMO) lebih senang untuk tidak mengikuti apa yang sedang tren saat ini, karena bagi JOMO, keinginan pribadi dan kesenangan pribadilah yang harus diutamakan. FOMO seringkali menjadikan hidup kita lebih terburu-buru dan apa yang kita lakukan cenderung merupakan sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar ingin kita lakukan.
Diselimuti rasa takut akan tertinggal tren, mendorong kita untuk melakukan hal- hal yang sebenarnya tidak penting. Berbeda dengan konsep FOMO, JOMO cenderung akan membuat kita menjalani hidup dengan lebih berhati-hati, tidak memikirkan apa yang dikatakan oleh orang lain, serta melakukan apapun yang kita inginkan.
Media sosial dapat menjadi alasan mengapa seseorang menjadi FOMO. Seringkali kita ingin sekali terlihat keren dan tidak ketinggalan zaman. Bahkan, terkadang kita mempunyai keinginan untuk mendapatkan validasi dari orang lain di dunia maya. Hal-hal tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan seseorang menjadi “FOMO”, dan terkadang membuat mereka akan melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan bahkan bahkan memaksakan hal tersebut.
Misal, saat kamu diajak ke sebuah coffee shop yang sedang naik daun sekali pada saat itu. Di sisi lain kamu sedang merasa lelah dan tidak ingin melakukan hal apapun. Kamu bisa memilih tetap di kosan untuk beristirahat dan menolak ajakan temanmu daripada memaksakan ke tempat tersebut dengan dalih “sedang tren”.
Kita bisa menerapkan konsep Joy of Missing Out (JOMO) agar dapat lebih fokus pada diri sendiri tanpa melupakan orang sekitar. JOMO dapat menjadi penangkal dari dampak negatif Fear Of Missing Out (FOMO). Memulai membuat jurnal dapat membuat kita lebih fokus pada kegiatan yang ingin dilakukan. Dengan menulis jurnal juga, kita tidak akan lagi melupakan hal-hal yang perlu dilakukan sehingga tidak ada lagi yang menghambat produktivitas. Selain itu, memulai detoks media sosial, yaitu melepas sementara dari hiruk pikuk dunia maya dengan menghapus atau menonaktifkan media sosial akan menghindari kita dari perasaan FOMO.
Penulis: Alisha
Editor: Hanna
sumber: