Sumber: Untirta
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untirta telah menggelar Dies Natalis ke- 21 dengan mengusung tema “Dari FISIP Untuk Banten”. Ketua Dies Natalis FISIP UNTIRTA Dr. Ail Muldi, menyambut ulang tahun FISIP Untirta ini dengan mengusung slogan “21 tahun: dari FISIP untuk Banten” artinya bahwa berdirinya Fisip Untirta telah berkontribusi secara nyata dalam pengembangan masyarakat dan tata kelola Provinsi Banten. Namun, Dies Natalis FISIP 2024 yang telah di laksanakan, seharusnya menjadi momen perayaan, apresiasi atas capaian akademis dan refleksi, sayangnya dihantui oleh beberapa masalah mendasar dalam pelaksanaannya.
Dies Natalis FISIP Untirta tahun ini dihadapkan pada berbagai kritik terkait masalah komunikasi dan koordinasi antara pihak fakultas dengan Ormawa yang bertugas mengelola berbagai kegiatan dan lomba. R, seorang anggota Ormawa yang terlibat dalam penyelenggaraan acara, mengungkapkan kekecewaannya terhadap komunikasi yang dilakukan oleh pihak fakultas. “Gelaran Dies Natalis kemarin rasanya masih banyak kekurangan yang harus dibenahi oleh penyelenggara, yaitu pihak fakultas. Rasanya perlu dibenahi dari segi komunikasi dan koordinasi agar acara berlangsung efektif,” kata R.
Ia menambahkan bahwa kurangnya komunikasi yang baik dari pihak fakultas menyebabkan terjadinya miss communication terutama terkait dengan penyerahan tanggung jawab lomba kepada Ormawa tanpa ada arahan yang jelas. “Ya, kami membenarkan, karena kurangnya koordinasi dan komunikasi serta penyerahan PJ lomba ke masing-masing Ormawa, hal itu yang membingungkan kita dan misscom pun tidak bisa dihindari,” tambah R.
Meskipun demikian, R juga memberikan apresiasi terhadap beberapa aspek positif dari acara tahun ini, seperti adanya inovasi dalam bentuk kegiatan ilmiah yang diadakan. “Saya mengapresiasi pada tahun ini banyak kebaharuan yang dilakukan di acara Dies Natalis. Banyak kegiatan dari rangkaian Dies Natalis yang memang sifatnya ilmiah,” ungkapnya.
Namun, ia menekankan bahwa perbaikan tetap diperlukan agar kesalahan-kesalahan yang terjadi tahun ini tidak terulang di masa mendatang. “Kritiknya adalah mungkin penyelenggaraan selanjutnya harus dikonsepkan dengan baik agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan seperti tahun ini,” tutup R.
Bayu, anggota Ormawa yang turut berkontribusi dalam acara ini menyatakan bahwa komunikasi antara pihak fakultas dan Ormawa masih belum berjalan dengan baik. Menurutnya, hal ini terlihat dari beberapa aspek teknis yang tidak tersampaikan dengan jelas kepada Ormawa sebagai Penanggung Jawab (PJ) di setiap lomba. “Saya rasa ada beberapa hal komunikasi yang dilakukan kurang baik dengan Ormawa yang sebagai PJ di setiap lomba,” katanya.
Salah satu isu yang paling menonjol dalam acara Dies Natalis FISIP Untirta 2024 adalah masalah pembagian hadiah. Kekecewaan terbesar muncul dalam pembagian hadiah lomba esai tingkat nasional, di mana hadiah yang diberikan tidak sesuai dengan ekspektasi dan dianggap meremehkan pentingnya lomba tersebut.
“Menindaklanjuti dari kekecewaan yang berdampak ke depan adalah ketika pembagian hadiah perlombaan esai tingkat nasional itu, karena kami hanya mengikuti arahan untuk melakukan announcement pembagian hadiah kepada peserta pemenang lomba esai tersebut. Jika memang berhalangan hadir tidak dipermasalahkan dan akan dikirimkan nanti untuk hadiahnya, tetapi jika yang bisa hadir dipersilahkan hadir dan tidak ada announcement dari pihak fakultas pembagian hadiahnya satu bulan kedepan. Maka yang terjadi adalah kekecewaan terhadap peserta pemenang lomba tersebut yang sudah hadir jauh-jauh dari luar kota tapi tidak dibagikan hadiahnya langsung di tempat,” jelas Bayu.
Kekecewaan juga disampaikan oleh B, salah satu pemenang lomba yang mengkritisi pemotongan hadiah uang yang diterimanya. B, yang meraih juara kedua dalam salah satu lomba, seharusnya menerima Rp300.000, tetapi uang yang ia terima hanya Rp250.000. “Jadi uang yang harusnya aku terima itu Rp300.000 karena aku juara dua kan. Nah tapi yang aku terima cuma Rp250.000” keluh B.
Ia merasa sedih dan kecewa karena hadiah yang diterimanya tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan.
Meskipun pihak fakultas telah mengumumkan bahwa peserta yang mengalami pemotongan hadiah akan diajak berbicara untuk klarifikasi, B mengaku tidak bisa hadir pada pertemuan tersebut dan merasa bahwa penjelasan yang diberikan tidak memadai.
B berharap bahwa masalah ini bisa menjadi pelajaran bagi penyelenggara Dies Natalis di masa mendatang, agar hal serupa tidak terjadi lagi. “Harapan saya untuk Dies Natalis selanjutnya mungkin lebih dipersiapkan lagi. Terutama hal-hal yang krusial, apalagi Ini kan uang ya, sedikit sensitif gitu loh. Nah itu mungkin dapet diperbaiki lagi gitu di Dies Natalis selanjutnya,” katanya.
Dalam menanggapi keluhan yang dilontarkan oleh Ormawa dan peserta lomba, Wakil Dekan Bidang III FISIP Untirta, Ika Arinia Indryani, memberikan klarifikasi. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak mendengar adanya komplain langsung dari pihak Ormawa atau peserta terkait pelaksanaan acara Dies Natalis. Menurutnya, peran Dekan dan Wakil hanya sebatas mengawasi jalannya acara, sedangkan tanggung jawab pelaksanaan diberikan kepada Ormawa.
“Saya malah nggak dengar ada komplain gimana-gimana. Soalnya kalau Wakil Dekan kan cuma sebagai pengawasan aja gitu. Memang kalau saya lihat memang bentuk acaranya, semua kegiatan di-takeover atau di-handle sama Ormawa. Cuma terkait komplain dan bentuk koordinasinya seperti apa sih, itu saya tidak dengar,” jelasnya.
Ika Arinia menilai bahwa pelibatan Ormawa dalam penyelenggaraan acara merupakan langkah yang baik untuk memberikan mereka pengalaman, namun ia juga mengakui bahwa ada beberapa aspek koordinasi yang perlu diperbaiki.
Berbagai kritik dan keluhan yang muncul dari acara Dies Natalis FISIP UNTIRTA 2024 ini menunjukkan bahwa ada beberapa aspek yang perlu dievaluasi secara menyeluruh. Mulai dari masalah komunikasi dan koordinasi antara pihak fakultas dan Ormawa, hingga transparansi dalam pembagian hadiah, semuanya membutuhkan perhatian yang lebih serius agar acara di masa mendatang dapat berjalan lebih lancar dan sukses.
Ormawa dan peserta lomba menyetujui bahwa komunikasi yang lebih terbuka dan jelas antara semua pihak yang terlibat sangat diperlukan. Selain itu, ada harapan bahwa pihak fakultas dapat lebih proaktif dalam memberikan arahan yang lebih jelas kepada Ormawa, serta lebih responsif terhadap masukan dan kritik yang diberikan berbagai pihak.
Penulis: Erika
Editor: Ira Nazliyah