FISIP Untirta Gelar Diskusi Publik Sejarah September Hitam, Menilik Pentingnya Nilai Keadilan HAM

Sumber: LPM Orange

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa telah menyelenggarakan sebuah diskusi publik yang membahas mengenai Sejarah September Hitam pada Rabu (21/08/2024). Diskusi ini merupakan Vol. 1 dari rangkaian acara Road to Black September, dengan tema “Merajut Ingatan, Melawan Ketidakadilan” sebuah peristiwa penting yang perlu diingat dan dipelajari bersama-sama. Bertujuan untuk mengulas lebih dalam mengenai kejadian-kejadian tragis yang terjadi pada bulan September dalam sejarah Indonesia, yang melibatkan tokoh-tokoh penting dan berdampak besar bagi perjalanan bangsa.

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Angkatan 2022, Nabil Zahran, sebagai salah satu pemateri menjelaskan, “Hal yang menjadi alasan utama saya dan kawan-kawan ormawa di lingkar kastrat FISIP dalam menyelenggarakan aksi tersebut bahwa sangat amat penting bagi setiap orang mampu memahami dan memaknai betapa pentingnya nilai-nilai Hak Asasi Manusia itu untuk selalu dijunjung tinggi. Selain itu, melalui aksi tersebut juga kita sebagai mahasiswa sekaligus generasi muda penerus bangsa untuk mampu mengingat dan merajut kembali akan ingatan sejarah bangsa ini,” kata Nabil saat diwawancarai via WhatsApp (24/08/2024).

Ia menyebut hal ini juga dikarenakan September Hitam merupakan salah satu serangkaian sejarah kelam yang pernah terjadi di negara  yang katanya demokrasi ini, tetapi dengan mudahnya menindas dan mengabaikan nilai penting dari hadirnya Hak Asasi Manusia. Betapa banyak para aktivis mahasiswa maupun tokoh tokoh lainnya yang menjadi korban atas kekejian rezim yang memimpin di negara ini.

Respon mahasiswa yang mengikuti diskusi publik mengenai Sejarah September Hitam sangatlah positif dan interaktif sehingga menciptakan ruang dialektis yang sangat logis. Bukan hanya dari kalangan ormawa saja, tetapi beberapa mahasiswa baru pun turut menghadiri kegiatan diskusi tersebut. Sebab, dengan adanya diskusi juga tentu saja sebagai sarana dan upaya pencerdasan sebagai mahasiswa.

“Dalam melancarkan aksi ini, sesuai dengan tema yang diusung, yakni “Merajut Ingatan, Melawan Ketidakadilan”, tentu kami membawa tujuan yang teramat penting pula. Sehingga tujuan yang kami bawa dalam aksi tersebut ialah untuk memberikan rasa kesadaran dan kepekaan akan pentingnya peran dan pengaruh dari mahasiswa dalam mengejawantahkan nilai nilai keadilan, terutama keadilan akan HAM untuk selalu ditegakkan,” jelas Nabil.

Ia menambahkan tujuan dari menyelenggarakan aksi ini juga agar mampu mengambil sebuah pelajaran dari hikayat arti nilai perjuangan sesungguhnya atas sejarah kelam yang terjadi di negeri Indonesia. Selain itu, dari adanya momentum ini dapat menjadi api yang terus membara dan membakar serta membangkitkan rasa semangat sebagai mahasiswa untuk terus berjuang dan selalu meneguhkan peran dan pengaruh positif bagi masyarakat.

Selain itu, Nabil berharap dengan terselenggaranya kegiatan ini adalah agar menjadi momentum bagi para mahasiswa untuk mengingat kembali bagaimana ketidakadilan masih sering terjadi di negeri ini, terutama terhadap rakyat kecil. Sebagai penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah, mahasiswa harus tetap sadar, peka, dan tanggap akan pentingnya penegakan hak asasi manusia.

“Mari kita terus berperan aktif. Masih banyak rakyat kecil yang butuh suara kita, dan inilah saatnya kita menunjukkan peran kita sebagai agent of change. Bersama, kita bisa memperjuangkan keadilan dengan semangat yang membara,” kata Nabil.

Sejalan dengan hal tersebut Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Angkatan 2021, Galuh Dimas Wardanni, mengungkapkan alasan utama dalam mengadakan kajian terkait September Hitam adalah untuk mengingatkan kembali masyarakat, khususnya mahasiswa, tentang pentingnya memahami sejarah kelam bangsa ini. Tragedi yang terjadi pada September Hitam bukan hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga sebagai pengingat tentang pentingnya menjaga hak asasi manusia dan demokrasi di Indonesia. Ia merasa bahwa sebagai generasi penerus, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk memahami, mendiskusikan, dan belajar dari peristiwa tersebut agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali.

“Alhamdulillah, respon mahasiswa terhadap kegiatan kajian ini cukup positif. Banyak yang merasa mendapatkan wawasan baru dan memahami lebih dalam tentang kompleksitas peristiwa September Hitam. Mereka juga terlibat aktif dalam diskusi, menunjukkan minat yang besar dalam menggali lebih jauh dampak dari peristiwa tersebut terhadap situasi sosial dan politik Indonesia saat ini,” kata Galuh saat diwawancarai via WhatsApp (24/08/2024).

Galuh lalu menjelaskan, tujuan utama dari kajian ini adalah untuk membangkitkan kesadaran kritis mahasiswa terhadap sejarah bangsa, terutama dalam konteks pelanggaran hak asasi manusia. Dirinya berharap melalui kajian ini, mahasiswa dapat menjadi lebih peka terhadap isu-isu sosial dan politik, serta memiliki keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan. Selain itu, ia ingin mendorong generasi muda untuk terus memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan.

Galuh melihat ada peningkatan kesadaran di kalangan mahasiswa mengenai pentingnya memahami sejarah kritis. Mereka mulai lebih peduli dan tertarik untuk terlibat dalam diskusi mengenai hak asasi manusia dan keadilan sosial. Beberapa mahasiswa bahkan menunjukkan inisiatif untuk mengadakan kajian lanjutan atau terlibat dalam gerakan sosial yang terkait dengan isu-isu yang diangkat dalam kajian ini.

“Pesan saya adalah jangan pernah lupa akan sejarah, terutama sejarah yang kelam dan penuh pelanggaran hak asasi manusia. Sejarah harus menjadi pelajaran agar kita bisa terus berbenah dan membangun bangsa yang lebih adil dan demokratis. Harapan saya, semoga mahasiswa fisip untirta khususnya dapat terus menjadi penjaga dan penggerak perubahan menuju Indonesia yang lebih baik, yang menghargai kemanusiaan dan menjunjung tinggi keadilan,” tutup Galuh.

Penulis: Salma

Editor: Ira