Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), menyoroti persoalan keterbukaan informasi akademik dari Program Studi (Prodi) yang merupakan bagian penting bagi mahasiswa dalam menjalankan perkuliahan. Mereka menilai penyampaian informasi terkait program eksternal seperti Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM), Magang Berdampak, Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), dan kegiatan akademik lainnya masih lambat, kurang konsisten, dan sering kali diperoleh dari pihak luar.
Berbagai keluhan datang dari mahasiswa FISIP, seorang mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 23 yang enggan disebutkan namanya, mengeluhkan komunikasi Prodi terkait magang, baik mandiri maupun berdampak yang dinilai kurang maksimal. Sosialisasi dianggap kurang matang dan sering mepet waktu, ditambah perbedaan penjelasan dosen pembimbing akademik yang menimbulkan kebingungan antar mahasiswa.
Mahasiswa Administrasi Publik angkatan 23, berinisial N, juga mengaku kerap bingung mengikuti program non-akademik karena informasi kurang lengkap, sehingga sebagian besar justru diperoleh lewat media sosial seperti Instagram dan TikTok, bukan dari sosialisasi resmi.
Serupa dengan mahasiswa Administrasi Publik angkatan 23 lainnya, ia menilai bahwa sosialisasi dari Prodi belum maksimal dan cenderung pasif.
“Kalau soal sumber info, saya malah sering tahunya dari luar kampus, misalnya dari media sosial resmi penyelenggara atau info dari teman di luar prodi. Dari prodi sendiri biasanya cuma sekadar ngasih info singkat, dan kurang tindak lanjut yang jelas,” ujarnya saat diwawancarai oleh LPM Orange pada (11/8/2025).
Perwakilan mahasiswa Administrasi Publik angkatan 24, menyatakan bahwa pada kenyataannya Prodi cukup responsif, tetapi keterlambatan informasi masih kerap kali terjadi.
“Dari Prodi AP sebenernya udah lumayan oke soal ngasih info tentang program-program akademik eksternal kayak PMM, Magang Berdampak, pertukaran mahasiswa, dan kegiatan lain. Prodi tuh cukup responsif dan biasanya selalu usaha buat ngasih tahu ke kita, misalnya lewat pengumuman atau grup Whatsapp,” paparnya saat diwawancarai oleh LPM Orange pada (15/8/2025).
Meskipun Prodi sudah dinilai responsif, tetapi ia menyatakan bahwa informasi yang diberikan kerap molor karena pihak kampus maupun penyelenggara telat menyampaikan. Terlebih jika terjadi perubahan aturan secara mendadak yang akhirnya mempersulit mahasiswa dalam mempersiapkan beberapa keperluan administratif.
Sudut pandang berbeda dikemukakan oleh perwakilan mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 23. Menurutnya, akses informasi yang diberikan oleh Prodi sudah cukup baik, terutama adanya kerja sama antara prodi dengan himpunan mahasiswa.
Kendati demikian, ia tetap mengingatkan bahwa tetap ada potensi dampak jangka panjang apabila keterbukaan informasi tidak dijaga dengan konsisten.
“Jangka panjangnya ialah banyak mahasiswa yang tertinggal dengan informasi-informasi seputar kegiatan akademik luar kampus yang berakibat mungkin saja banyak mahasiswa yang merasa tertinggal dengan teman-teman lainnya yang di luar kampus Untirta. Selain itu, mahasiswa pun bakal kekurangan pengalaman akademik non luar kampus yang bisa membuat lulusan mahasiswa FISIP Untirta lebih sulit mendapat kerja setelah lulus karena minimnya pengalaman yang didapatkan di luar kampus,” tegasnya saat diwawancarai oleh LPM Orange via WhatsApp pada (23/8/2025).
Kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Erly Marlinda, menilai bahwa akses informasi dari Prodi masih belum optimal. Selama ini, informasi yang didapatkan kerap kali bukan berasal langsung dari Kaprodi, melainkan hasil inisiatif tim Advokasi sendiri. Salah satu caranya adalah bertanya ke lingkar advokasi FISIP atau menghubungi hotline Untirta.
“Sebenarnya bukan soal informasi dari luar kampus, tapi lebih kepada informasi yang tidak langsung diperoleh dari Kaprodi. Selama ini, banyak informasi yang mahasiswa ketahui justru bukan dari Kaprodi, melainkan hasil dari upaya advokasi mencari sendiri, seperti bertanya ke lingkar advokasi FISIP atau menghubungi langsung hotline Untirta, tapi ada beberapa informasi yang mungkin langsung disampaikan oleh Kaprodi lewat grup,” jelasnya saat diwawancarai oleh LPM Orange via Whatsapp pada (5/9/2025).
Mengenai persoalan tentang penanganan keluhan, Advokasi menilai bahwa respons Prodi masih setengah-setengah. Harapannya, Prodi dapat lebih cepat tanggap dalam merespons kebutuhan maupun aspirasi mahasiswa.
Di sisi lain, Advokasi dari Ilmu Komunikasi, Maia, memberikan penilaian dan pandangan yang cukup positif terhadap Prodi. Menurutnya, keterbukaan informasi akademik sudah sangat memadai karena Prodi aktif melibatkan himpunan dalam setiap sosialisasi.
“Menurut penilaianku terkait akses informasi dan cara komunikasi prodi terkait program akademik eksternal sudah sangat memadai, karena dari prodi Ilmu Komunikasi sendiri sangat amat memfasilitasi perihal keterbukaan informasi baik itu mengenai PMM, Magang Berdampak dsb,” ujarnya saat diwawancara oleh LPM Orange via WhatsApp pada (12/9/25).
Ia menambahkan, Prodi Ilmu Komunikasi kerap kali aktif dalam memberikan sosialisasi, salah satunya sosialisasi akademik yang digelar daring via Google Meet. Dalam kegiatan tersebut, Prodi menyampaikan informasi terkait magang, KKM, serta program eksternal lainnya dengan melibatkan Advokasi HIMAKOM sebagai panitia kecil. Sosialisasi ini dinilai bermanfaat karena banyak sekali mahasiswa Ilmu Komunikasi yang merasa sangat terbantu.
Himpunan juga aktif mengolah informasi dan menyebarkannya melalui berbagai kanal digital. Mulai dari media sosial resmi @himakomuntirta, akun Advokasi @halloadvo, hingga WhatsApp group khusus bernama “Info’in Koms”. Walaupun masih didapati beberapa kasus yang mendesak, Advokasi biasanya langsung mendatangi pihak Prodi bersama mahasiswa agar solusi segera ditemukan.
Dari pengalaman yang beragam tersebut, satu hal yang dapat disoroti yaitu harapan mahasiswa supaya prodi dapat lebih cepat, detail dan konsisten dalam menyampaikan informasi. Sosialisasi yang matang sangat diperlukan agar mahasiswa tidak kehilangan kesempatan atau peluang berharga.
Penulis : Khalishah Zahra Khairina
Editor : Laras Damasaty