Peningkatan Pembayaran Non Tunai di Indonesia: Tantangan dan Adaptasi bagi Generasi X

Sumber: cimbniaga.co.id

Opsi pembayaran non tunai kini semakin mendominasi berbagai transaksi sehari-hari di Indonesia. Berdasarkan laporan dari Bank Indonesia, nilai transaksi uang elektronik diperkirakan akan mengalami peningkatan sebesar 23,9% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai Rp495,2 triliun pada tahun 2023. Mayoritas dari kalangan Millenial dan Gen Z mungkin sudah terbiasa dengan peralihan ini. Namun, adaptasi terhadap peralihan ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi generasi X. Generasi X merupakan generasi yang lahir antara tahun 1965 sampai 1980 yang harus ikut serta menyesuaikan diri dengan teknologi baru.

Adi, seorang karyawan swasta berumur 50 tahun mengaku bahwa sampai sekarang ia hanya menggunakan kartu debit untuk pembayaran non tunai, dan kartu debit tersebut hanya ia pakai apabila ingin tarik tunai di ATM, “Pernah, tapi saya pakai kartu debit kalau mau ambil uang di ATM aja,” ujarnya. Banyak dari kalangan generasi X yang masih menghadapi tantangan dalam menggunakan pembayaran non tunai. Mereka cenderung mengandalkan bantuan dari anggota keluarga atau orang yang lebih melek teknologi untuk melakukan transaksi non tunai, “Kesulitannya itu karena saya gak punya m-banking, jadi biasanya saya nyuruh anak buat bayar lewat hp dia kalau lagi bareng,” ujarnya (11/04/24).

Berbeda dengan Adi, Widi, seorang ibu rumah tangga berumur 46 tahun berpendapat bahwa opsi pembayaran non tunai memiliki berbagai manfaat, “Keuntungannya adalah proses transaksi jadi lebih praktis karena hanya perlu scan qr, bisa lihat riwayat pembelian juga,” Ujar Widi. Namun, seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi ini, muncul kekhawatiran di kalangan pengguna mengenai keamanan data dan risiko kebocoran informasi, “Kalau kekhawatirannya, m-banking yang saya punya kebobolan,” tambahnya (12/06/24).

Selain itu, Septia, pemilik kafe “Waroeng Bestie” di daerah Sindangheula, Serang, memutuskan untuk mengadopsi pembayaran non tunai pada tahun 2021. Keputusan ini diambil setelah melihat tren masyarakat yang semakin terbiasa dengan pembayaran digital, terutama saat menerima pesanan online, “Karena banyak yang pesan secara online, jadi owner kepikiran akan memudahkan customer jika menyediakan pembayaran non tunai juga,” ujarnya. Sampai saat ini, Septia menerima dua opsi pembayaran, yaitu tunai dan non tunai, seperti m-banking dan berbagai e-wallet.

Selama menyediakan opsi non tunai di kafe nya, Septia mengaku bahwa belum ada keluhan yang didapat. Namun, ia tidak yakin jika dari pihak customer, “Selama ini sih, dari kita gak ada problem, tapi kurang tau kalau dari customernya sendiri,” ujar Septia (14/06/24).

Berbeda dengan Septia, Adi, yang posisinya sebagai pelanggan masih belum terbiasa dengan pembayaran non tunai, seperti m-banking atau e-wallet. Namun, Adi memiliki keinginan untuk mempelajarinya jika diberi arahan yang jelas, agar dapat mengikuti perkembangan teknologi saat ini.

Penulis: Danish Najwa Aliya

Editor: Nawal Najiya