Dok : Orange
Tahun 2025 Untirta digadang-gadang akan melakukan transisi dari PTN-BLU menjadi PTN-BH. Hal ini menuai kontroversi di kalangan mahaiswa, bahkan Aliansi Gerakan Untirta (ALERTA) sempat melakukan aksi untuk menolak segala skema PTN-BH.
Dekan FISIP Untirta, Leo Agustino, menjelaskan pandangannya terkait hal ini. Menurutnya, PTN-BH adalah semacam semi swastanisasi Perguruan Tinggi Negeri. Saat ini, Indonesia hanya mampu menggratiskan pendidikan pada level tertentu, belum sampai pada level Universitas sehingga butuh sumbangan dari peserta didik agar proses belajar dan mengajar dapat berjalan.
Akademisi kebijakan publik tersebut bercerita bahwa dulu biaya kuliah relatif murah karena sebagian besar dibantu pemerintah. Tetapi kini terjadi proses perubahan yang berbeda dari konstitusi sehingga pendidikan mencoba membiayai dirinya sendiri karena bantuan dikurangi dan didistribusikan untuk hal lain. Oleh karena itu, kampus mulai mencari income salah satunya dengan memberlakukan UKT.
Menurutnya, dampak positif dari berubahnya status Untirta menjadi PTN-BH adalah memacu kampus untuk terus berinovasi. Di sisi lain, ada kekhawatiran yang timbul karena mindset tentang PTN-BH adalah kampus tidak bisa meng-generate UKT. Leo, begitu sapaannya, takut jika lambat laun daya survive Untirta melemah bila tak ada bantuan, persis yang terjadi ketika masih swasta.
“Biasanya karena ketidakmampuan kampus untuk meng-generate income, maka salah satu yang bisa di generate adalah UKTnya, karena itu paling mudah. Nah itu yang saya khawatirkan terkait PTN-BH, karena mindset kita. Sebetulnya Untirta itu pernah jadi swasta dan dia bertahan, ngga ada bantuan, tetapi tetap bertahan. Tetapi karena sudah puluhan tahun dibantu, daya survive-nya itu melemah, sehingga saat ini dia menjadi universitas yang bergerak jika ada bantuan. Nah itu yang kemudian yang saya takutkan sebenarnya,” ucapnya saat ditemui Orange di Gedung Fisip, Kamis (16/05/2024).
Menanggapi isu negara yang seolah melepas tanggung jawab terhadap pendidikan, pemerintah dengan mudah menjawab bahwa wajib belajar hanya 12 tahun. Leo melanjutkan, sebagai negara kaya sumber daya,mindset kita belum menempatkan perguruan tinggi sebagai Enterpreneurial University. Untirta masih Teaching University yakni tidak lebih dari sekadar mengajar. Sebelum menuju Enterpreneurial University, ia ingin Untirta menjadi Research University yang berfokus pada riset dan pengembangan dan kemudian hasilnya akan diperbanyak di berbagai perusahaan.
FISIP sebenarnya siap menjadi PTN-BH. Akan tetapi, Leo ingin FISIP terlebih dahulu memanfaatkan data, sumber daya, dan lainnya agar bisa menjadi Research Faculty. Salah satu caranya dengan mengambil alih dokumentasi setiap wisuda yang sempat tidak dikelola oleh FISIP. Selain itu, Untirta mempunyai TV yang bisa menjadi sumber pendapatan, terlebih untuk dunia politik yang identik dengan political marketing. Ia juga ingin membangun kerja sama antar fakultas dan antar pemerintah kota sehingga jika membutuhkan ahli-ahli, maka akan di-hire oleh Untirta.
Seorang mahasiswa jurusan Agribisnis, Alif Fadlianto, mengutarakan pandangannya terhadap PTN-BH. Menurutnya, PTN-BH adalah kondisi seluruh keuangan dan tata kelola kampus dikelola oleh rektor dan jajarannya. Aspek yang harus dipenuhi kampus untuk menjadi PTN-BH yaitu mempunyai unit bisnis sendiri dan jumlah mahasiswa lebih dari 35 ribu. Kemudian dalam konteks jurusan misalnya, memastikan ketersediaan alat-alat praktikum.
Ia merasa Untirta belum begitu siap untuk menjadi PTN-BH karena kurangnya aspek-aspek tersebut. Akan tetapi, ada dampak positif dari PTN-BH, yakni kurikulum dapat berubah mengikuti perkembangan zaman. Prodi juga bisa membuat mata kuliah sendiri, contohnya mata kuliah yang diselaraskan dengan kepentingan regional Banten. Sementara dampak buruknya, lanjut Alif, potensial terjadi komersialisasi pendidikan.
Alif meminta HIMA dan BEM untuk terus berkoordinasi, mengkaji, dan melakukan audensi dengan pihak-pihak terkait.
“Balik lagi kepada temen-teman himpunan atau BEM fakultas yang sama-sama harus berkoordinasi bagaimana kedepannya untuk coba dikaji, coba ditelaah, coba diaudiensikan dari beberapa elemen yang ada di kampus itu sendiri. Karena bagaimanapun ya mahasiswa sipil seperti saya ini pasti bakal mencari BEM ataupun HIMA yang membantu kesulitan mahasiswa,” ujar Alif (16/05/2024).
Penulis: Nadia
Editor: Ira