Mengulik Makna dibalik Novel “Pulang” Karya Leila S. Chudori

Cr. Gramedia

Novel fiksi sejarah “Pulang” yang ditulis oleh Leila S. Chudori menceritakan kisah emosional dan spiritual Dimas Suryo, seorang buronan pemerintah zaman orba yang hidupnya penuh dengan perjuangan dan penderitaan. Novel ini menyampaikan pesan mendalam tentang kehilangan, pencarian identitas, dan juga perubahan sosial. Dimas Suryo mengembara ke beberapa negara lain, seperi Cina, Kuba, dan berakhir di Prancis.

Rasa kehilangan menjadi makna utama di dalam novel ini. Dimas mengalami kehilangan banyak hal selama hidupnya, termasuk tanah airnya, keluarganya, sampai sebagian dari dirinya sendiri. Paris, Mei 1968 adalah hari dimana ia bertemu dengan Vivienne Deveraux, seorang mahasiswa yang terlibat dalam demonstrasi melawan pemerintahan Prancis. Mereka menikah dan dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Lintang Utara. Walaupun hidupnya sudah diisi dengan seorang istri dan anak, namun, Dimas tetap merasa kosong. Ia merindukan Indonesia dan keluarganya.

Novel ini juga menggambarkan pencarian identitas. Dimas, yang pada saat itu hidup di dalam eksil harus berkelahi dengan berbagai pertanyaan tentang dirinya. Namun, pada akhirnya, ia sadar bahwa identitas yang dimiliki tidak hanya diciptakan melalui latar belakang budayanya, tetapi juga dari keputusan-keputusan yang diambil selama hidupnya. 

Selain Dimas, novel ini juga melibatkan beberapa karakter lain, yaitu Nugroho, Tjai, dan Risjaf yang sedang mengalami hal yang sama dengan Dimas. Keempat orang ini akhirnya menetap di Prancis tanpa mengetahui kapan mereka bisa kembali ke tanah air. Bahkan, kehidupan mereka tidak lepas dari pengawasan intel. Karena situasi ini, Dimas dan teman-temannya memutuskan untuk mendirikan restoran khas Indonesia.

Novel “Pulang” menyoroti perubahan sosial yang sedang dilanda Indonesia pada saat itu, beserta konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan dari peristiwa-peristiwa sejarah tersebut yang membuat pembaca seperti diajak untuk kembali ke masa lalu. Pertama pada tahun 1965 bulan September di Indonesia, kedua pada tahun 1968 bulan Mei di Prancis, dan ketiga pada tahun 19 bulan Mei, di Indonesia.

Melalui sudut pandang karakter-karakternya, penulis Leila S. Chudori mampu mengemasnya dengan sangat baik, sehingga para pembaca akan dibuat penasaran dengan konflik-konflik yang ada di dalam novel.

Penulis: Danish Najwa Aliya

Editor: Nawal Najiya Rasya