Paradoks Mahasiswa: Aktif di Organisasi, Bisu dalam Kerja Kelompok

Sumber: Pinterest

Dunia perkuliahan menjadi masa dimana seseorang berkesempatan untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi diri dengan lebih bebas dan luas. Salah satunya adalah dengan mengikuti suatu organisasi, baik internal maupun eksternal. Bergabung dalam suatu organisasi dapat membantu individu untuk mengasah kemampuan dan potensi, seperti melatih jiwa kepemimpinan, public speaking, manajemen konflik, hingga keterampilan manajemen waktu.

Mahasiswa yang terlibat dalam suatu organisasi dituntut untuk memiliki kemampuan dalam membagi waktu dengan baik agar dapat menyeimbangkan antara tugas kuliah dan tugas organisasi sehingga tanggung jawab yang dibebankan dapat terpenuhi secara maksimal. Namun, tidak jarang mahasiswa yang aktif berorganisasi mengalami konflik peran antara kegiatan akademik dan kegiatan organisasi, mereka dapat merasa tertekan untuk membagi waktu untuk mengerjakan semua tugas dan tanggung jawab dalam bidang akademik dan kegiatan organisasi yang diikutinya. Ketidakmampuan untuk membagi waktu dengan baik akan berdampak terhadap penurunan kinerja akademik mahasiswa, seperti adanya perilaku prokrastinasi akademik bahkan sampai mengabaikan tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa.

Prokrastinasi akademik adalah sikap individu yang cenderung selalu menunda tugas akademik hingga batas akhir tugas harus diselesaikan dan sikap ini dilakukan secara sadar dan berulang. Perilaku prokrastinasi akademik tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi dalam konteks kerja kelompok juga akan merugikan teman sekelompoknya. Pasalnya, tidak sedikit mahasiswa yang aktif terlibat dalam organisasi yang cenderung membebani tanggung jawab akademik kepada teman sekelompoknya atau bahkan tidak berpartisipasi dalam pengerjaan tugas kelompok.

Minimnya partisipasi dalam kerja kelompok dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya permasalahan prioritas dan kemampuan manajemen waktu. Mahasiswa yang memiliki peran atau kedudukan penting dalam organisasi cenderung akan memprioritaskan tanggung jawab di organisasi terlebih dahulu dibandingkan dengan tugas kelompok. Hal tersebut terjadi karena mereka merasa bahwa memiliki komitmen tinggi dalam organisasi yang dianggap sebagai prestise dan tanggung jawab yang besar untuk dapat berkontribusi secara maksimal dalam tugas organisasi. Selain itu, tugas kelompok yang dianggap sebagai tanggung jawab sekunder menjadikan sebagian mahasiswa yang aktif berorganisasi lebih memfokuskan prioritasnya terhadap kegiatan organisasi yang dianggap lebih penting.

Mahasiswa yang aktif berorganisasi sering kali memiliki jadwal yang padat karena terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi, seperti acara, rapat, pelatihan, dan kegiatan organisasi lainnya. Hal ini memungkinkan mereka menghadapi kesulitan dalam membagi waktu antara kegiatan organisasi, kuliah, dan kegiatan lainnya. Ketidakmampuan mereka dalam membagi waktu tersebut memicu terjadinya penurunan kinerja akademik, salah satunya partisipasi yang minim terhadap pengerjaan tugas kelompok. Kerja kelompok yang notabenenya melibatkan lebih dari satu orang membutuhkan adanya koordinasi antaranggota agar tugas terselesaikan dengan baik. Selain itu, hal tersebut juga dapat merugikan anggota kelompok yang berpartisipasi secara aktif karena merasa tidak adil jika harus menanggung beban kerja yang lebih besar.

Terlibat aktif dalam organisasi bukan suatu hambatan bagi mahasiswa dalam melaksanakan tanggung jawab akademik di perkuliahan. Penting bagi mahasiswa untuk mengelola keterlibatan dalam organisasi secara bijaksana dengan memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik. Dengan demikian, mahasiswa dapat menentukan skala prioritas dan melatih kedisiplinan waktu terhadap tanggung jawab yang dimilikinya sehingga dapat menyeimbangkan peran di berbagai sisi. Selain itu, penting diingat untuk tidak menunda-nunda pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita agar tidak kesulitan dalam mengerjakan pekerjaan.

Penulis: Aidah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik