Kenapa Perempuan Sering Dipotong saat Bicara? Bisa Jadi itu Mansplaining

Sumber: diolah oleh penulis

Pernahkah merasa sedang menjelaskan sesuatu, tetapi lawan bicara justru menjelaskan kembali hal yang sebenarnya sudah dipahami? Situasi seperti ini kerap dialami perempuan, baik di kampus, tempat kerja, atau dalam obrolan santai sehari-hari. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah mansplaining.

Istilah mansplaining berasal dari gabungan kata man dan explain. Bridges dalam penelitiannya tahun 2017 menjelaskan fenomena ini sebagai kondisi ketika laki-laki menjelaskan sesuatu kepada perempuan dengan nada menggurui, seolah perempuan tersebut tidak memahami topik yang sedang dibahas. Padahal, perempuan yang menjadi lawan bicara dapat memiliki pengetahuan atau keahlian yang lebih tinggi. 

Istilah ini mulai dikenal luas sejak tahun 2008 setelah penulis dan novelis Rebecca Solnit menulis esai berjudul “Men Explain Things to Me”. Dalam tulisannya, Solnit menceritakan pengalaman saat seorang pria menjelaskan sebuah buku penting kepadanya dengan penuh percaya diri. Ironisnya, buku yang dijelaskan tersebut justru ditulis oleh Solnit sendiri. Meskipun saat itu ia tidak menggunakan kata “mansplaining”, kisah tersebut memicu banyak perempuan untuk menyadari bahwa pengalaman serupa ternyata sangat sering terjadi.

Sumber: diolah oleh penulis dari Pinterest @/DailyMail

Lalu, kenapa mansplaining bisa muncul? Salah satu penyebabnya adalah masih kuatnya anggapan bahwa laki-laki lebih rasional, lebih paham, dan lebih layak diposisikan sebagai pihak yang paling tahu. Sementara perempuan sering dianggap perlu diarahkan atau dikoreksi, bahkan ketika mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih tinggi.

Menurut Bridges, mansplaining biasanya ditandai dengan penjelasan yang tidak diminta, nada bicara yang merendahkan, serta kebiasaan memotong pembicaraan. Pelaku sering merasa sangat yakin bahwa lawan bicaranya belum memahami topik tersebut. Hal inilah yang membuat mansplaining terasa tidak nyaman, karena bukan sekadar memberi penjelasan, tetapi juga meremehkan kemampuan orang lain.

Fenomena ini tidak hanya ramai dibahas di media sosial, tetapi juga ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian Chelsie J. Smith dan tim tahun 2022 menemukan bahwa mansplaining juga sering terjadi di tempat kerja. Dari 499 responden yang diteliti, sebagian besar mengaku pernah mengalami mansplaining dalam satu tahun terakhir. Dampaknya pun tidak sederhana, mulai dari menurunnya kepuasan kerja, kelelahan emosional, hingga munculnya keinginan untuk mengundurkan diri.

Penelitian lain dari Erik Santoro dan Hazel Rose Markus pada tahun 2024 juga menunjukkan bahwa nasihat yang tidak diminta dan disampaikan dengan nada menggurui dapat membuat perempuan merasa tidak dihargai dan kehilangan rasa percaya diri. Situasi seperti ini sering terlihat sederhana, tetapi efeknya bisa cukup besar.

Dalam kehidupan sehari-hari, mansplaining sering muncul dalam bentuk yang halus. Misalnya, saat seorang mahasiswi sedang presentasi, lalu rekan laki-laki memotong penjelasan dan menjelaskan ulang seolah ia tidak paham. Situasi serupa juga terjadi ketika seorang perempuan dalam forum organisasi menyampaikan ide, tetapi pendapatnya baru dianggap penting setelah diucapkan ulang oleh rekan laki-laki.

Fenomena ini kerap dibungkus sebagai bentuk bantuan atau perhatian. Karena itu, banyak orang tidak sadar bahwa itu adalah mansplaining. Padahal, jika terus dianggap biasa, perilaku ini bisa memperkuat ketimpangan gender dan membuat perempuan semakin ragu terhadap kemampuannya sendiri.

Mansplaining berangkat dari asumsi bahwa perempuan dianggap kurang tahu. Oleh karena itu, di tengah tuntutan kesetaraan, komunikasi yang saling menghargai menjadi penting agar setiap orang didengar berdasarkan kapasitasnya, bukan berdasarkan gendernya.

Penulis: Zafira Kasih Ananda
Editor: Angeli Ramadhani