Masa-masa perang dingin yang terus bergejolak tentu membuat setiap orang di Amerika Serikat dilanda keresahan. Hingga berkumpulah para anak muda dengan semangat yang menggebu diiringi pemikiran yang kritis membentuk sebuah gerakan yang dikenal dengan Flowers Generation atau Generasi Bunga. Tahun 1960 menjadi awal mula mereka terbentuk, perang antara Amerika Serikat dan Vietnam yang terjadi menimbulkan rasa muak dan pertanyaan dalam setiap benak anak muda Amerika yaitu, untuk apa?
Flower Generation dapat dikenal juga dengan Hippies, dimana anak muda mengekspresikan diri mereka dengan pakaian penuh warna yang menurut mereka “stylish”, aksesoris bergaya bohemian, kertas “Surga” LSD, musik folk, dan tentu bunga sebagai simbol dengan “Fight With Flowers” sebagai slogannya. Jika kalian berpikir mereka hanya sekumpulan anak muda yang hanya bermain-main dengan masa muda nya tanpa membawa unsur politik perdamaian, oh tentu tidak bung.
Gaya hidup yang mereka tunjukkan justru adalah sebuah perlawanan, karena menolak budaya kemapanan atau kontra dengan isu ras, budaya sosial, politik, dan perang dingin pada kala itu. Tidak hanya dengan gaya hidup, perlawanan mereka juga menjelma dalam bentuk karya seni seperti lukisan dan musik. Tentunya kita familiar dengan nama-nama seperti Joan Baez, Bob Dylan, The Beatles, Janis Joplin, Peter Paul Mary, Jimi Hendrix dan masih banyak lagi. Dan mereka merupakan bagian dari Flowers Generation yang melawan dengan karya seni kala itu.
Bob Dylan “Blowin In The Wind” dan ”The Times They Are Changing” nya, The Beatles dan John Lennon dengan “All You Need Is Love” dan “Imagine” serta Joan Baez dengan “We Shall Overcome” nya yang mampu membius setiap orang layaknya Cleopatra dengan suara merdunya. Dan masih banyak karya lain dengan makna dan pesan untuk melawan demi memperjuangkan perdamaian.
March on Washington tahun 1963 untuk memperjuangkan hak rasial dan politik, March on Pentagon 1967 untuk menolak perang hingga Festival Musik Woodstock di Ibukota kaum Hippies San Francisco tahun 1969 menjadi sebuah puncak dari perlawanan para “Flower Children” kala itu. Dalam sebuah panggung yang berjudul “Tiga Hari dalam Kedamaian dan Musik” ratusan ribu orang berkumpul dan hanyut dalam lantunan musik yang dibawakan Jimi Hendrix, CCR, Joan Baez yang sedang hamil 6 bulan, dan tentunya Janis Joplin sebagai ratu rock and roll masa itu. Panggung ini bahkan masuk dalam 50 Momen yang mengubah sejarah rock and roll versi majalah Rolling Stone.
Dan tentu selalu ada akhir dari setiap masa, kekalahan amerika dalam perang melawan Vietnam pada 1975 menjadi akhir dari perlawanan mereka. Tujuan yang tercapai dan semangat yang menjalar ke seluruh dunia sudah cukup bagi mereka untuk kembali menatap masa depan. Meski dalam gerakan tersebut mereka tidak luput dari berbagai masalah seperti kritik, ancaman, bahkan pembunuhan. Apa yang mereka perjuangkan menjadi suatu hal yang bersejarah dan dampaknya berhasil mengubah dunia hingga kini. Karena tidak ada yang lebih sakti dari melawan senjata dengan setangkai bunga dan slogan “Make Love Not War”.
“ For those who come to San Francisco, summertime will be a love-in there.
In the streets of San Francisco, you’re gonna meet some gentle people with flowers in their hair.”
-Scott McKenzie
- Penulis : Rafif
- Editor : Iksan
Tinggalkan Balasan