Perihal Ospek, Simak Fakta dan Hoaks TM Ospek Untirta!

Sumber : LPM ORANGE/Ari

Setelah meledaknya kasus Covid-19 yang melanda dunia secara global pada 2019 lalu, kini angka penyebaran Covid-19 melandai secara signifikan sehingga pemerintah mengizinkan kegiatan akademik dilakukan secara tatap muka.

Kegiatan tatap muka ini bersamaan dengan waktu masuknya mahasiswa baru Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun swasta di Indonesia. Dengan dibukanya kegiatan tatap muka, maka Perkenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) atau ospek yang sudah menjadi tradisi setiap perguruan tinggi akhirnya kembali dilakukan secara tatap muka setelah dua tahun lamanya dilakukan secara online/daring.

Sama halnya dengan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang juga turut melaksanakan PKKMB secara tatap muka. Namun, kegiatan ini memicu opini publik karena pengaduan salah satu maba di media sosial Twitter yang menyebutkan bahwa Technical Meeting PKKMB yang dilakukan oleh Untirta dirasa keterlaluan. Hal ini menarik perhatian publik sampai Untirta menjadi trending topik pada Rabu (10/08/2022).

Dikutip dari akun Twitter yang mengaku sebagai mahasiswa baru peserta TM PKKMB 2022, disebut bahwa para panitia tidak mengizinkan mahasiswa baru untuk menggunakan tabir surya dan meminta mereka untuk mengumpulkannya. Ia juga menggunggah foto tangannya yang mengalami sunburn cukup parah. Hal itu mengundang kecaman warganet sebab paparan sinar matahari secara langsung dapat menyebabkan penyakit kulit hingga kanker.

Sumber : Twitter/@ulikejellyyy)

Cuitan lain mengungkapkan bahwa panitia tidak membolehkan para mahasiswa baru untuk minum. Hingga mereka hanya bisa minum dari satu botol yang sama di tengah wabah Covid-19 dan merebaknya penyakit cacar monyet. Ia juga menambahkan, terdapat pelecehan secara verbal yang dilakukan oleh beberapa panitia dengan menuduh mahasiswa baru yang memakai riasan berniat menggoda rektor.

Namun, jika ditilik kembali, kegiatan semacam ini sudah menjadi tradisi ospek dari tahun ke tahun, jauh sebelum pandemi menyebar luas. Namun, banyak yang beranggapan bahwa cara ospek ini sudah terlalu kuno dan tidak layak lagi dilakukan pada di masa sekarang.

Jika ditelaah lebih lanjut, apa yang dilakukan oleh panitia memang tidak bisa dibenarkan. Namun, dengan semakin viralnya hal ini, membuka potensi hal-hal negatif seperti penyebaran hoaks, hiperbola, pencemaran nama baik, dan lain sebagainya yang tentu saja dapat dimanfaatkan oleh oknum tertentu.

Hal ini terbukti sebab tidak sedikit yang merasa bahwa semakin naiknya topik Untirta, semakin banyak hoaks yang tersebar luas. Hal ini membuat banyak masyarakat yang bukan bagian dari Untirta dan tidak mengetahui kejadian tersebut secara nyata ikut menelan mentah-mentah informasi yang tersebar. Tidak jarang dari mereka yang ikut berkomentar negatif yang mengacu langsung pada institusi, bukan kepada panitia acara tersebut. Hal ini jelas membuat para mahasiswa Untirta merasa geram.

Setelah Untirta menempati trending topik Indonesia, mulai bermunculan pula suara lain peserta kegiatan TM PKKMB ikut serta membuka kesaksian mereka, hal ini terlihat dalam salah satu tweet dari akun @bininyehajee. Ia menjelaskan tuduhan terkait tidak boleh makan dan minum yang tidak benar. Menurutnya, hal tersebut diperbolehkan. Bahkan, diberi waktu khusus untuk makan sebelum berkumpul di lapangan. Namun, ia mengakui bahwa saat pembuatan mozaik, kondisi menjadi kurang kondusif hingga penyebaran air minum tidak merata.

Terkait pernyataan dijemur selama 10 jam, peserta lain mengklarifikasi bahwa hal itu sebenarnya merupakan bagian dari agenda pembuatan mozaik. Namun, agenda itu melebihi estimasi batas waktu hingga para peserta harus berdiri ditengah cuaca terik. Tetapi, mereka tidak boleh mengaplikasikan tabir surya serta diharuskan menggunakan masker yang mungkin membuat mahasiswa baru merasa tidak nyaman.

Cuitan lain dari akun anonim di @collegemenfess mengungkap bahwa adiknya yang merupakan peserta PKKMB dilarikan ke rumah sakit sebab mengalami kekerasan fisik dari panitia Gerakan Disiplin Kampus (GDK). Ia juga menyertakan foto seorang perempuan yang terbaring di ranjang rumah sakit. Warganet lainnya kemudian mengungkap hal tersebut sebagai hoaks, sebab foto yang dilampirkan merupakan hasil comotan dari Google.

Akun @sbmptnfess kemudian membagikan tangkapan layar dari grup Telegram bernama “CAMABA UNTIRTA 2022” yang menimbulkan kontroversi. Sebab, salah satu anggota bernama Altersky menyebut bahwa mahasiswa baru Untirta lemah, memaki dengan umpatan, hingga menyuruh mereka mencari kamus lain.

Beberapa akun yang mengaku sebagai mahasiswa baru Untirta turut mengungkap bahwa grup tersebut bukanlah grup resmi, sebab nama grup resmi adalah “Tirtayasa Muda”. Beberapa akun menyebutkan bahwa itu hanyalah oknum yang memprovokasi. Akan tetapi, sampai saat ini cuitan menfess yang berisi provokasi tersebut belum juga hilang, justru semakin ramai oleh komentar.

Karena peristiwa tersebut, BEM KBM Untirta melalui akun resmi instagram @bemkbmuntirta melakukan Press Release yang berisikan permintaan maaf dan juga mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi terutama informasi terkait larangan makan dan minum saat kegiatan berlangsung. Dalam Press Release tersebut dijelaskan bahwa panitia telah memberikan waktu untuk makan dan minum saat istirahat di jam 11.00-13.00 WIB.

Kegaduhan yang terjadi di TM PKKM ini membuat nama kampus menjadi tercoreng dan menimbulkan banyaknya ujaran kebencian terhadap Untirta itu sendiri. Untuk itu, diperlukan kebijakan dalam menggunakan sosial media agar tidak termakan hoaks.

Salam Fresh and Critical.

  • Penulis: Windi, Wika.
  • Editor : Vhina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *