(5/11) – Telah 2 tahun sejak kepemimpinan Jokowi – Amin periode kedua. Pendidikan menjadi salah satu sektor yang disoroti karena menuai kritik dari para pengamat dan praktisi pendidikan. Wahid Ihsanuddin, salah satu anggota Sempro menyoroti bahwa permasalahan utama pendidikan era Jokowi – Amin adalah persoalan komersialisasi, orientasi, dan akses pendidikan.
Wahid berpandangan bahwa pendidikan sekarang bukan berorientasi untuk menghasilkan peserta didik calon agen perubahan, melainkan sebagai alat untuk kepentingan profit segelintir orang. Amanat pendidikan hari ini hanya untuk menjadi sekrup – sekrup di pabrik, dan berorientasi pada pasar. Ia menilai tujuan pendidikan seharusnya memperhalus perasaan, mempertajam pemikiran, dan mengubah masa depan.
Kalo bahasa kita itu yaitu pendidikan hari ini di liberalisasi. Liberalisasi ini kaya pendidikan dijadikan komoditas barang dagangan, tidak lagi menjadi alat untuk mencerdaskan.
—Wahid, Humas APEM.
Lebih lanjut, Wahid berpandangan bahwa permasalahan pendidikan adalah suatu permasalahan sistemik. Akar dari permasalahan tersebut tidak bisa dilepaskan dari permasalahan ekonomi, politik, dan intervensi dari dunia internasional.
Contohnya kaya IMF, World Bank, WTO (World Trade Organization). Lembaga-lembaga inilah yang mempenetrasi negara-negara berkembang buat memajukan perekonomiannya. Jadi pendidikan menjadi tumbal dari perekonomian tersebut. Kalo perekonomiannya mau maju ya ada 12 sektor jasa yang dikomersilkan salah satunya adalah pendidikan, makanya mengapa pendidikan itu berbayar.
—Wahid, Anggota Sekolah Progresif.
IMF berperan untuk menciptakan politik austerity, yaitu adanya sektor jasa yang dikurangi subsidi atau diperketat subsidinya. World Bank sebagai pendonor dana yang nantinya harus ada timbal balik. Sedangkan WTO memiliki peran mengubah konsep pendidikan yang mulanya adalah barang publik, hak masyarakat umum untuk mengenyam pendidikan. Namun, sekarang dikomersialisasi menjadi berbayar dan diprivatisasi sehingga dibedakan menjadi sekolah atau kampus negeri dan swasta. Tiga unsur inilah yang berpengaruh terhadap permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia hari ini.
Selain itu, arah kebijakan pembangunan politik ekonomi Jokowi-Amin menurutnya lebih berpihak kepada pemilik inverstasi atau pemodal. Hal ini seperti arah politik pasca 65, mulanya terdapat UU PMA (Penanaman Modal Asing) yang mulai masuk infiltrasi-infiltrasi dari politik internasional yang memiliki arah ke liberalisasi ekonomi, kapitalistik dan segala macamnya.
Rezim Jokowi-Amin lebih ugal-ugalan karna orientasi pendidikan itu tidak sejalan dengan amanat Ki Hajar Dewantara dulu. Amanat pendidikan hari ini hanya untuk menjadi sekrup-sekrup di pabrik-pabrik. Kalau melihat dari rancangan tata jalannya pendidikan Nadiem Makarim tahun 2020-2035 kemarin yg dikeluarkan oleh Kemdikbud itu kan banyak sekali wacana-wacana tentang pendidikan-pendidikan. Kaya link and match pendidikan dengan dunia kerja, lalu riset dan inovasi di dunia pendidikan yang akan menciptakan teknokrasi-teknokrasi yang bakal ngambil kebijakan publik berbasis teknokrasi. Tetapi, ada data kalo 80% dari lulusan pendidikan tinggi di Indonesia itu bekerja tidak sesuai dengan prodinya, tandanya kan tidak ada link and match yg berjalan.
—Wahid, Anggota Sekolah Progresif.
Tidak hanya itu, Wahid juga turut menjelaskan, kerugian yang ditimbulkan dari permasalahan pendidikan cukup banyak. salah satunya sekarang adalah biaya pendidikan yang mahal, namun apa yang didapat dari pendidikan ini belum sebanding.
Ilmu ilmu-yang dokmatis, yang berjalan satu arah, cuma berorientasi pada nilai atau angka tetapi kita belum dapat sistem belajar yang sejati, seperti belajar apapun atau eksplore hal-hal yang lain. Hal ini yang yang belum kita dapatkan di kampus, makanya ada anekdot yang bilang kalo ilmu yg kita dapat di kelas itu hanya 30% sedangkan 70% di luar kelas, jadi sebenarnya apa gunanya kita bayar UKT yang mahal jika hanya dapat 30% itu saja.
—Wahid, Anggota Sekolah Progresif.
Sebagai perwakilan dari Sempro, Wahid memberikan tuntutan atau solusi untuk permasalahan Pendidikan saat ini. Pertama, wujudkan pendidikan yang gratis. Kedua, pendidikan harus ilmiah, Pendidikan yang demokratis, dan terakhir Pendidikan yang mengabdi kepada rakyat.
Kalo kita melihat dari penjelasan tadi, ternyata permasalahan pendidikan ini tidak berdiri sendiri-sendiri tetapi ada problem-problem pokok, jadi permasalahan pendidikan ini sistemik atau sistematik ada turunannya. Kalo buat solusi untuk mengubah problem pendidikan hari ini ya mau tidak mau merevolusi dunia pendidikan tapi kan tidak bisa merevolusi di dunia pendidikannya saja, mau tidak mau kita harus merevolusi kehidupan sosial, politik serta ekonomi juga. Jadi dari situ kita harus mencabut akarnya.
—Wahid, Anggota Sekolah Progresif.
- Reporter : Citra, Vhina
- Editor : Asri
Tinggalkan Balasan