Di tengah perubahan zaman, tradisi lokal terus berhadapan dengan perubahan kebiasaan dan budaya masyarakat. Salah satunya adalah pencak silat Cimande yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di Banten, warisan tersebut masih dipelajari dan dipraktikkan melalui sejumlah perguruan, salah satunya Mande Macan Guling. Pencak silat Cimande tidak hanya dikenal melalui gerakan bela diri, tetapi juga melalui nilai dan tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu warisan budaya yang masih bertahan ini memiliki sejarah panjang dan terus melekat dalam kehidupan masyarakat melalui berbagai latihan, tradisi, serta kegiatan budaya.
Cimande dikenal sebagai salah satu aliran pencak silat yang berkembang di Jawa Barat. Berdasarkan data Warisan Budaya Indonesia, Penca atau Pencak Silat Jawa Barat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016. Dalam catatan tersebut, pencak silat di Jawa Barat disebut telah berkembang sejak abad ke 17, dengan Pencak Cimande menjadi salah satu aliran penting dalam perkembangan ibing pencak di wilayah Pasundan. Perjalanan Cimande tidak hanya menghasilkan teknik bela diri, tetapi juga membentuk tradisi yang melekat dengan kehidupan masyarakat.
Salah satu perguruan yang masih mempertahankan tradisi Cimande di Banten adalah Mande Macan Guling. Berdasarkan keterangan yang dimuat dalam sejumlah pemberitaan mengenai perguruan tersebut, Mande Macan Guling diperkenalkan oleh Abah Jahari sekitar 1957 dan kemudian dikembangkan secara lebih terstruktur serta diperkenalkan secara luas oleh Abah Rahman pada 1976. Pada periode tersebut, nama Mande Macan Guling mulai dibedakan dari Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir atau TTKKDH. Perkembangan tersebut kemudian berlanjut hingga Mande Macan Guling dikenal di sejumlah wilayah di luar Banten.
Dalam perkembangannya, pencak silat juga memiliki unsur seni yang kemudian dikenal melalui ibing penca. Bentuk tersebut memadukan gerakan pencak dengan unsur pertunjukan dan menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat di wilayah Pasundan. Cimande menjadi salah satu aliran yang berperan dalam perkembangan ibing penca tersebut. Keberadaan Cimande menunjukkan bahwa pencak silat memiliki hubungan yang kuat dengan sejarah dan kebudayaan masyarakat Jawa Barat. Selain kesenian, Mande Macan Guling juga mempertahankan tradisi keceran yang menjadi bagian dari warisan Cimande di Banten.
Keceran merupakan tradisi yang dilakukan secara turun-temurun dan rutin dilaksanakan setiap tahun, tepatnya pada minggu terakhir bulan Maulud. Dalam pelaksanaannya, air diteteskan ke mata sebagai bagian dari ritual. Dalam pemberitaan mengenai tradisi tersebut, keceran dimaknai sebagai simbol untuk membersihkan batin dan pandangan. Bagi Mande Macan Guling, keceran menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus bagian dari upaya mempertahankan tradisi. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antara anggota peguron, perguruan lain, dan masyarakat.
Pewarisan juga berlangsung melalui proses belajar antara guru dan murid. Di lingkungan perguruan, generasi muda mempelajari gerakan pencak silat sekaligus mengenal tradisi yang menyertainya. Proses tersebut membuat pengetahuan dan praktik Cimande dapat terus diteruskan kepada generasi berikutnya.
Keberadaan Mande Macan Guling menunjukkan bahwa pelestarian Cimande berlangsung melalui praktik yang terus dijalankan. Latihan pencak silat, pertunjukan ibing penca, dan tradisi keceran menjadi bagian dari proses tersebut. Pewarisan dari guru kepada murid juga membuat pengetahuan, gerakan, dan tradisi Cimande dapat terus dikenal oleh generasi berikutnya. Dengan demikian, Cimande tetap hadir sebagai bagian dari praktik budaya masyarakat, bukan hanya sebagai catatan sejarah.
Penulis: Nadindra Safa
Editor: Angeli Ramadhani