Badak Jawa Kini Hanya Hidup di Banten, Lalu Mengapa Namanya Tetap “Jawa”?

Sumber: Kementrian Kehutanan

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan salah satu mamalia besar paling langka di dunia yang kini hanya ditemukan di alam liar Indonesia. Dahulu, spesies ini memiliki persebaran yang sangat luas, membentang dari India bagian timur, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Semenanjung Malaya, hingga Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Kini, seluruh populasi Badak Jawa yang tersisa hanya hidup di Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Keberadaan Badak Jawa di Ujung Kulon telah tercatat sejak masa kolonial Belanda. Setelah letusan Gunung Krakatau pada 1883 mengubah bentang alam di kawasan Selat Sunda, Semenanjung Ujung Kulon menjadi kawasan dengan aktivitas manusia yang sangat terbatas. Kondisi ini memungkinkan ekosistem hutan pulih dan menjadi habitat yang aman bagi berbagai satwa liar, termasuk Badak Jawa. Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan satwa, pemerintah kolonial menetapkan Ujung Kulon sebagai kawasan konservasi pada awal abad ke-20. 

Status perlindungan kawasan tersebut terus diperkuat hingga ditetapkan sebagai Taman Nasional Ujung Kulon, yang kemudian diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 1992. Di tengah upaya konservasi yang terus dilakukan, Badak Jawa tidak hanya dikenal sebagai satwa yang dilindungi, tetapi juga menjadi identitas yang melekat pada Provinsi Banten. Sosoknya hadir dalam berbagai media promosi, maskot kegiatan, hingga identitas sejumlah instansi. Namun, di balik kedekatan tersebut muncul sebuah pertanyaan yang masih sering terdengar, mengapa satwa itu disebut Badak Jawa, padahal satu-satunya habitat alaminya kini berada di Provinsi Banten?

Penamaan Badak Jawa tidak didasarkan pada pembagian wilayah administratif seperti saat ini. Nama tersebut berasal dari sejarah persebaran spesies ini ketika pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada abad ke-19. Pada masa itu, badak tersebut masih banyak ditemukan di Pulau Jawa sehingga dikenal secara internasional sebagai Javan rhinoceros atau Badak Jawa.

Sementara itu, Provinsi Banten sendiri baru resmi berdiri pada tahun 2000 sebagai hasil pemekaran dari Provinsi Jawa Barat. Ketika nama “Badak Jawa” digunakan dalam literatur ilmiah, wilayah Ujung Kulon belum menjadi bagian dari Provinsi Banten sebagaimana sekarang.

Dalam ilmu taksonomi, nama suatu spesies bersifat tetap dan tidak berubah mengikuti perkembangan wilayah administratif. Oleh karena itu, meskipun seluruh populasi Badak Jawa kini berada di Provinsi Banten, nama satwa tersebut tetap dipertahankan sebagai identitas ilmiahnya.

Bertahannya Badak Jawa di Banten bukanlah sebuah kebetulan. Ujung Kulon memiliki karakteristik ekosistem yang relatif utuh, mulai dari hutan hujan tropis dataran rendah, sumber air yang melimpah, hingga vegetasi yang menjadi pakan alami badak.

Selain kondisi alam yang mendukung, perlindungan kawasan konservasi selama lebih dari satu abad menjadi faktor penting yang memungkinkan spesies ini tetap bertahan. Berbagai upaya konservasi terus dilakukan, mulai dari patroli kawasan, pemantauan menggunakan kamera jebak, penelitian populasi, hingga pengendalian tumbuhan langkap (Arenga obtusifolia) yang pertumbuhannya dapat menghambat ketersediaan pakan alami Badak Jawa. 

Keberadaan habitat alami yang masih terjaga menjadikan Ujung Kulon sebagai benteng terakhir bagi kelangsungan hidup spesies ini.

Bagi Banten, Badak Jawa bukan sekadar satwa langka, tetapi juga representasi identitas daerah. Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki satwa ikonik dengan nilai konservasi setinggi Badak Jawa. Karena itu, Pemerintah Provinsi Banten menjadikannya sebagai salah satu simbol kekayaan alam dan karakter wilayah. 

Sumber: Jatimnet.com

Pemilihan Badak Jawa sebagai simbol juga menjadi pengingat bahwa Banten memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga satu-satunya populasi spesies ini yang masih tersisa di dunia. Identitas tersebut tidak hanya mencerminkan kebanggaan daerah, tetapi juga komitmen terhadap pelestarian keanekaragaman hayati.

Di balik statusnya sebagai simbol, Badak Jawa menyimpan pesan yang jauh lebih besar. Ia menjadi bukti bahwa Banten merupakan rumah bagi satu-satunya populasi liar Badak Jawa yang masih bertahan di dunia. Selama Badak Jawa masih bertahan di Ujung Kulon, selama itu pula Banten memegang peran penting dalam memastikan warisan alam tersebut tetap hidup bagi generasi mendatang.

Penulis: Sandrina DestryantiE

ditor: Angeli Ramadhani